Sunday, November 22, 2015

FOLKS LIKE US [TIPS PENOKOHAN DALAM NOVEL]


by : WINDRY RAMADHINA

Saya ingin bercerita tentang penokohan. Seringkali, kita menemukan tokoh-tokoh yang, well, klise dalam sebuah novel. Banyak penulis, semoga saya tidak termasuk, kesulitan menghadirkan sebuah tokoh yang utuh, yang terasa nyata dan mampu melekat dalam benak pembaca untuk waktu yang lama.

Seorang penulis harus mengenal karakternya dengan mendalam. Bayangkanlah karakter-karakter kita hidup, seperti kita. Mereka punya suara yang khas, cara berpikir, dan nilai-nilai yang ditentukan oleh hal-hal yang mereka alami dalam hidup. Dan, semua itu akan menentukan perbuatan mereka, seperti apa mereka bereaksi terhadap suatu masalah, dan bagaimana mereka menyelesaikannya (atau apakah mereka memang akan menyelesaikannya).

                Kita bisa meminjam orang di sekitar kita untuk dijadikan tokoh. Saya pernah melakukannya saat menulis Montase. Teman-teman Rayyi (si tokoh) sesungguhnya adalah teman-teman saya di kehidupan nyata.

Cara itu jauh lebih mudah daripada kita menciptakan tokoh yang sama sekali baru, tetapi tidak setiap saat kita bisa menemukan model nyata yang pas untuk cerita kita. Jadi, seringnya, kita harus mengembangkan tokoh kita dari nol.


                Ada beberapa panduan sederhana untuk mengembangkan tokoh dalam novel. Saya telah mempraktikkan ini dan ingin menyarankannya kepada teman-teman.

Pertama. Deskripsikan ciri fisik tokoh kita secara detail. Tinggi dan berat badan, gaya rambut, bentuk tubuh, postur (bagaimana cara dia berdiri, duduk, melangkah, dll), warna kulit, warna rambut, warna mata, bentuk hidung, suara, dan seterusnya.

Catat juga apabila dia memiliki tanda lahir, bekas luka yang tidak bisa hilang seperti bekas jahitan yang dia dapat ketika umur tujuh tahun. Bagian tubuh mana dari dirinya sendiri yang dia sukai, bagian mana yang dia tidak sukai. Berikan alasan.

Kedua. Deskripsikan ekspresi-ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang sering ditampilkan tokoh kita. Apakah dia punya gerak-gerik khusus yang menjadi kebiasaannya, seperti mengusap-usap tengkuknya saat gugup atau mengetuk-ngetuk lutut dengan jemari saat merasa bosan.

Samuel Hardi, misalnya. Tokoh dalam novel terbaru saya (Last Forever) ini menghadapi seseorang dengan raut muka datar dan dagu yang sedikit terangkat. Dia menanggapi perkataan orang itu hanya dengan gerakan alis, atau dengan menaikkan ujung bibirnya dengan niat mencemooh, atau melengos jika tidak ingin mendengar lebih banyak.

Haru Enomoto (Montase), senang memanyunkan mulut dan menggembungkan salah satu pipinya saat sedang bingung. Dia juga kerap memiringkan kepalanya ke satu sisi sambil tersenyum lebar sekali sampai biji matanya tidak terlihat, seperti bonekan kokeshi yang lehernya patah.

          Ketiga. Deskripsikan isi lemari pakaian tokoh kita (pakaian, sepatu, tas, aksesori). Penualis harus tahu persis apa-apa saja yang biasa tokohnya kenakan. Apa pakaian kesukannya, sepatu kesukaannya, tas yang dijinjingnya. Bagaimana dia bergaya dalam situasi tertentu--pesta, misalkan.

Bahkan, penulis harus tahu brand yang karakternya pakai, di mana pakaian-pakaian itu dibeli, berapa kisaran harganya, apakah dia memang sanggup membeli itu atau itu barang palsu. Kesan apa yang ingin ditampilkan lewat itu. Apakah dia glamor, chic, kasual, rapi, kuno, feminim, maskulin, metroseksual, dll.

Lana Hart (Last Forever) paling suka memakai kemeja tanpa lengan warna biru pupus dan putih, dipadukan dengan celana safari krem yang pendek dan sepatu bot semata kaki. Rambutnya dikucir kuda. Dia selalu membawa-bawa koper kecil berbahan kulit yang penuh stiker perjalanan dan ras kamera tua. Penampilannya memberi kesan dewasa, santai, tetapi tetap menarik.

Keempat. Deskripsikan properti apa saja yang dimiliki tokoh kita. Apakah dia punya rumah atau mengontrak atau menumpang? Di mana? Bagaimana dia mendapatkannya? Seperti apa tempat yang dia tinggali, seluas apa, bagaimana lingkungan dan tetangganya. Apa dia punya kendaraan? Motor, mobil, atau sepeda? Apa tipe, warna, dan brand kendaraan itu (atau malah kalau bisa keluaran tahun berapa)? Apa dia punya aset seperti perusahaan, tanah, emas, dll.

