Wednesday, March 30, 2016

Strategi Jitu Menembus Media

Materi ini diberikan oleh pemateri undangan di grup facebook BaW Community, Yulina Trihaningsih pada tanggal 17 Maret 2016. Usai materi, ada sesi tanya-jawab dengan para anggota BaW. Silakan disimak yaa ...

Sulitkah menembus media? Bagi saya, iya. 


Siapalah saya? Seorang ibu rumah tangga, dengan tiga buah hati, yang sudah belasan tahun tidak pernah lagi menyentuh dunia fiksi. Saya memang suka membaca sejak kecil. Majalah Bobo, buku-buku petualangan Enid Blyton, Alfred Hitchcock, Bung Smas, hingga seri rumah kecil Laura Ingalls Wilder, koleksi mama saya, saya baca saat saya masih SD. Saya sangat terkesan dengan penggambaran kehidupan, budaya, dan geografis negara lain dari bacaan-bacaan itu. Buku melipat jarak dan waktu, sehingga saya merasa Inggris dan Amerika itu dekat saja. Efeknya, saya sangat suka berkhayal, dan punya banyak cerita di kepala saya. Saat itu, saya sudah mulai senang menulis cerita pendek, dan tugas mengarang dari pelajaran Bahasa Indonesia menjadi favorit saya.


Masa-masa SMP, saya masih suka menulis cerpen, hanya untuk dikonsumsi teman-teman dekat saja. Tidak pernah terlintas untuk mengirimkan tulisan saya ke media. Saya juga sangat suka menulis diary. Majalah Gadis, Anita Cemerlang, novel-novel Agatha Christie, hingga buku-buku komik seperti Candy Candy, adalah bacaan kesukaan saya saat itu.

Saat SMA, saya mulai berhenti menulis fiksi. Entahlah, saat itu saya merasa menulis bukan lagi prioritas saya. Dan ini berlangsung hingga saya menikah, hingga dikaruniai tiga orang buah hati. Setelah belasan tahun berlalu, saya mulai gelisah. Seperti ada yang kurang dan hilang dalam hidup saya. Lalu, bergabungnya saya dengan facebook, membuka pikiran dan mendekatkan saya kembali dengan aktivitas menulis. Saya bergabung dengan komunitas menulis, dan mulai ikut banyak proyek buku antologi. Hingga kemudian, saya bertemu status Mbak Nurhayati Pujiastuti, yang menawarkan mengikuti kelas Penulis Tangguh (PT), tempat belajar menulis untuk menembus media. Alhamdulillah, saya beruntung mendapat kesempatan belajar di kelas PT 1 selama kurang lebih tiga bulan.

Dari akhir 2012, saya fokus menulis untuk media. Pada awalnya, saya mencoba menulis untuk semua jenis tulisan. Cerpen dewasa, cerpen remaja, cerpen anak, hingga artikel ringan dan resensi buku. Tapi, kemudian, saya memutuskan fokus di jenis tulisan yang saya paling suka, yaitu cerpen dewasa dan cerpen remaja. Kenapa cerpen dewasa dan cerpen remaja? Karena, entah mengapa, saya selalu mempunyai gambaran manis di kepala saya tentang cerita dengan tokoh remaja dan dewasa. Saya merasa lebih mudah mengeksplore karakter tokoh, gaya bahasa, maupun konflik cerita pada dua jenis tulisan ini. Sementara, untuk menulis cerpen anak, terus terang saya masih merasa berat dan kaku. Walau, tentu saja, saya tetap berkeinginan bisa menulis di semua jenis tulisan. Namun, karena saat itu saya sudah bertekad bisa menembus media, maka saya putuskan untuk memilih fokus tulisan saya.

Hampir satu tahun tahun, belum ada satu pun naskah saya yang dimuat. Saya akui, saya bukanlah pejuang yang terlalu gigih. Saya tidak begitu sering mengirim ke media. Seminggu satu naskah saja sudah bagus. Media yang jadi sasaran uji coba saya adalah Gadis dan Kartini. Saya belum berani kirim ke Femina, karena banyak teman yang mengungkapkan sulitnya menembus Femina. 

