Saturday, February 22, 2014

[Author of The Month] Riawani Elyta

 Kembali bertemu dengan Februari ya, Kaka. Kembali bertemu dengan kakamin yang akan memboyong satu penulis ke kursi panas buat ditanya-tanya. Berbagi ilmu juga inspirasi dalam tajuk Author of The Month. Dan kali ini yang terpilih adalah kaka Riawani Elyta. Udah pada kenal kan sama penulis yang karyanya bejibun ini. Yuks, simak wawancara kita dengan beliau.

Halo, Kaka Lyta. Pertama kita mau nanya nih. Apa aja sih karya solo dan duet juga antologi yang udah diterbitin mbak Kak Lyta? 
Jawab :
Halo juga. Novel-novel saya yang sudah terbit :
1. Tarapuccino (duet dengan Rika Y. Sari,2009)
2. Hati Memilih (2011)
3. Izmi & Lila (2011)
4. Persona Non Grata (2011)
5. Yang Kedua (2012)
6. Ping! (duet dengan Shabrina WS, 2012)
7. The Coffee Memory (2013)
8. Jasmine, Cinta yang Menyembuhkan Luka (edisi republish Persona Non Grata, 2013)
9. A Cup of Tarapuccino (edisi republish Tarapuccino, 2013)
10. First Time in Beijing (2013)
11. Perjalanan Hati (2013)
12. A Miracle of Touch (2013)
13. Dear Bodyguard (2013)

Non Fiksi :
1. Kitab Sakti Remadja Oenggoel (duet dengan Oci YM, 2013)

Antologi (terbaru) :
1. #Crazylove : LDR (antologi 5 novelet, 2013)
2. My Stupid Love (2014)


Di antara semua karya-karya itu yang mana yang paling Kak Lyta suka dan yang paling berkesan? Mengapa?
Jawab :
Pertanyaan sulit ini :), karena rata-rata saya suka dan semua punya kesan tersendiri. Honestly, membersamai proses “kelahiran” mereka sejak huruf pertama tertoreh hingga terbit, kesannya sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Tapi karena pertanyaannya adalah “yang paling”, it means, hanya mengacu pada satu jawaban, saya jawab : A Cup of Tarapuccino, karena ini novel yang pertama terbit, novel yang paling melibatkan jiwa dan pemikiran, sehingga banyak yang bilang kalau tokoh Tara itu tak lain cerminan karakter saya, dan saking menghayati novel ini waktu menulisnya, sampai sekarang pun, setiap kali membayangkan isi ceritanya dan nasib tokoh-tokohnya, saya bisa langsung merasa terharu dan pedih. (Aneh ya?) Juga karena saya tak pernah membayangkan kalau novel ini bakal dicetak ulang dalam edisi revisi dan ganti cover dari versi awalnya dulu (Tarapuccino-red), bagi saya, ini juga sebuah anugerah yang sangat berarti. *hug penerbit* J

Bagaimana caranya bikin novel jalan terus dan bikin non fiksi juga jalan mulus?
Jawab :
Ibarat mobil, supaya bisa jalan terus, ya harus dijalanin, jangan diumpetin aja di garasi, BBMnya juga diisi, biar jalannya lancar. Mobil juga harus dikendarai secara rutin, kalo lama nggak dikendarai, butuh waktu lama buat manasin mesinnya ketimbang mobil yang rutin dikendarai. Pingin perjalanan mulus sampe tujuan, ketahui dulu rute yang tepat, supaya nggak perlu muter jauh gara-gara salah arah, cek juga kondisi mobil, udah siap belum untuk dibawa bepergian jauh.

Pingin mengendarai dua jenis mobil? Kenali dulu jenis BBMnya, solar atau bensin, kenali juga kenyamananmu, mengendarai yang manual atau matic. *kenapa pula saya ngomongin mobil?* :D

Nah, menulis juga begitu. Mau lancar, menulislah dengan konsisten. Karena kalau udah mandeg lama, mau menulis lagi, biasanya butuh waktu lebih lama buat manasin “mesinnya” alias semangatnya ketimbang yang mandegnya cuma sebentar. Jaga pasokan “BBM” menulis dengan banyak membaca. Hanya fokus pada menulis dan kurang membaca, nanti pasokan ilmu, wawasan dan inspirasi yang dibutuhkan untuk menulis bisa soak.

