Friday, March 25, 2016

Mengintip Perjalanan Hidup Rano Karno-nya Berita Koran

Senyum Dahlan
Semua hasil yang diperoleh dalam kehidupan dibangun dari sebuah proses. Proses yang kadang memakan waktu yang tidak sebentar dan jatuh bangun di dalamnya. Sebuah media cetak yang punya oplah besar dan beredar di banyak kota di tanah air juga ada proses yang membuatnya menjadi besar. Begitupun seseorang yang duduk sebagai pemimpin di sebuah media, ada proses yang dia jalani untuk sampai ke titik tersebut.

Dalam novel Senyum Dahlan diceritakan tentang Saptoto, seorang mahasiswa yang sebenarnya ingin menjadi pembaca berita, tapi ibunya sangat menginginkan dia menjadi wartawan. Dari semua pensiunan di kampung Saptoto, cuma ibunya yang hobi menonton berita dan mengkliping Koran. Ibunya memiliki bundel kliping Koran yang semua kliping itu berkumpul satu tulisan dari seorang Dahlan Iskan. “Dia Rano Karno-nya berita koran, paling tidak bagi ibuku. Aku malah tidak tahu siapa Dahlan Iskan,” kata Saptoto pada Kanday. (Halaman 23)


Kanday adalah sahabat Saptoto karena menuntut ilmu di kampus yang sama. Walaupun kliping Koran itu milik Saptoto, tapi Kanday lah yang memegangnya. Kanday terpesona pada tulisan Dahlan Iskan, “Dia menulisnya hampir dua puluh dua tahun yang lalu, tapi seperti baru kemarin. Tulisannya bisa mengubah cara pandang pembaca. Menjadi manusiawi.” (Halaman 26)

Tulisan Dahlan Iskan yang berjudul Neraka 40 Jam di Tengah Laut yang bercerita tentang tenggelamnya Kapal Tampomas II seolah mendobrak pemberitaan yang selama ini ada. Tulisannya menjadi pelopor jurnalistik investigasi di Indonesia. Saat itu hanya Dahlan Iskan satu-satunya wartawan yang ikut dalam kapal motor yang mengevakuasi korban Tampomas II. Selama tiga hari dia melakukan wawancara, observasi, dan kemudian terbitlah tulisan yang sangat fenomenal yang berjudul Neraka 40 Jam di Tengah Laut.

Perjalanan karier Dahlan Iskan terus berlanjut. Pada tahun 1980an, Eric Samola yang merupakan petinggi Grup Pembangunan Jaya ingin mengakuisisi Koran harian di Surabaya yaitu Jawa Pos yang saat itu merupakan surat kabar kecil dengan tiras hanya 6000 eksemplar. Tapi Eric Samola melihat peluang besar pada Koran tersebut.

Dahlan Iskan yang ditunjuk menjadi pimpinan mencermati 12 halaman Jawa Pos. Dia membuka satu per satu halaman dan seperti membaca berita yang tak bernyawa : cetakan hitam putih, foto satu dua, hampir semua berita dikutip dari Kantor Berita Antara. Saat mencermati Koran tersebut, Dahlan merasakan gejolak mudanya, gejolak kegelisahan untuk melakukan perubahan

Setiap hari Dahlan menunggui proses cetak koran yang dia pimpin. Suatu hari dia sudah ditunggu di percetakan oleh seorang wartawan yang ingin bertanya padanya Bagaimana cara menulis dengan mengalir, ringan, gampang dimengerti, mencerdaskan dan menghibur. Dahlan pun memaparkan rukun iman jurnalistik bagi wartawan. Rukun iman yang pertama adalah tokoh, semua peristiwa yang menyangkut tokoh itu layak diberitakan. Dahlan pun terus memaparkan rukun iman jurnalistik lainnya kepada wartawan muda itu sembari membawa wartawan tersebut ke satu tempat.

Tempat berkumpulnya agen koran adalah tempat yang dituju Dahlan bersama wartawan muda tersebut. Dahlan membeli koran di mana wartawan itu bekerja, yang saat itu baru datang dari penerbitan. Dahlan juga bertanya kepada agen koran itu apa yang menarik dari berita media cetak hari itu. Di situ Dahlan mengajarkan kepada wartawannya agar terus menyuguhkan berita yang menarik. “Kalau berita Anda tidak menarik, agen malas menjualnya. Kalau agen malas menjualnya, pengecer sama saja. Kalau sudah begitu, siapa yang mau membeli Koran kita? Jadi wartawan itu harus gelisah dan haus berita yang bagus.” (Halaman 227)

Membaca Senyum Dahlan juga membaca sejarah tentang perkembangan media cetak di Tanah Air. Bagaimana saat Dahlan ingin menerbitkan koran di Kalimantan Timur. Saat itu keinginannya bertentangan dengan Eric Samola. Dahlan mengunjungi Djok Mentaya, pemilik Banjarmasin Post untuk membujuk Eric Samola agar rencananya menerbitkan koran di Kaltim bisa terwujud. Sebelumnya Eric Samola menentang keputusan Dahlan itu.

Pertentangan Dahlan dengan Eric Samola pun tidak berhenti di situ saja. Ada beberapa pertentangan lagi seperti saat Dahlan menghidupkan fanatisme pendukung Persebaya yang menurutnya akan berimbas dengan oplah koran. “Kami ingin membangun kecintaan warga Surabaya terhadap Persebaya. Kebangaan semacam itu bisa sangat luas dampaknya. Sementara dari redaksi kami akan menyuplai berita-berita yang menjawab segala keingintahuan pendukung Persebaya.” (Halaman 245)

Cerita tentang Dahlan Iskan berdampingan dengan cerita Saptoto dan Kanday, dua mahasiswa yang meniti karier menjadi wartawan. Memulai segalanya dari nol dan menjalani jatuh bangun sebagai wartawan. Seperti pertama kali memotret mayat atau mengalami kecaman dan tuntutan karena kloning, yaitu kebiasaan sebagian wartawan yang bertukar berita di lapangan yang tak sempat mereka liput sendirian.

Pihak yang keberatan dengan isi berita menuntut permintaan maaf dari Koran selama satu minggu. Meminta maaf secara terbuka tentu saja hal yang mustahil dilakukan karena itu sama saja menyuruh pembaca untuk tidak membaca Koran itu lagi. Dengan meminta maaf secara terbuka akan membuat pembaca berpikir Koran tersebut akan seenaknya membuat berita, begitu salah dengan mudah meminta maaf. Membaca Senyum Dahlan akan kita temukan ilmu jurnalistik di dalamnya.

***
Data Buku :
Judul               : Senyum Dahlan
Penulis             : Tasaro GK
Penerbit           : Noura Books
Tebal Buku      : 380 Halaman
ISBN               : 978-602-1606-90-2
Tahun Terbit    : Cetakan Ke-1, November 2014

***
Resensi ini menjadi juara kedua resensi terbaik BaW Community tahun 2015. Resensi ditulis oleh Hairi Yanti

4 comments:

Terima kasih telah berkunjung ke blog BaW. Mohon kritik dan komentar yang membangun untuk setiap postingan ;)