Jadi, dari obrolan dengan teman-teman, saya mendapat bocoran, kalau Femina adalah majalah wanita dewasa yang paling sulit ditembus. Sementara, untuk majalah remajanya adalah Gadis. Dan saya sangat tertantang untuk bisa menembus keduanya. Setelah beberapa waktu, saya menambah ikhtiar. Saya perbanyak membaca contoh-contoh cerpen yang pernah dimuat di Gadis dari blog beberapa penulis (saya bersyukur dan merasa terbantu sekali dengan blog-blog ini). Sehingga, sedikit demi sedikit, saya mempunyai gambaran tentang karakter cerpen di Gadis.

Momen lomba cerpen Femina 2013 akhirnya menggerakkan saya untuk mencoba mengirim ke majalah ini. Saya buka web Femina, dan membaca banyak sekali cerpen-cerpen yang pernah dimuat di sana. Sampai mau mabok rasanya 
J Lalu, saya menulis Puber Kedua untuk saya ikutkan lomba. Tapi, saya berubah pikiran, dan memutuskan untuk mengirimkannya sebagai kiriman reguler dan karya perkenalan dengan redakturnya.

Bulan September 2013, saya sampai mengultimatum diri sendiri, harus ada karya saya yang tembus media bulan itu. Dan tepat di hari terakhir bulan September 2013, redaktur Gadis mengirim pesan lewat inbox FB, mengabarkan beliau sudah membaca cerpen saya.
Wah, saat masih berbunga-bunga dengan kabar itu, tidak berapa lama, datang telepon dari redaktur Femina yang mengabarkan akan memuat Puber Kedua. Mendapatkan kabar bahwa dua naskah saya akan dimuat di dua media yang terkenal berat dan ketat persaingannya, membuat saya nyaris tak percaya. Puber Kedua menjadi karya pertama saya menembus media di tahun 2013, disusul Melodi Aubrey di majalah Gadis.

Setelah itu, alhamdulillah, satu per satu karya saya berupa cerpen, artikel, dan resensi termuat di beberapa media, seperti Femina, Gadis, Irfan, Kartini, Kawanku, Good Housekeeping Indonesia, Paras, Bobo, Koran Jakarta, Dinamikanews, dan Tamanfiksi.com.
Kini, saya masih terus belajar dan berjuang untuk menembus media lebih banyak lagi. Termasuk koran yang masih serupa benteng tinggi untuk saya, hehe.

Jadi, sulitkah menembus media? Bagi saya, iya. Tapi, saya juga percaya, hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil dilakukan.

Pasuruan, Maret 2016 

Yulina Trihaningsih
Blog: yulinatrihaningsih.blogspot.co.id
Twitter: @yulin_atri



Karya Mbak Yulina

Tanya Jawab:


Berikut ini beberapa tanya-jawab di grup Facebook BaW community:

Kayla Mubara:


Mbak, maaf. Pernahkah pekerjaan rumah tangga terbengkalai karena menulis. Lalu untuk mengantisipasinya bagaimana? Terima kasih. Salam kenal, ya, Mbak.

Yulina Trihaningsih


Salam kenal, Mbak Kayla Mubara J
Err, sering kayaknya, hihi.
Dulu, saya selalu bagi tugas dengan suami. Ada pekerjaan-pekerjaan yang suami lakukan sebelum berangkat kerja. Saya menulis kalau anak-anak sudah berangkat sekolah. Pekerjaan RT saya buat skala prioritasnya. Yang penting didahulukan, yang kurang penting sesuai kondisi saja, hehe. Sekarang, alhamdulillah, ada ART “setengah har” untuk bagi tugas, Mbak Kayla. Tetap, saya menulis setelah anak-anak berangkat sekolah, disambi nyuci dan masak.

Naqiyyah Syam:


Mbak Yulina, kalau menulis banyak baca dulu atau mengandalkan ilham? Bagaimana menyeimbangkan bacaan dengan gali ide dari lingkungan aja?

Yulina Trihaningsih


Kalau untuk saya pribadi, buku-buku yang saya baca itu fungsinya seperti bank pengetahuan di kepala saya, Mbak Naqiyyah. Saya gak tahu kapan diperlukannya. Ide biasanya datang dekat dengan keseharian saya. Nah, saat eksekusi ide itu, bank pengetahuan di kepala akan bekerja. Jadi, kalau saya merasa buntu dalam menulis, berarti isi kepala saya kurang, hehe. Selain dari sana, riset yang memang sengaja saya lakukan sebelum mulai menulis, tentunya juga dapat memperlancar penulisan cerita. Tapi, selain persiapan isi kepala (akal) dengan banyak membaca, saya pikir persiapan raga dan jiwa juga tak kalah penting. Persiapan raga, tentu dengan menjaga kesehatan. Sementara persiapan jiwa dengan banyak mendekat dan berdoa kepada Allah. Saya terbiasa berdoa agar hati, tangan, dan akal saya dilembutkan, untuk dapat menulis kisah yang baik dan bermanfaat.