Ingin nulis lancar dua-duanya? Kenali dulu jenis “BBM”nya. Pingin nulis non fiksi, yang dibutuhkan tentunya buku referensi yang cocok dengan tema buku yang ditulis. Pingin nulis novel, selain referensi sesuai tema, kita juga harus rajin baca novel sejenis untuk menjaga pasokan inspirasi dan “feel”nya.

Kenali juga kenyamananmu. Lebih merasa nyaman menulis novel apa non fiksi? Kalau merasa lebih nyaman menulis salah satunya, ya fokuslah di situ, yang satunya lagi sebagai sampingan aja. Merasa nyaman menulis keduanya? Just go on. Silahkan saja mau menulis pada waktu yang bersamaan atau berbeda.

Mau proses nulisnya berjalan mulus? Siapin perlengkapannya (riset, sinopsis, dll) dan tentukan dulu tujuan akhir menulismu, jadi nggak pake acara ngelantur kesana kemari dulu baru kelar :).  Adanya persiapan yang matang ini juga sangat membantu untuk terhindar dari writer’s block alias kebuntuan dalam menulis.

Gimana pengalaman Kak Lyta waktu buat novel pertama? Kendalanya apa dan butuh waktu berapa lama, nulis, persiapan dan risetnya juga?
Jawab :
Saat nulis novel pertama (Tarapuccino), saya sempat mengalami writer’s block selama lebih kurang tiga bulan, setelah tiga bulan sebelumnya saya hanya mampu nulis sampe halaman 20. Jadi selama tiga bulan itu, yang saya lakukan hanya tulis-hapus-tulis-hapus sehingga progress naskah saya pun hanya stuck di halaman 20 tersebut. 

Ini karena saya kurang riset, kurang pengalaman, kurang jam terbang mengolah kata, sementara tema yang diangkat cukup berat untuk pemula. Padahal, sinopsis dan outline-nya sudah disiapkan oleh kakak saya. Untuk menyiasatinya, saya perbanyak riset, termasuk mempelajari kiriman artikel-artikel tentang bahan makanan halal/haram dari kakak saya (Rika Y.Sari), juga perbanyak baca buku-buku bergenre suspense, barulah saya bisa lanjut menulis. Kalau ditotal dari start + masa-masa writer’s block + finsihing = 1 tahun.

      Proses kreatif seorang Kak Lyta itu gimana sih ketika sudah mendapatkan sebuah ide hingga mengeksekusinya menjadi novel?
Jawab :
Umumnya, setelah dapat ide, saya langsung menuangkannya ke dalam sinopsis. Dan dalam sinopsis itu langsung ditentukan siapa tokoh utamanya, alur cerita, konflik, latar tempat dan solusi. Tapi dalam eksekusinya, saya jarang banget bisa manut 100% pada sinopsis, selalu saja tergoda oleh kemunculan ide dan imajinasi untuk melakukan pengembangan-pengembangan. Untuk novel yang tidak terikat dateline, ataupun dateline-nya longgar, biasanya saya ikuti saja keinginan untuk melakukan pengembangan-pengembangan ini, tapi untuk yang dateline singkat, baru deh saya taati sinopsis yang sudah saya buat.

Di antara semua novel yang sudah Kak Lyta tulis, novel apa yang waktu menulisnya Kak Lyta merasa nyaman sekali dan novel apa yang paling menguras energi selama proses pembuatannya?
Jawab :
Yang nyaman sekali waktu menulisnya : The Coffee Memory, mungkin karena saya pencinta kopi kali ya :), yang paling menguras energi saat menulis : Dear Bodyguard dan Jasmine, untuk keduanya saya sempat melakukan perombakan cukup besar, dan diantara novel-novel saya yang lain, kedua novel ini memang tingkat kesulitan dan kompleksitasnya  paling tinggi.