Di Last Forever, Lana digambarkan memiliki apartemen di Washington, tidak jauh dari kantor pusat National Geographic, tempat dia bekerja. Apartemennya berantakan, penuh barang-barang yang dia dapatkan dari hasil perjalanannya ke kota-kota terpencil di pelosok dunia: tembikar, kain bercorak tradisional, pipa isap Indian, dll. Hanya dapurnya yang rapi karena dia jarang menggunakan ruangan itu.

Sementara itu, Samuel tinggal dalam rumah luas yang bernuansa modern dan nyaris monokrom (didominasi warna hitam dan abu-abu). Satu-satunya warna adalah cokelat dari sofa kulit dan lantai kayu. Perabot-perabotnya didesain secara khusus dan ditata sedemikian rupa agar apik. Dia memiliki kolam renang dan perpustakaan film. Ruang duduknya dihiasi kamera-kamera tua yang dia gunakan di awal karier.

Samuel seorang sineas dokumenter. Dia membangun studio film sendiri bernama Hardi saat usianya masih dua puluh empat tahun. Studionya bekerja sama dengan National Geographic. Letaknya di Cilandak, tidak jauh dari rumahnya.

Kelima. Deskripsikan barang-barang yang dimiliki tokoh kita, termasuk benda-benda kenangan yang dia simpan secara khusus. Dalam Memori, novel saya yang lain, Simon memiliki sketsa usang yang mempertemukan dia dengan Mahoni. Dalam Orange, Faye memiliki kamera kesayangan Nikon F5, Diyan memiliki ponsel berisi nomer telepon Rera dan kumpulan foto Paris di kamarnya. Dalam Metropolis, Johan memiliki banyak CD Nouvelle Vague.             

Keenam. Deskripsikan ketertarikan dan hobi tokoh kita. Apakah dia penggila fotografi, penyuka acara dokumenter Mega Structures, atau penggemar Frank O Gehry. Apa musik, film, buku, makanan, minuman kesukaannya? Apakah dia memilih Jazz atau Rock? Ethan Hawk atau Brad Pitt? Film roman atau komedi? Junkfood atau salad? Kopi atau teh? Jus atau soda? Apa yang dia lakukan di waktu luang? Apa hobinya? Apakah dia punya hobi yang kini telah dia tinggalkan? Banyak sekali yang bisa kita gali dalam hal ini.

Gilang (London: Angel), penggila buku. Dia juga penulis. Idolanya adalah F. Scott Fitzgerald. Dia sampai menamakan situsnya Fitzgerald dan Sebotol Wiski. Dia juga memasang foto F. Scott Fitzgerald di profil Facebook kepunyaannya. Terkadang, pada Hari Sabtu, dia berkumpul dengan teman-temannya di sebuah pub bernama Bureau. Mereka akan minum Jack Daniel’s sepuasnya selama dua jam.

Ketujuh. Deskripsikan sifat dan kepribadian tokoh kita. Melankolis, plegmatis, koleris, atau sanguinis? Introvert atau extrovert? Pemalu atau pandai bergaul? Senang bercanda atau serius? Cermat atau ceroboh? Penakut atau pemberani? Feminim atau tomboi? Cerewet atau pendiam? Cuek atau sensitif? Pemarah atau sabar?

Di Last Forever, Samuel melankolis dan koleris, Lana sangunis dan koleris. Samuel penuh perhitungan dan selalu merencanakan sesuatu. Lana justru spontan. Dia menyukai kejutan. Samuel penggerutu. Lana jail dan senang memancing kemarahan Samuel. Tetapi, keduanya ekspresif dalam menunjukkan ketertarikan satu sama lain.

Sediakan waktu yang cukup banyak untuk mendalami kepribadiannya. Ini hal penting yang akan berpengaruh kepada tingkah lakunya, keputusan yang dia ambil, tindakannya, dan ujung-ujungnya jalan cerita. Karena, saya percaya, karakter lah yang menentukan arah cerita kita. Bukan penulis. Konflik semata-mata adalah perbenturan karakter dengan karakter, kepentingan dengan kepentingan.

            Terakhir. Ceritakan perjalanan hidup tokoh kita sebanyak beberapa halaman, dari dia lahir hingga titik yang diinginkan dalam kisah. Fokus kepada hal-hal penting yang dia alami, yang menentukan arah hidupnya.

Itu adalah delapan poin yang selalu saya gali untuk tokoh-tokoh novel saya. Biasanya, saya menggunakan sebuah buku tulis khusus untuk pendalaman karakter tokoh-tokoh tersebut dan menyertakan sketsa wajah dan tubuh.

Barangkali tidak semua informasi di atas akan terpakai dalam novel, tetapi percaya kepada saya, semua itu tidak akan sia-sia. Semakin banyak informasi yang kita miliki, semakin kuat tokoh dalam novel kita. Kita pun akan memiliki keterkaitan emosi dengannya.

         Pesan dalam novel kita bisa tersampaikan apabila pembaca memiliki empati kepada tokoh kita. Seperti Johan. Dia jelas-jelas tokoh antagonis, tetapi kebanyakan pembaca Metropolis justru terpikat kepadanya dan sedih ketika tokoh itu berakhir dengan tragis. Dan, empati diawali dari kedekatan antara pembaca dengan tokoh.

