Sunday, March 22, 2015

#MATERI FEBRUARI 2015 : TIPS MENULIS CERNAK [oleh : DIAN ONASIS]


Tips Menulis Cernak
Oleh Dian Onasis

Secara teori, menulis cerita anak tidak berbeda jauh dengan teori menulis cerita dewasa. Beberapa pekan atau bulan ini, di group BaW telah dibagikan informasi dan teori-teori keren seputra menulis cerita. Mulai dari pemilihan tema, penjelasan tentang tokoh dan karakter, plot, konflik yang keren, setting cerita dan hal lainnya.


Lalu, bagaimana dengan menulis cerita anak? Mengapa sebagian penulis yang terbiasa menulis cerita dewasa, sering merasa kesulitan dalam menulis cerita anak? Apakah tidak cukup dengan membuat tulisan bertema anak-anak, tokoh anak-anak dan berpura-pura jadi anak-anak?
Berdasarkan pengalaman saya, hal itu tidak cukup.
Terus terang, saya tipe penulis otodidak. Menulis dulu, baru belajar teori. Menulis sekarang, menemukan kesalahan dan perbaiki belakangan. Trial and Error adalah cara saya di awal menulis cerita anak.

Namun, saya melakukan riset dulu sebelum menulis cerita anak. Saya baca banyak cerita anak di beberapa majalah anak. Saya pastikan saya ngeh dengan jumlah kata, berapa jumlah tokoh, seperti apa konfliknya, bagaimana endingnya. Ini cara saya.

Setelah 5 tahun terakhir ini bergelut dan belajar menulis cerita anak. Saya mendapatkan beberapa hal yang mungkin perlu diperhatikan ketika menulis cerita anak. (Tentunya diluar teori-teori menulis cerita pada umumnya).
    • Pastikan ketika menulis cerita anak (cerpen atau novel), kita sudah tahu atau memperkirakan target pembaca kita.
      Hal ini penting, karena setiap segmen pembaca anak memiliki kekhasan tersendiri. Misalnya untuk usia Balita atau TK, maka dapat dipastikan, illustrasi memiliki peranan lebih penting daripada narasi cerita. Kemudian untuk usia 6 – 8 tahun atau kelas 1 – 2 SD, illustrasi tetap digunaka, tapi narasi lebih banyak dari usia di bawahnya. Demikian seterusnya, untuk SD kelas 3 -4, Kelas 5 SD hingga SMP (pre teen).
        • Gunakan kalimat yang efektif.
          Biasakan hanya 5 – 10 kata dalam satu kalimat. Jika ada kalimat majemuk, biasakan menggunakan tanda baca koma, untuk membatasi napas pembaca. Upayakan kalimatnya padat, dan hindari kata-kata bersayap. Juga jangan ada kata yang kasar dan jorok, sebagai bagian upaya mendidik anak-anak yang menjadi target pembaca kita.
            • Untuk cerpen anak, konfliknya tak perlu banyak. cukup 1-2 saja. Alur biasakan maju ke depan (alur sederhana). Tokoh juga tidak perlu banyak. Sementara untuk novel, konflik bisa muncul di setiap bab, alur bisa sederhana atau ditambahkan alur maju mundur yang sederhana. Tokoh bisa banyak, tapi tidak sampai membingungkan pembaca. Pengenalan tokoh tidak secara borongan, jangan sampai membuat pembaca sudah capek di bab-bab pertama.
              • Buat karakter yang special, khas dan tidak mudah dilupakan oleh pembaca. Untuk penggambaran karakter di dalam novel, bisa dimuncul sedikit-sedikit dalam setiap bab. Namun untuk cerpen, dari awal, sudah bisa dikenalkan ke pembaca, karakter tokoh ceritanya.
                Terkait dengan proyek kumpulan cerita anak BaW yang bertema misteri, detektif atau petualang, mungkin ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
                1. Karena ini adalah cerpen yang kurang dari 1000 kata, berarti, konflik yang dibuat tidak usah banyak, cukup 1-2 saja. Tokoh juga bisa dipilih 2-3 orang. Boleh ada antagonis dan protogonis, atau tidak ada antagonis juga bisa, namun pembaca diarahkan untuk mengira-ngira karakter tersebut, apakah antagonis atau tidak.
                2. Pemilihan kata tentu saja efektif dan padat. Unsur misteri/petualang/detektif dapat terlihat dari judul, konflik, tema dan alur cerita yang mengandung unsur suspense (kejutan). Contoh judul yang sudah menunjukkan tema misteri, misalnya Teka Teki Telapak Tangan atau Rahasia Rumah Reyot.
                3. Pembukaan cerpen, bisa langung menggunakan kalimat narasi yang unik, kata-kata yang menyentak, dialog yang menunjukkan rasa ingin tahu, atau adegan yang menarik perhatian, atau setting yang mengundang tanya.
                Misalnya : Miftah berdiri terpaku. Flash disknya hilang. Ia yakin meletakkanya di atas meja belajar tadi malam. (langsung masuk konflik dan tema tentang kehilangan benda)
                atau
                “Kita nanti jangan lewat sana. Tadi malam, kudengar Om Anto cerita, kalau rumah itu ada hantunya.” Wily mendorong tubuh Miko menjauh dari jalan utama. (ini contoh kalimat pembuka yang langsung ke konflik).
                1. Berikan kejutan pada ending. Bisa dengan membuat beberapa alternative ending, mentwist ending, lalu memilih mana yang pas dengan tema cerita atau mana yang menarik perhatian pembaca. Berdirilah di posisi sebagai pembaca. Jika kita jadi pembaca, adegan apa yang kita sukai sebagai penutup cerita.
                2. Pastikan terbiasa menulis, membaca, merevisi dan mengedit berulang kali. Lalu biasakan juga membaca cerpen tersebut dengan suara lantang. Jika terasa letih membacanya, bisa jadi kalimat yang digunakan terlalu panjang dan tidak efektif. Jika terasa bosan membacanya, itu bertanda ada yang salah pada pemilihan kata, isi atau adegan.
                Demikian beberapa tips menulis cerita anak ini. Semoga bisa membantu. Kita sama-sama belajar ya. Semoga berkenan.
                Salam,