Kak Lyta juga beberapa kali berhasil menang lomba novel. Tipsnya apa, Kak, supaya bias menang lomba?
Jawab :
Kenali segmen penerbit dan genre novel yang dilombakan, buat persiapan yang matang (sinopsis, penjadwalan, riset, dll), menulis dengan fokus dan konsisten, jangan takut memunculkan sesuatu yang baru, misal dari segi tema, latar tempat ataupun karakter tokohnya, penuhi syarat-syarat lomba, terakhir.....berdoa sungguh-sungguh, terutama pada waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa :)

Gimana sih caranya biar tokoh-tokoh kita tampak nyata seperti tokoh-tokoh di novel Kak Lyta?
Jawab :
Sampai sekarang pun, saya masih terus belajar memunculkan tokoh-tokoh yang tampak nyata. Selama ini, saya melakukannya dengan membayangkan sekilas gambaran fisiknya, menentukan sifat, watak dan usianya, serta latar belakang apa yang mempengaruhi kemunculan sifat dan watak tersebut.

Kak Lyta kalo nulis novel suka kebawa karakter tokoh enggak? Misal kebawa ke alam nyata gitu?
Jawab :
Alhamdulillah belum pernah. :-)

Bagaimana cara memasukkan unsur positif ke dalam karakter tokoh? Apakah terlalu kelihatan hitam-putih karakternya?
Jawab :
Karakter hitam putih nggak terlalu jadi favorit pembaca saat ini karena kesannya kurang real. Tetaplah beri sisi lemah untuk sang protagonis dan tetap munculkan sisi baik dari sang antagonis. Memasukkan unsur positif dengan cara “menceramahi” pembaca lewat ucapan tokohnya juga sudah nggak favorit lagi, karena terkadang kesannya jadi menggurui, kecuali kalau yang mengucapkannya memang tokoh-tokoh yang pantas untuk itu. 

Jadi selipkan unsur positif itu lewat perbuatan dan prinsip tokohnya. Hadapkan tokohmu dengan permasalahan dan “titipkan” idealisme anda pada sang tokoh saat dia menyelesaikan permasalahan tersebut. Kerahkan kemampuan “show” secara optimal di sini. Jadi, jangan suruh tokoh anda mengucapkan “kalian harus bekerja keras dan nggak boleh putus asa!”, tapi gambarkanlah secara detail bagaimana tokoh anda harus bekerja keras dalam mencapai cita-citanya.

Gimana cara mendetailkan karakter tokoh, diceritakan pakai narasi atau dari perbuatan sikap dan tokoh? Emm, maksudnya pakai narasi atau dialog?
Jawab :
Bisa lewat keduanya, narasi biasanya digunakan untuk menggambarkan ciri fisik tokoh (bentuk mata, hidung, rambut, dll) termasuk gestur (menggaruk kepala saat bingung, mengerutkan alis saat heran, dll), dialog biasanya digunakan untuk menggambarkan prinsip dan sikap tokoh dari kacamata atau sudut pandang tokoh lainnya.

Contoh :
“Kamu ini nggak bisa ya kalo ngomong nggak pake gaya angkuh begitu?” Ucapan Ria tertuju pada Samuel, yang setiap kali bicara, pastilah seraya mengangkat hidungnya dan sinar yang keluar dari matanya seakan-akan semua lawan bicaranya adalah semut.

Darimana mencari inspirasi untuk nama-nama tokoh yang unik, berkesan?
Jawab :
Saya termasuk yang nggak terlalu repot-repot untuk urusan nama, asal kira-kira cocok dengan karakternya, gendernya, suku bangsanya, mudah diingat tapi juga tidak terlalu pasaran, it’s enough. Satu-satunya novel saya yang proses pencarian namanya menggunakan kamus, adalah novel A Miracle of Touch, karena tokoh-tokohnya didominasi orang asing.

Dengar-dengar kak Lyta suka sama actor yang berinisial RR ya? Apa Kak Lyta kalau nulis selalu keinget RR dan menjadikan beliau tokoh utama ? Kayaknya beliau tokoh yang lekat banget sama mbak, ada yang pengin jadi mak comblang buat mempertemukan Kak Lyta dengan RR tuh.
Jawab :
*plak* siapa ituh yang ngaku pingin jadi mak comblang ? sini saya japri nomor hape : D *hayo.. ngaku siapa?*

boleh percaya boleh tidak, saya nggak pernah ngebayangin si RR ini saat melukiskan karakter tokoh utama pria dalam novel saya. Kalau boleh menyebut beberapa sampel, saya membayangkan Christian Bautista saat menokohkan Daniel dalam First Time in Beijing, saya keinget Tom Welling (pemeran Smalville) saat menokohkan Hazel dalam A Cup of Tarapuccino, dan Hrithrik Roshan saat menokohkan Ravey dalam A Miracle of Touch

Dan mohon jangan suuzhon ya, ngebayangin mereka-mereka ini hanya selintas-kilas untuk bisa mendeskripsikan ciri fisiknya. Nggak sampe ngejadiin mereka wallpaper laptop atau nempelin poster mereka yang segede gaban di dinding kamar :D

Tapi .....kalau misalnya suatu hari novel saya ada yang tertarik untuk memfilmkan, saya nggak keberatan kok si RR ituh jadi pemeran utamanya *ikon smiley embarassed*.