Penting juga untuk memilih tokoh yang tepat. Tokoh tertentu hanya cocok untuk konflik tertentu. Saya sendiri selalu memulai dari konflik, lalu semua elemen dalam novel dikembangkan dari hal tersebut. Untuk itu, kita harus mahir menganalisis dan konsisten.

          Nah, selamat mencoba. Ayo, buat tokoh-tokohmu utuh dan kuat!

 Biodata Pemateri :
WINDRY RAMADHINA lahir dan tinggal di Jakarta; pencinta hujan dan masa lalu; senang berjalan tanpa payung di bawah gerimis; berharap bisa terlempar ke Batavia abad kesembilan belas.
Ia menulis fiksi sejak 2007; pernah mengikuti Bengkel Penulisan Novel DKJ dan dua kali dinominasikan dalam Khatulistiwa Literary Award.
Buku-bukunya yang telah terbit adalah Orange (2008), Metropolis (2009), Memori (2012), Montase (2012), London (2013), Interlude (2014), Walking After You (2014), dan Last Forever (2015).
Windry bisa dihubungi lewat e-mail windry.ramadhina@yahoo.com atau blog www.windryramadhina.com

**
Sesi Diskusi

Pertanyaan dari Atria Dewi Sartika  :
Mendeskripsikan tokoh kadang sulit terutama menggambarkan fisiknya. Seperti menyebutkan bahwa tokoh "memiliki mata yang tajam terkesan dingub" apa deskripsi semacam itu cukup? Bagaimana deskripsi yg pas yg tetap membuat pembaca memiliki ruang untuk berimajinasi

Jawaban :
Penulis punya pilihan dalam mendeskripsikan ciri fisik seorang tokoh, secara detail atau tidak. Tergantung apakah kita ingin pembaca memiliki gambaran yang persis sama dengan kita mengenai tokoh tersebut. 

Supaya asyik dibaca, deskripsi fisik bisa disisipkan dalam adegan, atau--misalnya--melalui pengamatan tokoh lain. Libatkan juga subjektifitas pengamat.

Jika tidak ingin terlalu detail, penulis bisa menggunakan perumpamaan. Contoh (dalam novel London): Dia lelaki blasteran Indonesia-Eropa usia tiga puluhan tahun berambut klimis dan berkumis Prancis. Dagunya runcing dan senyumnya yang mengandung muslihat mengingatkan aku pada topeng Guy Fawkes yang dikenakan Hugo Weaving dalam “V for Vendetta”.

Pertanyaan Atria Dewi Sartika :
Hm.. Apakah etis menggambarkan ya menyerupai artis tertentu?
Jawab :
Boleh-boleh saja. Tidak ada masalah dengan hal itu. Tetapi, menurut saya teknik itu paling cocok untuk penceritaan dengan sudut pandang pertama. karena si Aku memiliki referensi-referensi yang subjektif. Di dunia nyata, kita sendiri kerap membandingkan ciri fisik seseorang dengan orang lain (salah satunya, tokoh terkenal).

Pertanyaan dari Hairi Yanti :
Berapa lama waktu yang diperlukan untuk membuat deskripsi karakter sedetail itu? Dalam menulis satu novel, apa hal pertama yang dilakukan mb Windry? Menentukan tema kah? Atau konflik? Atau karakter? Atau semuanya secara bersamaan?

Tentang pemilihan nama, Bagaimana mb Windry menentukan nama tokoh dalam novel2 Mbak Windry? Apakah nama bisa berpengaruh terhadap karakter tokoh tersebut?

Jawab :
Waktu yang saya gunakan untuk mengembangkan karakter biasanya sekitar satu bulan. Pernah juga lebih lama dari itu, untuk karakter-karakter yang sulit saya pahami jalan pikirannya atau yang latar belakangnya tidak familier. Biasanya saya menggunakan notes khusus. Pertama, saya akan menggambar sosok si tokoh, lalu mendeskripsikan sedetail yang saya bisa, lalu berlanjut ke poin-poin lain yang sudah saya sebutkan di artikel.

Seringnya, saya memulai perencanaan novel dari konflik. Berdasarkan konflik, baru saya membentuk elemen-elemen lainnya. Konflik yang nanti akan menentukan tokoh-tokoh yang akan terlibat, set tempat dan waktu, adegan-adegan, alur, dll. Pernah juga saya memulai dari tema (novel Memori). Tema yang dipilih adalah rumah. Lalu, saya mengeksplorasi tema itu untuk menemukan konflik apa yang bisa diangkat.

Cara saya memilih nama macam-macam. Salah satunya, dengan menentukan arti nama yang saya inginkan. Misalnya, dalam novel Interlude, saya mencari nama lelaki yang berarti “laut” untuk memberi hubungan emosi dengan tokoh perempuannya. Pernah saya memilih nama-nama kayu untuk tokoh-tokoh dalam novel Memori.

Nama tokoh juga bisa dipengaruhi latar belakang keluarganya. Seperti Lana Lituhayu Hart. Dia perempuan blasteran Indonesia-Amerika. Ibunya berdarah Jawa. Ayahnya dari New York. Nama Lituhayu itu sendiri berarti “cantik”, imaji yang memang saya inginkan melekat dalam diri Lana.

