Friday, July 22, 2016

Rahasia Menulis Cerita Anak

Materi dan diskusi dari penulis tamu Fita Chakra, pada 20 Mei 2016 di grup FB BaW Community

Halo, Teman-teman.

Waktu saya mulai belajar menulis cerita anak, seringkali saya butuh waktu lama untuk memikirkan pesan apa yang ingin saya sampaikan pada cerita tersebut. Ternyata semakin lama, saya sadari, ini membuat saya kesulitan menulis. Pesan itu penting, tetapi mulai menulis dengan fokus pesan justru membuat saya tak bisa menyelesaikan tulisan saya. Ini adalah salah satu kesulitan saya dalam menulis. Mungkin teman-teman punya kesulitan yang berbeda. Boleh nanti di-share ya saat diskusi. Kita bisa saling berbagi pengalaman dan belajar satu sama lain

Dari kesulitan-kesulitan yang saya hadapi saat menulis cerita anak, saya belajar banyak. Beberapa pelajaran yang saya temukan lalu saya pegang. Insya Allah, saya akan bagi rahasianya di sini. Oya, sebelumnya, dengan rendah hati, saya katakan bahwa yang saya share di sini bukan teknis menulis yang sulit kok, saya yakin teman-teman pasti bisa asal rajin berlatih. Saya masih terus belajar menulis lebih baik setiap waktu.


Okay, kita lanjut ya. Jadi apa rahasia saya menulis cerita anak?

1. Tentukan karakter tokoh, karakter yang kuat akan memudahkan menulis.
Alih-alih memikirkan pesan terlebih dahulu, saya mulai dari menentukan karakter tokohnya. Ternyata ini menjadi lebih mudah. Ketika saya memutuskan tokoh cerita saya adalah seekor pesut yang kesepian hidup di sungai tercemar, jalan ceritanya menjadi lebih mudah saya tulis. Begitupun dengan pesannya.

2. “Meminjam” kacamata anak dengan menghindari dominasi peran tokoh dewasa.
Terkadang supaya lebih mudah menemukan solusi, penulis menampilakn tokoh dewasa untuk membantu memecahkan masalah. Hal ini bisa saja dilakukan, tetapi saya sendiri menghindarinya karena kadang-kadang pesannya menjadi terlihat menggurui. Semakin sedikit peran tokoh dewasa dalam cerita anak-anak, maka akan semakin “menganak” cerita itu. Catatan lainnya, hindari juga menggunakan “mulut” orang dewasa pada tokoh anak-anak. Biarkan mereka berperan sebagai anak-anak.

3. Sering-sering berinteraksi dan mengamati tingkah anak.
Ada catatan yang saya tuliskan ketika mengajar. Catatan tersebut berisi celoteh murid-murid saya, tingkah laku mereka, dan hal-hal penting lainnya. Dari interaksi tersebut, saya sering mendapatkan ide yang bagus untuk bahan cerita.

4. Show, don’t tell.
Yang ini mungkin sudah sering terdengar ya. Tetapi, buat saya sangat penting. Daripada mengatakan, “Dia menangis kencang,” akan terlihat lebih hidup jika ditulis, “Air matanya mengalir, lalu dia mulai terisak semakin kencang. Bahunya berguncang hebat ….”

5. Menghindari adegan kekerasan.
Dalam menulis cerita anak, saya menghindari adegan kekerasan seperti adegan berdarah-darah. Jika menulis cerita misteri, saya fokuskan pada kisah tokoh yang menyelidiki sesuatu.
Nah, ini beberapa poin yang insya Allah saya pegang dalam menulis cerita anak. Silakan bertanya dan berdiskusi di sini. J
---

Tanya Jawab:

Dian Onasis:
Dr sekian banyak buku anak yang sudah Fita buat, genre manakah yang paling disukai? Kemudian dari jenis buku mulai pictorial book, cernak, hingga novel, jenis mana yang paling Fita kuasai dan senang membuatnya? Please alasannya sekalian ya. Btw, kalau ingat perkenalan pertama di MP 9 tahun lalu, salut sekali dengan konsistenai dan komitmen menulis Fita, mana berlanjut ke anak lagi ya. Salut banget!