Kak Lyta ini sepertinya punya banyak sekali ide. Gimana caranya menangkap ide yang bertebaran agar novel-novel yang ditulis variatif?
Jawab :
Cara menangkap ide yang bertebaran, menebar jaringnya juga harus di banyak tempat, semakin banyak tempat yang dipasang jaring, insya Allah ide juga banyak yang nyangkut. Bisa dari televisi, surat kabar, majalah, dari pengalaman pribadi atau orang lain, dsb. Supaya variatif dan nggak monoton, jangan takut melakukan “perkawinan silang” antara ide-ide. 

Contoh : saya mengawinkan ide illegal trading dan isu bahan makanan haram dalam A Cup of Tarapuccino, cyber crime dengan isu HIV/AIDS dan illegal human traficking dalam Jasmine, cinta dan bisnis kuliner dalam The Coffee Memory dan First Time in Beijing, narkotika dan profesi pengawal wanita dalam Dear Bodyguard, dll.

Bagaimana caranya nulis novel yang nggak bosenin dan nggak bosan nulis novel?
Jawab :
Novel yang nggak bosenin, itu sangat tergantung selera pembaca. Ada pembaca yang suka type novel slow-move dan minim konflik, ada juga penggemar novel beralur fast-move dan konfliknya tajam. 

Hanya untuk mengantisipasi kejenuhan sejak awal, jangan terlalu lama menarik-ulur konflik yang sebenarnya sederhana, kalaupun harus demikian, selipkan sub-konflik lain agar ceritanya tetap dinamis ataupun tingkatkan kepiawaian mengolah diksi. Pelajari juga bagaimana cara mengolah alur yang tidak terlalu mudah ditebak, bisa dengan memunculkan rahasia pada bab awal yang jawabannya baru muncul pada bab kesekian, membuat ending twist, ataupun menambahkan sub konflik pada tema dan konflik yang sudah umum.

Supaya nggak bosen nulis novel, enjoy the process. Tulislah tema yang memang menjadi keinginan dan passion kita, nikmati prosesnya, saat terasa jenuh, jangan paksakan, berhenti sejenak, refreshing, baru lanjut nulis lagi. 

Saya selalu menganggap proses menulis novel seperti memerankan sebuah film, dimana di situ saya bisa menuangkan imajinasi untuk berperan jadi siapa saja, memilih lawan main siapa saja, menentukan jalan cerita sesuka saya juga mengakhirinya sesuai keinginan saya. Dan saat berhasil menyelesaikannya, sungguh, tingkat kepuasannya lebih dari sekadar saya menonton film beneran di layar kaca!

Pernah nggak jengkel udah nulis novel tapi nggak diterima oleh penerbit?
Jawab :
Pernah. (Itu aja ‘kan pertanyaannya : pernah / nggak ?) :-)

Apa Kak Lyta biasa minum kopi untuk melancarkan inspirasi atau sebagai doping dalam menulis? Berapa gelas kopi yang biasa dihabiskan dalam sehari?
Jawab :
*yang nanya ini, pasti mau ngirimin saya kopi :-) Ntar saya japri merk kopi favorit saya dan alamat rumah ya :D* Saya memang penggemar kopi, dalam sehari biasanya 1-2 cangkir, tapi nggak pernah kopi murni, biasanya yang 3 in 1, atau cappuccino.

Apa Kak Lyta termasuk penulis yang perlu buku pendamping saat menulis novel? Butuh baca berapa buku untuk menghasilkan sebuah novel?
Jawab :
Iya. Jumlahnya variatif, rata-rata mulai dari 1 – 5 buku.