Hairi Yanti:


Jadi menurut Mbak Yulina Trihaningsih fokus satu genre dalam menulis itu penting? Saya ini, loh, Mbak, kepengin semuanya diembat, tapi ya tidak maksimal juga, sih hasilnya #curcol

Selanjutnya, Oky E. Noorsari dan Irra Fachriyanthi menanyakan hal yang sama.

Yulina Trihaningsih


Kalau bagi saya penting, Mbak Hairi Yanti, Mbak Oky E. Noorsari, Mbak Irra Fachriyanthi. Sebelum saya fokus di cerpen dewasa dan cerpen remaja, saya merasa gak maksimal. Kenapa? Karena agak sulit untuk saya menukar jiwa menulis yang sudah condong ke dewasa. Tapi, kalau dari dewasa ke remaja, saya masih suka, karena saya masih merasa nyambung. Mungkin, mungkin, lho, yaa, karena jiwa saya ini sebenarnya masih remaja hihi. Itu waktu saya kepengin banget bisa nembus media. Waktu sudah berhasil, alhamdulillah, baru deh saya mulai belajar melirik genre yang lain.

Ana Falesthein Tahta Alfina:


Mbak Yulina Trihaningsih bacaan apa yang paling menginspirasi? Siapa penulis yang paling disuka?

Yulina Trihaningsih:


Bacaan yang menginspirasi saya novel-novel klasik, buku-buku motivasi, dan kisah-kisah inspiratif dari buku Everyday Greatness. Penulis yang saya suka banyak, Mbak Ana Falesthein Tahta Alfina

Nia Hanie Zen:


Mbak, mau tanya. Bagaimana menentukan judul yang kece yang bisa menarik redaksi untuk melirik naskah kita?

Sugi Siswiyanti


Sugi Siswiyanti Mau banyak tanya, harus gantian sama teman lain. Dua pertanyaan cukup ya, Mbak Naqi. Tinggal dipraktikkan.

Yulina Trihaningsih


Saya juga masih belajar, Mbak Nia Hanie J. Saya sendiri suka judul yang simpel, dan agak-agak puitis, hehe. Tapi, yang gak kalah penting juga, paragraf pembuka kita, Mbak. Buat semenarik mungkin, sehingga redaktur tertarik untuk meneruskan membaca tulisan kita.

Avizena Zen :


Menulisnya.jam berapa, Mbak? Lalu sebulan baca berapa buku? Apakah harus ikut kelas menulis berbayar agar karya kita nembus media?

Yulina Trihaningsih


Biasanya, jam 7 pagi sampai siang jam anak pulang, Mbak Avizena Zen. Itu juga disambi ngerjain yang lain, hehe. (Untuk pertanyaan kedua): Nggak juga, Mbak. Motivasi terbesar untuk menulis dan menembus media itu datang dari diri kita sendiri, Insyaa Allah. Tapi, komunitas menulis bisa membantu kita untuk saling menyemangati.

Kalya Innovie :


Mbak,  nulis cerpen yang lembut dan mengiris-iris hati itu piye to? Apa karena pada dasarnya Mbak Yulin orangnya mellow? J

Yulina Trihaningsih


Haha, apa tulisanku itu mengiris-iris hati, Mbak Kalya Innovie? J Mellow? Hm, iya juga, sih. Karakter penulis suka terbawa dan terlihat di tulisannya, ya?

Vina Anne:


Selamat siang, Mbak. Sering terbawa perasaankah, setelah menulis cerpen? Soalnya saya baper membaca karya Mbak, hehe. Bagaimana supaya “tega” untuk meyiksa karakter, Mbak? Terima kasih sebelumnya.

Yulina Trihaningsih


Halo, Mbak Vina Anne J Biasanya saat menulis, saya memang berusaha masuk dalam perasaan tokoh, sehingga saya menuliskannya juga dengan hati yang bergetar, entah karena cinta, amarah, atau kesedihan. Saya sendiri juga gak tegaan dan cinta damai, hehe. Beberapa teman bilang mereka kesal karena saya gak tega dengan tokoh-tokoh saya.