Fitria Chakrawati:
Halo, Uni. :) Jujur saja, Fita lebih suka nulis pic book, cerpen, dan nonfiksi. Untuk novel, kalau nggak bener-bener ada waktu kosong selama minimal sebulan, sering keteter. Sebenarnya sih, novel juga bisa menyenangkan nulisnya. Tetapi kadang-kadang rasanya sulit untuk penulis "napas pendek" macam Fita hihi.

Fajriatun Nur:
Halo Mbak Fitria Chakrawati salam kenal. Mau tanya nih mbak.
1. Selama menulis cerita anak, pernah tidak mengalami blank saat mau nentukan ending? Lalu apa yang dilakukan jika sudah begitu?
2. Apakah mbak Fita punya jadwal menulis? Atau punya target menulis?

Fitria Chakrawati:
1. Blank, pernah, Mbak. Saya rewrite akhirnya. Bikin mindmap baru lalu direvisi. Setelah saya pelajari, sepetinya lebih enak kalau kita udah menentukan ending dari awal. Jadi, saya biasakan menulis mindmap, mematangkan konsep, baru menulis. Kalau konsepnya udah mateng, lebih enak proses nulisnya. Mindmap juga membantu kita konsisten dari awal sampai akhir.
2. Jadwal menulis, dulu saya punya jadwal menulis. Tahun 2015 ini, terus terang saja, jadwal saya berantakan karena kesibukan lain. Yang jelas, saya tetap usahakan seminggu 2-3 kali selama 2-4 jam duduk manis di depan PC untuk nulis. Saya dapat waktu tenang saat anak-anak sekolah. Jam 8-12 saya ngetik. Sore sampai malam bisa dibilang saya jarang banget ngetik karena saya alokasikan waktu untuk keluarga. Sabtu-Minggu saya off dari komputer. Target tetap ada, tetapi saya berusaha menyesuaikan dengan kondisi saya. Yang penting jangan sampai berhenti nulis aja.

Hairi Yanti:
Mau nanya, Mbak. Ada tema serupa dalam buku-buku anak. Misal kisah Sahabat Nabi. Bagaimana ketika kita membuat cerita seperti itu tapi tidak plagiat terhadap cerita yang sudah ada?

Fitria Chakrawati
Halo, Mbak Hairi Yanti. Kisah Nabi dan sahabatnya banyak sekali ya, Mbak. Supaya nggak sama persis, cara saya begini. Saya baca bahan. Tutup. Lalu buat dengan versi saya. Itu untuk teks ceritanya. Kalau untuk konsep bukunya, saya biasanya buat diferensiasi. Misalnya, buku aktivitas untuk ramadhan kan banyak tuh. Saya bikin Diary Ramadhan dengan tamabahan cerita dan bonus.

Naqiyyah Syam
Mbak, bagaimana mengemas tema islami seperti tema ramadhan, lebaran, nabi, dan lain-lain bisa menjadi menarik dan kemasannya tidak menonton. Apa tips agar anak-ank suka baca buku tema religius?
Fitria Chakrawati
Mbak Naqiyyah Syam, buat diferensiasi dari produk yang serupa, Mbak. Saya biasanya amati dulu di toko buku, buku-buku seperti apa yang muncul. Kalau saya pingin bikin yang serupa, harus ada nilai plus dibandingkan produk lain. Yang pernah saya terapkan misalnya memberi aktivitas menggambar, menulis dan menempel. Apa ya tipsnya? Berdasarkan pengalaman, anak-anak saya suka buku kalau didongengin. Suka buku tertentu kalau pernah didongengin buku itu makasudnya mbak.

Kayla Mubara:
Salam, Kak Fita ...
1. Bagaimana merawat konsistensi dan eksistensi di buku anak?
2. Pernah enggak menemui masalah yang membuat harus rehat dulu menulis? Bila belum, mohon resepnya. Bila pernah, bagaimana memulihkan kembali power writer dalam diri Kakak?