Apa setelah menulis novel, memakai first reader? Atau malah enggak pakai first reader dan langsung dikirim aja? Kalau pakai first reader biasanya siapa yang jadi first reader Kak Lyta?
Jawab :
Untuk first reader sebelum dikirim ke penerbit, saya menggunakannya di novel Dear Bodyguard, yaitu Afifah Afra.

Dari kecil (SD atau SMP) udah suka nulis nggak sih? soalnya sekarang Kak Lyta nulisnya pinterr bangeud. Apa waktu sekolah dulu jago dalam pelajaran mengarang di sekolah?
Jawab :
Dari kecil saya hanya hobi baca. Kalo nulis, paling-paling hanya nulis diary pas SMP, itupun isinya hanya curhat-curhat ababil :-). Waktu sekolah, seingat saya nilai mengarang saya biasa aja, dan kaya’nya jarang juga deh dapet pe-er mengarang :-).


Sekarang di blog Kak Lyta banyak resensi buku-buku yang udah Kak Lyta baca. Berapa lama waktu yang dihabiskan untuk menyelesaikan baca 1 buku?
Jawab :
Tergantung ketebalan buku, muatan isinya (berat/ringan) dan magnet dari buku itu sendiri untuk menarik saya membacanya hingga tuntas. Kalau yang tipis, ringan dan menarik, biasanya 1-2 hari kelar, kalau yang tebal-tebal, butuh berminggu-minggu, yang tebal dan muatannya juga berat, bisa bulanan.

Di grup BaW, Kak Lyta memakai akun dengan nama Fauziah Fachra. Itu nama pena atau gimana?
Jawab :
Itu pelesetan dari nama anak saya yang nomor dua :-)

Suka duka menjadi penulis selama ini apa, Kak Lyta?
Jawab :
Wah, banyaak, bisa jadi satu novel kalo diceritain, eh, kebanyakan ding, satu cerpen deh :-). Sebutin singkatnya aja ya. 

Sukanya : pas nulis udah kelar dan terbit, pas menang lomba, pas dapet royalti di luar ekspektasi dan buku cetak ulang, pas dapet respon positif dari pembaca, dapet banyak kenalan, teman, dapet tambahan ilmu baru, dll. Pengalaman-pengalaman ini membentuk rasa suka dalam wujud yang bermacam-macam : rasa syukur, bahagia, excited, girang dan juga terharu.

Dukanya : pas naskah dikritik tajam, saat royalti rasanya nggak seimbang dengan kerja keras waktu nulis, ketika kalah lomba, dll, hal-hal ini memunculkan rasa duka yang beraneka ragam juga : merasa down, sedih, kecewa, dll, tapi alhamdulillah yang sifatnya duka-duka ini,  selama ini sifatnya kaya’ air mengalir aja, cepet berlalu dari ingatan.

Apakah pernah terlintas di pikiran Kak Lyta untuk berhenti menulis? Kalau iya, kapan dan kenapa? Dan bagaimana cara bangkitnya?
Jawab :
Pernah. Pas lagi berbarengan kerjaan kantor yang numpuk, hingga rasanya sulit meluangkan waktu untuk nulis secara fokus, pas dapet kritikan tajam sehingga rasanya tulisan saya jelek banget. 

Cara bangkitnya, dengan memenej waktu lebih baik, nggak menganggap menulis jadi beban, juga menganggap kritikan sebagai bagian yang harus dilewati dalam proses menulis. Dengan kritikan, kita jadi tahu sisi-sisi yang harus diperbaiki, dan biasanya Allah selalu mengirimkan “sesuatu” untuk saya segera move on, antara lain lewat respon positif dan testimoni pembaca di saat saya lagi down karena kritikan, respon yang otomatis bikin saya bangkit lagi dan percaya diri untuk terus menulis.

Menurut Kak Lyta bagaimana cara menanggapi kritik dari pembaca karya kita agar tidak sampai menyurutkan semangat menulis? dan apakah Kak Lyta punya alokasi waktu khusus setiap hari untuk nulis?
Jawab :
Caranya, ambil kritikan yang bisa jadi bahan pembelajaran dan buat berbenah, nggak hanya sekadar diambil, tapi bener-bener kita “jawab” kritik itu dengan melakukan perbaikan pada karya selanjutnya. Beri respon seperlunya saja untuk kritik yang murni mengedepankan subjektivitas dan selera. Karena kita ngak mungkin memuaskan selera semua pembaca, ya kan?