Penulis bisa menentukan nama sesuai karakter tokoh juga. Atau, coba berpikir sebaliknya. Seringnya, nama adalah doa orangtua. Penulis bisa berpikir seperti orangtua si tokoh. Bagaimana kira-kira orangtua tokoh itu memberi nama anaknya?

Pertanyaan dari Irhayati Harun :
Bagaimana cara menuliskan cara bercerita tiap tokoh? karena setiap tokoh pasti berbeda dalam berkata kata. Tapi saya sering membaca novel dimana dialog tiap tokoh dan gayanya hampir mirip. Apakah dalam cerita harus ada tokoh antagonis? dan berapa besar porsinya bila harus ada dalam novel?

Jawab :
Cara bercerita tokoh lahir dari karakter. Latar belakang tokoh sangat berpengaruh. Usianya, pendidikannya, lingkungan tempat dia dibesarkan atau tinggal, orang-orang yang bersama dengannya, sifatnya, dll. Tokoh-tokoh yang berada dalam satu lingkungan bisa memiliki kesamaan kosa kata. Karena, komunitas cenderung membentuk sesuatu yang homogen. Tetapi, biasanya akan tetap muncul perbedaan walau tidak langsung kentara jika masing-masing tokoh memiliki sifat berbeda. Misalnya, ada yang berbicara secara runut, ada yang berbicara tidak terarah, ada yang meletup-letup, ada yang tenang dan sinis, dll.

Saya sudah lama tidak terpaku pada panduan protagonis-antagonis. Buat saya, konflik adalah benturan kepentingan antara tokoh dengan tokoh atau tokoh dengan situasi. Tanpa perlu membuat tokoh baik dan buruk, jika dua karakter tidak sejalan, dengan sendirinya akan muncul cerita. Dan, saya lebih suka meletakkan tokoh-tokoh saya dalam lingkungan abu-abu. Buat saya, mereka sama seperti kita, punya sisi buruk dan baik.

Kalaupun pada akhirnya, harus ada protagonis dan antagonis... tantangan penulis adalah menciptakan protagonis yang bisa membuat pembaca mempertanyakan keputusan-keputusannnya dan menciptakan antagonis yang bisa mencuri simpati pembaca.

Pertanyaan dari Shirei Shou :
Saya bingung sama "bagaimana cara dia berdiri, duduk, melangkah, dll"
Ada contohnya? Saya enggak terpikir bagaimana mendiskripsikan cara duduk dan langkah seseorang. Atau memang sengaja dibuat yang 'khas' ?[yang terpikir hanya jalan lurus seperti biasa, tegak dan langkahnya lebar-lebar].

Jawab :
Banyak yang bisa dieksplorasi dari gerak-gerik. Gerak-gerik atau bahasa tubuh lahir dari jiwa dan karakter tokoh. Jika tokoh itu angkuh dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi, misalnya, dia akan berjalan dengan langkah tegas, tenang, dada dibusungkan, dagu sedikit diangkat, sesekali mengerling ke arah sekitar. Mungkin dia akan melipat kedua tangannya di depan dada saat mendengarkan orang lain berbicara, atau dia tidak perlu melihat mata orang itu. Atau, bisa bentuk yang lain. Cobalah menganalisis tokoh tipe ini.

Jika tokoh itu memiliki masa lalu yang buruk dan pernah menjadi korban kekerasan, bisa jadi dia akan cenderung menciutkan tubuhnya. Dia akan sulit membiarkan tangannya bergelantung bebas di kedua sisi tubuh. Karena, dia lebih suka menggunakan tangannya untuk menyembunyikan dirinya, dengan mendekap tasnya mungkin. Dan, dia akan sering menunduk dalam-dalam. Jika melewati orang banyak, dia akan mempercepat langkah, mungkin. Dia duduk menjaga jarak dari orang lain. Dia tersentak hanya karena sesorang yang berada di sebelahnya mengangkat tangan.

Kurang lebih, seperti itu contohnya.

Pertanyaan dari Dian Nafi :
Masih suka ngedesain arsitektur nggak? Gimana membagi waktunya? Terima kasih
Jawab :
Saya masih menjalankan studio desain sampai sekarang (jendelaputih.com). Khusus untuk menulis, saya melakukannya pagi hari, sebelum beraktivitas. Tidak lama, hanya satu-dua jam. Tapi sebisa mungkin rutin setiap hari.

Pertanyaan dari Anne Adzkia Indriani :
Banyak novel yang sudah saya baca dan ada yang menarik tentang karakter ini. Mbak Windry konsisten membawa karakter tersebut dari awal sampai akhir hingga seringkali masih membekas di ingatan saya meski sudah selesai membaca buku. Bagaimana menjaga konsistensi karakter tersebut, supaya tidak saling memengaruhi?

Berapa lama mbak Windry menyelesaikan satu novel, krn menurut saya lamanya menulis berpengaruh pada konsistensi juga, penulis tidak lupa atau kehilangan feelnya? Apakah saat menulis novel mbak Windry menyambi dengan menulis yang lain atau fokus menulis satu novel sampai selesai?