Fitria Chakrawati
1. Sebenarnya menurut saya passion-lah yang membuat seseorang bisa konsisten. Saat mulai menulis dulu, saya menulis apa saja, Mbak. Mulai dari artikel parenting, cerita anak-anak, dan sebagainya. Lama-kelamaan, saya merasa menulis cerita anak lebih saya sukai. Dengan sendirinya saya banyak meninggalkan menulis di luar cerita anak (walaupun sebenarnya bisa juga).
2. Pernah, Mbak. Saya kira semua penulis pernah mengalaminya. Kalau benar-benar buntu, saya nggak paksakan. Saya jalan-jalan ke toko buku, banyak baca, nulis-nulis santai di blog, lalu dapat semangat lagi.

Naah, masih ada pertanyaan-pertanyaan lain yang dibahas apik oleh Mbak Fitria, lho. Kalau mau tahu, boleh bergabung dengan grup FB BaW Community.[U1] 

Beberapa karya Fita Chakra

Biodata Pemateri:
Teman-teman kenalan yuk dengan pemateri kita kali ini😍

Nama : Fitria Chakrawati, S.Sos, MM
Nama Pena : Fita Chakra
Tempat Tanggal Lahir : Semarang, 8 April 1980
Domisili : Depok
Status : Menikah, ibu dari 3 orang putri.
Profesi : Freelance writer, editor, blogger, trainer dan guru ekskul.
Twitter : @fitachakra
Instagram : @fitachakra

Pendidikan Formal

2004-2006 : S2 Magister Manajemen, UGM, Yogyakarta.
1998-2003 : S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, UNDIP, Semarang.

Pengalaman
2007-2009 Kontributor Majalah Parenting Indonesia.
2007-2010 Redaktur Majalah Gaia.
2012 Kontributor Rubrik ”Historia” Majalah Bravo.
2012-2013 Contributing Editor di Moms Guide Indonesia.
2013-sekarang Guru Ekskul Menulis di SDIT dan SMPIT Darul Abidin, Depok.
2014 Kontributor di Kesekolah.com.
2015 Editor Freelance buku KKPK untuk Penerbit Dar! MIZAN.

Sekilas Tentang Penulis

Saat ini, sudah menulis sekitar 50 judul buku. Sebagian besar merupakan buku cerita anak. Sebelum menulis buku, Fita menulis untuk media. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Bobo, Mombi, Parenting, Kompas dan lain-lain. Selain menulis, Fita mengajar Ekskul Menulis di sebuah sekolah. Bersama beberapa orang temannya, Fita mendirikan Sahabat Kata, sebuah event organizer acara kepenulisan yang terutama difokuskan untuk anak-anak. Selama dua tahun berturut-turut, Sahabat Kata mengadakan workshop menulis 3 jam untuk anak-anak di masa liburan.

Menulis cerita anak bagi Fita adalah sesuatu yang menyenangkan sekaligus menghibur. Tak heran jika berinteraksi dengan anak-anak saat mengajar merupakan momen untuk mengumpulkan ide. Diari Ramadhan, merupakan salah satu buku yang terinspirasi dari pertanyaan-pertanyaan anaknya saat berpuasa. Buku ini dicetak tahun 2011, dibawa ”terbang” ke Frankfurt Book Fair pada tahun 2015, dan insya Allah dicetak ulang dengan cover baru awal ramadhan ini. Berisi 30 cerita, doa, catatan harian, tabel ibadah dan stiker yang lucu untuk anak-anak.






 [U1]

6 comments:

  1. Hmmm, dari dulu pengen bisa menulis cerita anak. Hehe..jadi harus sering mengamati tingkah laku anak-anak...

    ReplyDelete
  2. gue suka bikin cerita tapi ngawur ...

    ReplyDelete
  3. pengen banget buat cerita anak anak tapi sekalinya buat cerita anak gagal :v

    ReplyDelete
  4. Pengin banget bisa nulis cerita anak. Tapi sepertinya sulit mbak. Suka liat tingkah anak anak, tapi Kalo jadi cerita kok ya rasanya beda nulis dengan ngamati

    ReplyDelete
  5. Saya suka baca cerita anak, sayangnya minat baca anak sekarang menurun sejak ada gawai. Lanjutkan mba menulisnya , sambil kita menumbuhkan kembali minat baca pada anak.

    ReplyDelete
  6. agak susah juga menulis cerita anak ya mbak

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog BaW. Mohon kritik dan komentar yang membangun untuk setiap postingan ;)