Untuk alokasi waktu, yang penting berusaha menulis setiap hari, waktunya sesempatnya saja. Untuk saya, bisa saat pekerjaan lagi nggak banyak kalo di kantor, bisa jelang tidur malam, atau saat anak-anak lagi asyik bermain kalo di rumah.

Setiap orang pasti punya kelemahan. Kelemahan Kak Lyta yang dirasakan Kak Lyta sebagai penulis itu apa sih dan bagaimana mengatasinya?
Jawab :
Saya merasa belum mampu nulis novel teenlit dengan optimal. Kalaupun ada beberapa novel saya yang tokohnya remaja, saat membacanya, tetap aja saya merasa bernuansa dewasa. Cara mengatasinya, ke depan mungkin saya akan baca lebih banyak novel teenlit kalau memang ingin nulis teenlit lagi yang lebih baik.

Bagaimana cara mengatur waktu antara pekerjaan, rumah tangga, dan menulis? Apalagi Kak Lyta kan kerja kantoran, apakah Kak Lyta pernah menulis di jam kerja atau saat di kantor, misal pas waktu istirahat?
Jawab :
Pekerjaan dan rumah tangga juga keluarga tetap prioritas. Untuk menulis saya alokasikan kira-kira satu – tiga jam aja dalam sehari. Pernah.

Sejauh apa Kak Lyta mencintai dunia menulis dan jika HARUS MEMILIH, karir kantor atau menulis?
Jawab :
Sejauh jemari ini mampu bergerak dan sejauh pikiran saya mampu mengolah inspirasi yang diberikan Allah, insya Allah cinta saya nggak akan pindah ke lain hati *ehm, ketahuan nih generasi tahun berapa :D*.

Dari sudut pandang passion, saya pilih menulis. Tapi dari sudut pandang pencarian nafkah, saya pilih karir kantor. Buat saya, keduanya berada di kutub yang berbeda. 

Saya tidak menjadikan karir kantor sebagai passion karena saya tidak ingin menjelma wanita karir yang workaholic hingga sebagian besar energi dan perhatian hanya tercurah untuk karir, dan meski menulis juga bisa menghasilkan materi, saya tidak ingin menjadikannya sebagai sumber pencarian nafkah yang utama, melainkan tetap sebagai passion, sebagai sarana untuk berbagi, materi dari menulis buat saya adalah sebagai dampak, sebagai bonus, bukan sebagai tujuan.  Kecuali kalau sejak awal, nawaitu saya saat menulis memang untuk menjadikannya sebagai profesi.

Buku Kak Lyta apa yang terbaru dirilis dan bisa ceritakan synopsis singkatnya?
Jawab :
Untuk novel, yang terbaru judulnya Dear Bodyguard. Ini bercerita tentang sosok Aline, yang pernah mengalami KDRT lalu bercerai, dan bermetamorfosis menjadi wanita yang tangguh secara fisik dan psikis saat menjalani profesi sebagai bodyguard atau pengawal wanita.

Dear Bodyguard - Novel Terbaru Riawani Elyta

Dia kemudian bekerja untuk kakak-beradik Teddy dan Jenny. Teddy bertindak sebagai manajer pribadi terhadap Jenny yang berprofesi sebagai artis sinetron. Tanpa diduga, Aline justru ikut terlibat di dalam intrik narkoba yang melibatkan kedua kakak beradik ini hingga nyawanya pun ikut terancam. Sementara itu, Aline juga berkenalan dan berinteraksi dengan seorang detektif swasta bernama Kevin yang mengemban misi untuk menyelidiki kakak beradik Teddy dan Jenny, yang selama ini diduga kuat sebagai konsumen dan juga bandar narkoba. Teddy sendiri, diam-diam menyimpan perasaan khusus terhadap Aline.

Berhasilkah Aline membebaskan diri dari ancaman ataukah justru menjadi korban dari intrik narkoba tersebut? Siapakah yang akhirnya bisa menaklukkan hati Aline, Teddy atau Kevin? Siapa sesungguhnya Teddy dan Jenny? Benarkah mereka adalah bandar narkoba seperti dugaan Kevin? Baca aja novelnya ya daripada penasaran :-)

Terakhir, apa pesan Kak Lyta buat pembaca blog BaW?
Jawab :
Buat anda yang ingin jadi penulis, jangan ragu untuk menekuninya dan terus mengasah kualitas tulisan anda tanpa henti. Karena menulis adalah sebuah aktivitas yang menyenangkan dan sangat bermanfaat. 