Jawab :
Sebagai penulis, saya berusaha memahami semua tokoh, termasuk yang peranannya kecil. Dengan begitu, saya berharap bisa selalu menghadirkan mereka sebagai diri mereka secara konsisten. Konsistensi ini harus dicek secara berkala, mulai dari proses penulisan sampai editing, agar tokoh tidak keluar dari karakter mereka.

Lama penulis novel saya bermacam-macam, sih. Dari yang tercepat, Montase, tiga bulan. Sampai yang terlama, Walking After You, dua tahun. Tergantung kerumitan cerita. Biasanya, saya menulis satu novel dalam satu waktu agar tetap fokus dan maksimal. Saya jarang menulis novel-novel bersamaan, kecuali memang butuh melakukan itu. Saat menulis Memori, saya sengaja menyambi menulis Montase untuk memastikan dua suara pencerita di dua novel itu berbeda. Tetapi, hanya satu kali itu saja.


Pertanyaan dari Naqiyyah Syam :
Kalau riset soal profesi tokoh diluar yang mbk kuasai, bagaimana caranya, mbk? Apakah nanya ke teman dg profesi yang ditulis atau cari tau di internet aja? Lalu, apa aja bacaan pendamping mbak dalam menulis novel yang sedang digarap? terima kasih

Jawab :
Saat saya menulis novel dengan tokoh yang profesinya tidak familier, saya harus riset. Bentuk risetnya macam-macam. Yang paling mudah memang lewat internet. Tetapi, untuk memahami gaya hidup, pola pikir, filosofi, dan karakter, penulis perlu melakukan pengamatan dan wawancara langsung. Kalau memang memungkinkan, saya mencari narasumber dan meminta waktu untuk bertemu. Hasilnya akan jauh lebih solid kalau dibandingkan dengan riset melalui internet.

Saat ini, saya sedang membaca buku-buku yang berhubungan dengan seni keramik. Saya juga menemui beberapa seniman, terutama seniman keramik yang karyanya menurut saya mewakili tokoh dalam novel saya.

Pertanyaan dari Ade Delina Putri :
Idealnya dalam cerita fiksi aka novel harus berapa tokoh yang diciptakan? Sebab saya pernah membaca sebuah novel lokal yang tokohnya sangat banyak. Dan itu semua digambarkan secara jelas. Hal itu justru membosankan bagi saya, bahkan saya tidak ingat watak" tokohnya karena saking banyaknya.
Yang kedua, riset seperti apa yang dilakukan mbak Windry hingga setiap novel yang mbak tulis selalu jelas da n detail sampai pembaca bisa turut hanyut dalam ceritanya.

Jawab :
Tidak ada aturan baku mengenai jumlah tokoh dalam sebuah novel. Novel dengan tokoh yang banyak bisa bagus, sama halnya dengan novel dengan tokoh yang sedikit. Bukan masalah banyak atau sedikit. Tetapi, lebih ke masalah komposisi.

Yang perlu dipahami adalah tokoh dalam novel memiliki tingkat peranan. Ada yang utama, ada yang sifatnya pendamping, ada yang—sebut saja—penggembira. Penulis harus mahir-mahir mengatur komposisi tokoh dalam novelnya. Informasi dan keutuhan tokoh harus sesuai dengan peranan. Jangan biarkan mereka berebut perhatian.

Dan, jangan sampai keberadaan tokoh-tokoh itu diada-adakan. Pastikan tokoh-tokoh itu memang dibutuhkan dan keberadaannya tidak bisa digantikan. Jika tokoh itu hilang dan cerita tetap berjalan seperti semula, berarti keberadaannya tidak penting.

Mengenai riset, saya melakukan sebanyak yang saya bisa. Dari buku, internet, wawancara, sampai pengamatan. Selama saya masih membutuhkan informasi untuk menulis, pasti saya akan tetap melakukan riset. Terkadang, proses riset ini berjalan bersamaan dengan proses menulis.

Pertanyaan dari Binta Almamba :
Di beberapa novel (kadang baca draf tulisan sendiri :D) kadang sy mrasa suka bosan sendiri klo baca novel deskripsi tokoh trlalu detil gitu... Hmm gimana caranya deskripsi detil dan terkesan hidup tp nggak membosankan?

Jawab :
Cara paling mudah, sisipkan deskripsi dalam adegan. Misalnya, si tokoh lagi malas-malasan di kamar, lalu tiba-tiba gadis yang disukainya mengajak video-conference. Pastinya si tokoh antara senang dan tegang. Lalu, dia memeriksa penampilannya. Penulis bisa memberikan deskripsi di bagian ini. Hasilnya akan lebih dimanis. Masukkan subjektivitas dan kaitan emosi, agar semakin hidup.

Si tokoh jengkel saat menyadari jenggotnya belum dicukur, rambutnya berantakan dan sedang sulit diatur, warna kausnya tidak jelas. Buat juga si tokoh kalang kabut karena ternyata di lemari pakaiannya tidak ada baju bersih, misalnya. Lemari pakaiannya seperti rak toko setelah obral besar. Si tokoh meringis menemukan tumpukan baju kotor di sudut kamar yang lupa dibawa ke penatu. Dari rangkaian sederhana ini, penulis sudah bisa memasukkan banyak info secara "halus" untuk pembaca. Dari ciri fisik tokoh, sifat, kebiasaannya, sampai situasi kamarnya.