Kalya Innovie:


Aku baca "Surat yang Datang dari Masa Lalu" sampai mingsek-mingsek. Bagaimana mengolah kata hingga menyentuh empati pembaca seperti itu? Kalau cerpen SyDdML itu idenya dari mana, Mbak?

Yulina Trihaningsih


Mingsek-mingsek itu apa, Mbak Kalya Innovie? J Hehe, entah, ya. Ya itu tadi, saya hanya mencoba masuk ke perasaan tokoh. Membayangkan bagaimana kalau saya yang ada di posisi dia. Apa yang saya rasakan, apa yang saya katakan, dan keputusan apa yang akan saya pilih.

SyDdML itu awalnya saya buat untuk lomba tentang Alzheimer. Idenya, tentang surat dari perempuan yang menderita alzheimer untuk mantan suaminya. Sayangnya, surat itu datangnya terlambat. Cerpen ini juga terinspirasi dari satu film Korea, A Moment to Remember, dan buku Ketika Ibu Melupakanku.

Kalya Innovie


Mingsek-mingsek itu terisak-isak, atau nangis sesenggukan, Mbak J. Makasih ya, tiga pertanyaanku dijawab semua. Semoga makin sukses di tahun-tahun mendatang, aamiin.

***

Apakah hanya ini tanya-jawabnya? Tidak, dong.
Kalau Kalian ingin tahu, bisa disimak selengkapnya di grup BaW.
Juga ada hal-hal menarik lainnya seputar dunia menulis, lho.
Silakan bergabung dengan grup BaW Community di facebook, yah J.

Karya Mbak Yulina

BIODATA PEMATERI


Yulina Trihaningsih, biasa dipanggil Yulin, lahir di Jakarta, 22 Juli 1978. Ibu dari dua putra dan satu putri yang cerdas dan aktif ini, menamatkan kuliahnya di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, dari peminatan Kesehatan Reproduksi. Saat ini berdomisili di Pasuruan, Jawa Timur. Sangat suka menulis kisah romantis, inspiratif, hingga cerita anak yang manis. Karya-karyanya berupa cerpen, artikel, dan resensi, termuat di beberapa media, seperti Femina, Gadis, Irfan, Kawanku, Kartini, Good Housekeeping Indonesia, Paras, Bobo, Koran Jakarta, Dinamikanews, dan Tamanfiksi.com. 


Untuk komunikasi bisa dihubungi di surel: yulinatrihaningsih@y­ahoo.co.id, blog http://yulinatrihaningsih.blogspot.com, akun twitter: @yulin_atri, atau akun facebook: Yulina Trihaningsih.

8 comments:

  1. Waah, terima kasih kesempatannya, BaW :)

    ReplyDelete
  2. Waaah seru banget, alhamdulillah sudah tayang, terima kasih Mbk Mugniar, terima kasih Mbk Yuli, BaW semoga semakin kereeen.

    ReplyDelete
  3. Terimakasih untuk informasinya!

    ReplyDelete
  4. Mantap, keren ini artikel.. thanks untuk infonya.. 😊

    ReplyDelete
  5. Mantap, keren ini artikel.. thanks untuk infonya.. 😊

    ReplyDelete
  6. Penasaran sama groupnya.. Khusus wanita aja sepertinya ya mba.. :)

    ReplyDelete
  7. Assalamu'alaikum mba :) saya Rodhiyatum Mardhiyah, bolehkah saya ikut bergabung dengan grupnya? karena saya sangat ingin menambah pengetahuan tentang menulis..saya tahu grupnya setelah membaca buku "Jomblo prinsip atau nasib" yang dipinjamkan oleh teman saya.. jujur saja setelah membaca buku itu saya menjadi sangat termotivasi dan merasa disemangati untuk menjadikan jomblo itu sebagai prinsip.. dan akhirnya saya membuka alamat-alamat blog yang diinfokan oleh buku itu.. dan saya bacalah tulisan ini, alhamdulillah sangat memotivasi sekali mba tulisannya :) terimakasih sekali mba :)

    ReplyDelete
  8. Hebatttt, untuk bisa sampai dimuat di majalah terkenal seperti Femina dan Gadis itu tidak mudah lho. Selamat ya. Saya juga sedang berjuang untuk bisa menerbitkan buku saya sendiri, ayo kita berdua sama sama semangat hehehe

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog BaW. Mohon kritik dan komentar yang membangun untuk setiap postingan ;)