Dengan menulis, kita berpeluang meraih lima kekayaan sekaligus : kekayaan pikiran (tambah pinter, tambah ilmu dan wawasan), kekayaan batin (jadi sarana therapy hati), kekayaan silaturahim (menghubungkan kita dengan lebih banyak orang dan komunitas, terutama mereka dengan passion yang sama), kekayaan materi (kita bisa meraih materi dalam bentuk honor, royalti, dll) dan kekayaan manfaat (setiap tulisan kita yang mengandung nilai inspirasi dan manfaat, insya Allah akan menjadi amal jariah yang terus mengalirkan nilai kebajikan meski diri kita sudah tak lagi eksis di bumi ini) :-)

Kak Riawani Elyta

Terima kasih buat wawancaranya yang super sekali ini, Kaka Lyta. Terima kasih juga buat teman-teman pembaca blog BaW.

Buat teman-teman yang mau novel Dear Bodyguard karya dari kak Riawani Elyta yang sinopsisnya diceritakan kak Lyta di atas. Ada 1 buku gratis untuk kamu untuk 1 pemenang. Syaratnya:

  1. Follow blog ini.
  2. Follow twitter @BAWCommunity
  3. Tweet kalimat ini "Saya mau novel #dearbodyguard karya @RiawaniElyta terbitan @bentangpustaka dari @BAWCommunity". Jangan lupa di twit kamu tetap sertakan link postingan wawancara ini. 
  4. Komen di kolom komentar postingan ini berupa: nama dan akun twitter. 
  5. Ditunggu sampai tanggal 12 Maret 2014 
  6. Ikuti terus program Author of The Month berikutnya dan dapatkan buku-buku terbaru dari para penulis BAW.


39 comments:

  1. wah saya ketinggalan nanya di grup nih.. kelewatan pas ngapain ya kmrn? :D
    alhamdulillah sdh lengkap lah bahasannya buat ngobatin kepo ^^

    mau ah nopelnya.
    Nama ; Binta Almamba
    akun twitter : @Bintaalmamba

    ReplyDelete
  2. Wah.. wah, hebat banget. Jaya bener Mba Lyita di tahun 2013. Keren! Suka juga perumpamaan mobilnya (masuk akal banget, ngena gitu). Super sekali lah pokoke :) makasih sudah berbagi, jadi bahan bakar lagi nih buat mobilku yang jarang dipake. Nah, nih mau di panasin setelah ngisi BBM nya (hohoho)

    Uda ngetweet juga,
    Nama: Nahlatul Azhar
    Twitter: @NaNahlatulazhar

    ReplyDelete
  3. baca wawancara nya kak Lyta ini rasanya aku dapat suntikan energi buat nge-refresh otak dan ide yg sempat mati suri. Rasanya semangat itu terpancar lagi. Awalnya memang sulit, meski udah bikin sinopsis dan nentuin akhir tulisanku, tetep aja writer's block. Rasanya masih kurang pintar dlm mengolah kata. Tulisannya hanya stuck spe halaman 18. Dan gak nambah lagi.

    writer's block selama 3 bulan akhirnya aku berusaha nulis lg. tepatnya baru tgl 20 februari kemarin. Setelah ada referensi dan buku pemandu sbg kiblat ceritaku, aku memulainya lagi dg pembetulan dan kata yg lebih pas.

    Salut deh sma kak Lylta, yg awalnya mengalami writer's blog tp mampu bangkit dg karya-karya yg lumayan banyak dan cepat. SELAMAT !! Karena aku jg penasaran dg Kevin,Teddy, Jenny dan terutama Aline. Aku tunggu #DearBodyguard nya terbang ke rumah dg gratis ya ") *big thanks*

    Makasih curcolnya, mf celoteh ababil :)


    Elok Faiqotul (@_elokfa)

    ReplyDelete
  4. Aku juga ngelewatin acara tanya jawab. Puntennn bundaminn.. Maklum. Lagi kompakan sakit. Nama:anik nuraeni. Twitter @anik_nuraeni

    ReplyDelete
  5. Saya dunk yang nggak ngelewatin terus buat wawancara Author of The Month. Hehehe...
    Saya juga ikutan ya kakaaa....