Pertanyaan dari Shirei Shou :
Saya pernah mendapatkan masukan tentang novel saya di wattpad. Katanya "Tokoh yang saya buat terlalu komikal."
Saat saya tanya komikal itu seperti apa? Hanya dijawab "Ya seperti tokohmu itu."
Trus saya bingung jadinya. Lalu bagaimana supaya tidak ada kesan komik di dalam novel saya. Apa kesukaan saya terhadap komik memengaruhi cara saya merancang tokoh?

Jawab : 
Semua hal yang kita baca pastinya akan berpengaruh terhadap kreativitas kita. Tokoh-tokoh komik seringkali tidak dekat dengan kenyataan dan memiliki gerak-gerik yang berlebihan. Untuk melepaskan diri dari tokoh-tokoh yang cenderung komikal, saran saya, setop membaca komik dulu. Atau, paling tidak, kurangi secara drastis. Ganti bacaanmu. Pilih yang genrenya berbeda jauh dengan komik, seperti novel sastra yang cenderung realis dan membumi. Kalau bisa, baca sebanyak mungkin genre. Dengan begini, pengetahuan kamu mengenai ragam tokoh akan berkembang, tidak melulu komikal.

Pertanyaan dari Linda Satibi :
1. Bagaimana cara menjaga chemistry dgn tokoh2 ciptaan kita?
2. Apakah pernah mengalami, dlm proses penulisan novel, karakter tokoh menuntun pd ending yg berbeda dgn outline yg tlh dibuat?
3. Ini tdk terkait langsung dgn materi. Tapi sbg fans Windry, saya pingin tau jg, buku yg paling larisnya brapa kali cetak ulang?

Jawab :
Untuk pertanyaan pertama, sebelum menjawab, saya perlu memperjelas dulu: apakah yang dimaksud adalah hubungan penulis dengan tokoh atau hubungan antartokoh yang dibuat penulis?

Untuk pertanyaan kedua, dalam penulisan novel, karakter saya jarang berselisih dengan outline, termasuk membelokkan akhir cerita. Karena, seringnya, saat saya menyusun outline (plotting), ide cerita dan penokohan sudah dibuat utuh. Pastinya ada tarik-ulur saat pengembangan ide cerita dan penokohan. Penulis tidak bisa memaksakan cerita ke tokoh. Tetapi, penulis bisa menganalisis, bagaimana cerita bergulir jika dia memakai tokoh tersebut. Karena itu, penting untuk memilih tokoh yang tepat dan sesuai dengan ide yang ingin disampaikan.

Untuk pertanyaan ketiga, Montase dan London. Jumlah cetaknya, saya tidak terlalu hafal.

Pertanyaan dari Linda Satibi :
Pertanyaan pertama itu, antara penulis dan tokohnya.
Jawab :
Biasanya, saya berusaha memahami dan jatuh hati kepada tokoh-tokoh saya. Semua tokoh, tidak hanya tokoh utama. Dengan begitu, saya punya keterkaitan dengan tokoh tersebut. Saya mudah berempati kepadanya dan proses penulisannya pun menjadi menyenangkan. Di awal penokohan pun, saya selalu memilih tokoh-tokoh dengan karakter yang saya sukai. Percuma memaksakan diri berhubungan dengan tokoh yang karakternya kita benci.

Pertanyaan dari Dwi Aprilytanti Handayani :
                Mbak Windry Ramadhina kalau misalnya ide cerita terinspirasi dari kisah nyata teman dekat apakah perlu meminta izin. Dan bagaimana tanggapan mbak Windry jika tema tersebut merasa keberatan dengan penokohan meski sebelumnya telah memberikan izin.

Jawab :
Saya akan lebih leluasa menulis novel yang idenya diambil dari pengalaman teman jika sudah mendapat izin dari yang bersangkutan. Tentunya, saat mendapat izin, kita perlu memperjelas sejauh mana kita boleh mengembangkan ceritanya. Kita perlu memberi tahu yang bersangkutan, sejauh mana kita akan mengekspos cerita tersebut atau apakah kita akan mengubah cerita. Jadi, proses penulisan bisa berjalan lancar dan tidak ada yang merasa dirugikan.

Pertanyaan dari Ratna Hana Matsura :
1. Bagaimana menghidupkan karakter dari percakapan si tokoh, Mbak?
2. Kadang dalam menulis hampir usaha dilakuan, membuat daftar ciri-ciri fisik tokoh, kebiasaan dan sikap tokoh. Tapi entah kenapa tokoh masih terasa belum kuat dan terkesan hanya masih suka terpengaruh atau saling tindih dengan tokoh lain. Itu bagiamana mengatasinya?

