Sunday, March 23, 2014

Baw Roadshow dan Bedah Buku Bawers (4)

Nah, sekarang kita akan intip sesi tanya jawab ketika bedah novelnya Irhayati Harun: RUMAH MANDE,  ya setelah di sesi berikutnya membahas novel dari Ade Anita. Buat yang belum baca sebelumnya, bisa lihat di tulisan yang dihyperlink ini.




Elita Duanita : Darimana Ide menulis novel Rumah Mande
Irhayati Harun : Ide menulis novel ini lebih dari satu. Mulanya ide muncul saat alm ibu saya cerita tentang kisah hidupnya terutama saat pertama kali menikah dengan abak saya lewat perjodohan ala siti nurbaya. Mulanya ibu saya menolak karena bapak saya waktu itu berstatus duda dan sudah memiliki 5 orang anak. Sementara ibu saya masih muda belum genap 20 thn. Intinya akhirnya ibu saya bisa mencintai abak (bapak) saya meskipun awalnya dijodohkan. Kedua ide muncul lagi untuk merubah temanya yang tadinya tentang air mata surga menjadi rumah. Sehingga saya masukkanlah cerpen Rumah Mande yang menjadi tema besar novel ini. Cerpen ini pernah terpilih menjadi cerpen pilihan pembaca annida online nop 2009. Digambarkan bahwa dalam adat minang rumah merupakan hak bagi perempuan meskipun sudah menikah. Maka perempuan tetap bisa dan harus menempati rumah Mamaknya tanpa harus tinggal di rumah suaminya. Jadi rata rata suamilah yang mengikuti tempat tinggal istrinya. Begitu pun dalam hal warisan, jatah perempuan lebih besar dari laki laki. Untuk itulah perempuan lebih memiliki kuasa dari laki laki. Novel ini juga menceritakan kenangan suka dukanya ibu saya dalam hidupnya termasuk dalam membesarkan kami anak anaknya. Meskipun tidak seratus persen dari kisah nyata. Sehingga begitu rumah nya hancur karena gempa, seorang ibu dalam tokoh ini yaitu Mande sangat sedih dan kehilangan karena merasa kenangannya juga ikut hancur. Oleh anaknya Upik dan Hilman , Rusli , rumah tersebut pun dibangun kembali. Namun disaat rumah itu jadi, Mande tokoh utama novel ini malah tidak jadi menempatinya. Untuk mengetahui endingnya silahkan teman teman baca novel ini yah hehehehe promosi

Elita Duanita : Apa Kendala Dan Kesulitan Dalam Menulis Novel Ini
Irhayati Harun : Kendalanya karena novel ini saya satukan dengan kumpulan cerpen saya berlatar sumatera barat. Saya pun harus bekerja keras mencari benang merahnya agar bisa disatukan menjadi novel. Selain itu saya harus kembali merubah sudut pandang setiap cerpen saya agar sama dengan sudut pandang di dalam novel ini. Kendala lainnya saya merasa tidak bisa mengalir menuliskannya karena emosi yang terlibat ketika menulis novel ini terutama saat menulis kisah sedihnya yaitu ketika menceritakan tentang ibu saya yang harus berjuang melawan kankernya. Sehingga sering mandeg dan menyerah untuk meneruskannya. Sehingga setelah dua tahun baru naskah ini saya ajukan ke penerbit mayor dan di acc dalam dua minggu.


Elita Duanita : Mengapa Memilih Berduet?
Irhayati Harun : Seperti yang saya sebutkan diatas bagi saya ternyata menulis kisah sendiri lebih sulit karena emosi ikut terlibat sehingga merasa tak sanggup untuk menuliskannya sendiri. Ditambah lagi deadline yang cepat harus selesai dalam waktu 2 minggu. Padahal waktu itu saya lagi di Medan menjenguk mertua yang sakit selama sebulan. Otomatis saya tak punya waktu menyelasaikannya karena harus mondar mandir ke rumah sakit bersama suami. Belum lagi deadline yang lain sudah menunggu untuk segera diselesaikan. Untungnya teman duet saya Uda Agus begitu menguasai tema berlatar Sumbar karena dia juga asli Padang. Ditambah lagi pengalamannya dalam dunia tulis menulis yang sering memenangkan lomba. Apalagi tulisan kami banyak kesamaannya Klop deh!

Elita Duanita : Novel Ini Memakai Alur Maju Mundur. Bagaimana Tips Menulis Novel Dengan Alur Seperti Ini Dengan Baik ?
Irhayati Harun : .Tipsnya tulis dulu bab demi bab agar bisa mengalir dalam menuliskannya. Baru nanti dicari anti klimak atau titik cerita yang penting untuk ditaruh di depan. Dimana endingnya tetap diakhir cerita. Satu hal lagi usahakan untuk menulis masa kini atau masa lampau dalam satu bab jadi jangan dicampur campur malah bingung. Teman teman bisa membaca novel pulang leyla s chudori yang memakai alur mundur maju. Juga novel Twilight

Elita Duanita : Apa Pesan Yang Ingin Disampaikan Lewat Novel Ini

Irhayati Harun : Bahwa sosok ibu tak tergantikan karena dalam kenyataannya kita lebih dekat dan banyak curhat pada ibu. Jadi begitu ibu kita tidak ada, tak seorang pun mampu menggantikan sosoknya yang lemah lembut, memiliki kasih sayang tanpa pamrih. Untuk itu sayangi dan hormatilah ibu kita selama masih ada. Pesan lainnya yang ingin saya sampaikan dalam novel ini bahwa sejelek jeleknya sebuah rumah, tetap menyimpan kenangan indah dan kehangatan bagi penghuninya. Sehingga kemanapun kita pergi, suatu saat pasti ingin kembali lagi ke sebuah tempat yang bernama rumah!

1 comment:

Terima kasih telah berkunjung ke blog BaW. Mohon kritik dan komentar yang membangun untuk setiap postingan ;)