    Nama : Hairi Yanti
    Twitter : @yant165

    ReplyDelete
  6. Btw RR tu sapa mbak? #Kepo

    Aku udah twit.
    NAma : Novia Erwida
    Twitter : @noviaerwida

    ReplyDelete
  7. Saya tau .. saya tau orang berinisial RR ituuuuh *salahfokus*

    Mbak Lyta ini contoh noveli yang cerdas dalam menggambarkan setting dan penokohan ya. Sukses ya novel dan karirnya :)

    ReplyDelete
  8. Aku belum jadi penulis, tapi aku pernah beberapa kali ngalamin writers block dan itu nyebelin :P

    Wenny Widyastuti
    @widywenny

    ReplyDelete
  9. Mau banget punya dan baca novel Dear Bodyguard karya dari kak Riawani Elyta , penasaran bgt sm isi ceritanyaaa... dan salah satu impian saya mau jd penulis novel kaya kak Riawani Elyta , hehehee

    Radianti Tiara AF
    @radian_ara

    ReplyDelete
  10. dulu juga ada nih kuis buat dapetin novel #DearBodyguard , tapi saya belum sempat ngikutinnya .. semoga kali ini bisa dapet bukunya dan belajar buat reviewnya juga nanti

    @ayistia11

    ReplyDelete
  11. Aku ikutaaaann... udah aku tweet yaak.

    Anis Antika
    Twitter: @AntikaAnis

    ReplyDelete
  12. Ikutan, Min.

    Nama : Ika Koentjoro
    Twitter : @Ikakoentjoro

    ReplyDelete
  13. Mau....pake banget novelnya
    Nama: Khairiah
    Twitter:@HarieKhairiah.

    ReplyDelete
  14. mau dunk novelnya.....
    pujia achmad
    twitter : @pujiaachmad

    ReplyDelete
  15. Halo Mbak Lyta. Makasih ceritanya. Wiiihhh.... bikin semangat ngejar mimpi lagi, nih! Oh iya kopi... Aku penyuka kopi juga. Juga sama-sama suka kopi 3 in 1 ama cappuccino, tapi kadang 1 minggu sekali minum kopi murni.
    Trus RR itu sapa? Ih, jadi penasaran, deh, sepenasaran aku sama anak barunya Mbak Lyta Dear Bodyguard
    Oke, sukses terus mbak Lyta!

    Dian. S
    @DeeLaluna

    ReplyDelete
  16. sukaaa yang "menulis itu passion, pekerjaan itu nafkah, keduanya berada di kutub yang berbeda"

    thanks mba Riaw n mba Yanti :)

    @vianawahyu

    ReplyDelete
  17. Done!
    Nama: Kanianingsih
    Twitter: @kanianingsih

    Smoga smakin Sukses nullisnya y mba..

    ReplyDelete
  18. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  19. Ikutan ya :)

    Nama : Emi Rahma
    Twitter : @emirahma_

    ReplyDelete
  20. artikelnya sangat bagus,terimakasih infonya

    ReplyDelete
  21. Specta sangat ini webnya keren ihh dari mulai tema sampe ke artikelnya

    ReplyDelete
  22. Salam kenal, baru tahu tentang blog ini dari blog Mbak Leyla Hana. Setelah sebelumnya maen di group IRC 2014. Ikutan ya, Be a Writer (BAW). :) Semoga bisa nambah koleksi buku gratis untuk diresensi demi IRC-nya. :)
    https://twitter.com/RohyatiSofjan/status/440114880108969984
    Nama; Rohyati Sofjan
    Twitter: @RohyatiSofjan

    ReplyDelete
  23. Nama: Arini Angger
    twitter: @ariniangger

    ReplyDelete
  24. web ini aku suka ditunggu artikel selanjutnya

    ReplyDelete
  25. mau novelnya
    nama: ade anita
    twitter: @adeanit4

    ReplyDelete
  26. Nama : Ika Koentjoro
    twitter : @Ikakoentjoro

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog BaW. Mohon kritik dan komentar yang membangun untuk setiap postingan ;)