Jawab :
Untuk menghidupkan karakter tokoh lewat perkataannya, masukkan kepribadiannya ke dialog dan ke caranya mengucapkan dialog. Setiap tokoh punya gaya dan kata-kata sendiri. Perhatikan saja orang-orang di sekeliling kita. Bagaimana mereka menyapa kita pasti berbeda-beda. Bagaimana mereka menanggapi suatu masalah juga berbeda. Ada yang bersemangat. Ada yang tidak peduli. Ada yang memilih diam. Ada yang optimis. Ada yang pesimis.

Jika karakter tokoh belum tercermin dalam tulisan, barangkali penulis belum cukup detail mengembangkan tokoh itu. Tokoh tidak utuh. Penulis tidak punya cukup banyak informasi untuk dimasukkan ke dalam adegan, dialog, deskripsi. Atau, bisa jadi, penulis bahkan tidak cukup memahami kepribadian tokoh itu. Maka, dia hanya bisa menampilkan tokohnya secara umum.

Cara mengatasinya, penulis harus kembali ke penokohan. Gali informasi lagi dari si tokoh, kembangkan dia sampai utuh dan terasa nyata. Penulis juga harus taktis dalam mengatur komposisi tokoh-tokoh di novelnya. Jangan memakai tokoh-tokoh dengan karakter yang mirip. Pilih yang berbeda jauh, atau kalau perlu bertolak belakang.

Pertanyaan dari Leilaneranti Arsyana :
Bagaimana cara paling sederhana mengatur emosi pribadi penulis, agar tidak ikut mempengaruhi pandangan/cara bertindak tokoh dalam naskah?

Jawab :
Jika mengenal karakter tokoh kita dengan baik, kita bisa membedakannya dengan karakter diri kita sendiri. Sehingga kita bisa memastikan apakah emosi, tindakan, dialog yang kita tulis merupakan milik kita atau milik tokoh. Untuk menjaga kepribadian kita dengan tokoh tidak bercampur, usahakan untuk berkonsentrasi saat menulis. Kita harus sadar betul bahwa kita sedang "menjadi" si tokoh. Sesekali, kita perlu memeriksa apakah emosi itu sudah sesuai dengan tokoh. Berlatih seni peran bisa membantu kita terbiasa "menjadi" seseorang yang bukan diri kita.

Pertanyaan dari Eni Lestari :
Gimana cara bikin tokoh yg manusiawi? soalnya pernah bikin cerita katanya tokohnya too good to be true. apa harus tokoh yg kita ciptakan dikasih 'cela', jadi keliatan manusiawi? makasih jawabannya

Jawab :
Tokoh yang manusiawi ya harus seperti manusia. Dan, pada dasarnya, manusia tidak sempurna. Punya kelebihan dan kekurangan. Saya paling senang menghadirkan tokoh yang tidak sempurna, yang bisa membuat kita jengkel, gemas, kecewa, atau bahkanmarah. Kelemahan-kelemahan itulah yang bisa menimbulkan konflik, yang lantas kita olah dalam cerita, lalu di sepanjang kisah tokoh kita akan berkembang perlahan-lahan menjadi seseorang yang lebih baik, yang berhasil keluar dari keburukan-keburukannya, sehingga pembaca tersenyum di lembar terakhir. Lagi pula, ada yang manis dalam kelemahan, ada yang membuat kita sayang. Cobalah untuk memandang kelemahan sebagai sesuatu yang bisa menghubungkan tokoh kita dengan pembaca.

Pertanyaan dari Annisa Azzahra :
1. Bagaimana menjaga agar penokohan tetap konsisten dari awal cerita hingga akhir? Pada cerpen yang alurnya pendek saja kadang saya suka kurang konsisten dalam memberikan penokohan, apalagi dalam penulisan novel yang jelas alur lebih panjang dan bisa melebar.
2. Tips dan trik apa yang dipakai Kakak dalam menguatkan penokohan pada setiap tokoh sehingga banyaknya tokoh di satu atau lebih buku jarang atau tidak ada sama sekali karakter yang sama?
3. Bagaimana cara agar kita lebih peka pada sekitar, sehingga penokohan yang kita buat akan benar-benar hidup dan kuat?

Jawab :
Agar konsisten dalam penokohan di sepanjang proses penulisan, kita harus disiplin dan setia pada panduan yang telah kita buat sebelumnya. Sebelum menulis, saya selalu merancang setiap elemen (termasuk tokoh). Rancangan ini adalah panduan. Semakin detail rancangan kita, semakin mudah kita mengikutinya.

Sebagian besar trik sudah saya sebutkan di artikel. Saya mengembangkan semua tokoh saya dengan cara tersebut. Dengan menciptakan detail-detail, kita bisa lebih mudah membedakan karakter yang satu dengan yang lain. Kita diarahkan untuk menciptakan perbedaan tersebut. Tokoh-tokoh kita pun bisa lebih beragam.

Biasakan diri untuk mengobservasi dan menganalisis orang-orang di sekitar kita. Setiap gerakan, kata-kata, perbuatan, pemikiran seseorang memiliki dasar dan alasan. Semua itu ditentukan oleh kepribadian, latar belakang, ideologi, dll. Lama kelamaan kita akan memahaminya dan mahir melihat sesuatu di balik perilaku seseorang.