                Dian Onasis
                Profil pemateri :
                Dian Onasis. Menulis sejak tahun 2008. Beberapa prestasi yang dicapai, di antaranya : 

                Juara harapan dalam Lomba cerita anak bertema misteri Majalah Bobo (2009) 
                Masuk 10 Besar, cerita terbaik bertema IBU, versi Penerbit Qultummedia (2010) 
                - Beberapa kali, masuk 5 Besar, lomba Flash Fiction versi blog Multiply dan notes Facebook (2009 - 2012)
                Masuk 83 besar (audisi tahap akhir) Gradien Writing Audition 2012. (Dari 783 peserta - Pengumuman pemenang belum diketahui).  


                Hingga saat ini, buku yang telah dihasilkan, sebagai berikut : 

                Kategori Dewasa : 

                1. Persembahan Cinta (Penerbit Jendela : 2008) - Kontributor
                2. Long Distance Love (LPPH : 2009) - Kontributor
                3. Lovely Ramadan (Indie Publishing : 2010) - Kontributor 
                4. Duhai Muslimah Bersyukurlah (Penerbit Jendela : 2010) - Kontributor
                5. Setan 911 (Leutika : 2010) - Kontributor
                6. Dll 


                Kategori Anak : 


                1. FN Odie dan Rahasia Ransel Biru. (Tiga Ananda : 2011) - Penulis
                2. Kumcer Detektif Anak : Misteri Kunci Berbau Wangi (Pustaka Ola : 2011) - Kontributor
                3. Kumcerpen Anak Misteri : Rahasia Rumah Reyot (Talikata : 2011) - Kontributor
                4. Kumcer Anak : Dear Love for Kids (Hasfa Publisher : 2011) - Kontributor
                5. FN Odie dan Pencuri dari Negeri Layn (Tiga Ananda : 2012) - Penulis 
                6. Story Explorer : Fakhri Violinist (Tiga Ananda : 2012) - Co-Writer
                7. Gomawoyo, Chef! (Dar!Mizan : 2012) - Penulis
                8. The Cousins : Flama Elementa (Penerbit Pelangi Indonesia : 2013) - Penulis


                Selain itu, juga menjadi kontributor lepas untuk artikel edisi Ramadan di Jabartoday.com(2012) dan essay di Majalah Pena (2011-2010) milik Komunitas Mahasiswa Indoneisa di Arab Saudi. 
                Juga, sesekali, masih menulis untuk Jurnal Simbur Cahaya (Jurnal Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya) (1998 - sekarang)  



                No comments:

                Post a Comment

                Terima kasih telah berkunjung ke blog BaW. Mohon kritik dan komentar yang membangun untuk setiap postingan ;)