Pertanyaan dari Djuni Yadi :
Bolehkah kita buat dulu kerangkanya ato sinopsisnya dulu agar nanti novel yang kita buat lebih terstruktur?Mengingat saya orangnya moody banget, trus penokohan itu xbisa berubah karakter di tengah cerita? Berapa waktu yang baik dalam menulis novel, saya coba buat gak pernah sampe selesai, kadang malah jadi males meneruskan, kadang sampe hilang filenya

Jawab :
Begini biasanya proses perencanaan novel saya.
Pertama, saya menentukan konflik, lalu mengembangkannya menjadi sinopsis singkat dengan memusatkan pada apa yang mengawali cerita, apa yang menjadi masalah, dan bagaimana penyelesaiannya.

Lalu, saya menentukan (biasanya lewat analisis) tokoh yang pas untuk cerita dan mengembangkannya. (Dalam waktu yang bersamaan, saya menentukan pula set waktu dan lokasi). Setelah itu, saya kembali ke sinopsis, memeriksa apakah tokoh dan cerita sudah sesuai, apakah hubungan sebab-akibatnya telah tepat. Karena, cerita dijalankan oleh tokoh. Penulis bisa menganalisis bagaimana jalan cerita yang bisa terjadi pada tokoh tertentu, tetapi tidak bisa memaksakannya.

Setelah penokohan dan pengembangan cerita beres, baru saya masuk ke plotting (pembuatan outline). Di sini, saya memikirkan cerita secara lebih detail, mengatur alur, pembagian bab, adegan, dan bagaimana memberikan informasi-informasi dalam cerita kepada pembaca secara bertahap.

Lama waktu pembuatan novel tidak bisa ditentukan. Itu tergantung ide kita. Ada yang menulis novel hanya dalam satu bulan, ada yang butuh belasan tahun. Tidak masalah. Yang penting selesai grin emoticon. Agar hubungan kita dengan novel tidak terputus, jangan meninggalkannya untuk waktu yang lama. Tetap bersentuhan dengan naskah (walaupun sekadar membaca yang telah kita tulis) akan menjaga rasa kita terhadap naskah tersebut.

Pertanyaan dari Eni Martini :
Buku apa yang menjadi favoritmu, Win? Setidaknya yang sangat mempengaruhi karyamu? Kedua sepenting apa adegan mesra secara fisik ada dalam novel roman? Ketiga. Bagaimana kamu mendapat segala deskrip mulai lokasi,dll di novelmu dengan begituuu detil?

Jawab :
Buku-buku yang paling berpengaruh terhadap tulisanku barangkali adalah karya-karya Ichikawa Takuji (Be With You) dan Naoki Urasawa (Monster, 20th Century Boys). Apa yang ingin kuceritakan, bagaimana menceritakannya, seperti apa nuansanya, siapa tokoh-tokohnya, dll.

Mengenai interaksi fisik dalam novel romance, kurasa ini sangat tergantung dari nuansa cerita yang ingin diangkat si penulis sendiri. Setiap penulis punya preferensi dan batasan masing-masing. Yang penting bukan seintim apa interaksi fisik itu, melainkan apakah interaksi itu bisa menghubungkan emosi para tokoh, apakah interaksi itu memiliki arti yang dalam.

Interaksi yang tidak melibatkan fisik pun bisa melakukan tugas yang sama. Kata-kata, misalnya. Jadi, itu kembali kepada si penulis.

Pertanyaan dari Endang Indri Astuti :
Mau tanya mengkarakterkan tokoh lebih mudah dengan narasi atau dialog?
Jawab :
Keduanya. Lewat narasi, kita bisa menggambarkan perilaku tokoh, gerak-geriknya, latar belakangnya, dunianya. Lewat dialog, kita bisa mengekspresikan perasaan tokoh, pemikirannya, ideologinya, nilai-nilai yang dianutnya.

*end*


10 comments:

  1. Gimana cara gabung menjadi anggota Be a Writter ?? mohon informasinya, terima kasih :) Magfirahnirma@gmail.com

    ReplyDelete
  2. tips nya bisa buat jadi bahan pertimbangan agar semua org bisa jadi seorang penulis novel.. mantabbbbbb

    ReplyDelete
  3. salam kenal dari Dua Backpacker , backpackernya sih masih 1, yang satu lagi masih dalam proses pencarian :)


    www.duabackpacker.com

    ReplyDelete
  4. Dulu pas SMA sering ikut lomba ceprn fiksi mbak... tapi karena gak pernah menang jadi ya.. aku mundur aja dari percerpenan dan menjadi content writer seperti ini ^^ makasih mbak tipsnya.. saya sukaaa...

    ReplyDelete
  5. Saya suka sekali menulis, tetapi kadang suka bingung kalo lagi menentukan karakter tokoh. Lewat artikel ini, saya jadi sedikit banyak tahu cara mengatasinya. Terimakasih :)

    ReplyDelete
  6. Duuh... komplit banget! Terimakasih ilmunya yaa..:)

    ReplyDelete
  7. gaya penulisannya cakep dah. sy senang bacanya..

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog BaW. Mohon kritik dan komentar yang membangun untuk setiap postingan ;)