Monday, December 9, 2013

Siaran Be a Writer di Radio 103,4 DFM Jakarta

Aida MA dan Eni Martini

Komunitas Penulis Produktif, Be a Writer Indonesia
(Bincang-bincang di DFM Radio)

By: Aida, MA



Saya, anda dan semuanya tentu sepakat, bahwa kita makhluk sosial, yang butuh saling interaksi dan berkomunikasi. Bukan hanya dalam kehidupan nyata, namun interaksi ini juga berjalan intens dalam dunia maya. Katakanlah banyaknya media sosial yang tersebar di dunia maya, ternyata sudah menciptakan sebuah dunia yang baru meski berbatas layar dengan kode etiknya sendiri. Termasuk kemungkinan terbentuknya sebuah komunitas setelah komunikasi yang intens antara satu orang dengan yang lainnya, karena memiliki minat (interest) dan tujuan (common) yang sama.


Karena komunikasi dunia maya inilah akhirnya saya, Eni Martini dan Muhammad Mubarok bersepakat hadir di talkshow komunitas, Radio DFM Jakarta. Kami mewakili sebuah komunitas penulis yang sudah berdiri 2 tahun di media massa Facebook,  Be a Writer Indonesia demikian sebutannya. Komunitas penulis yang didirikan oleh Leyla Hana (Kepala Sekolah) ini baru berdiri sekitar 2 tahunan, beranggotakan 100 orang lebih dengan aturan-aturan yang dibuat sedemikian rupa dan diberlakukan dalam komunitas ini.

Rabu, 4 Desember yang lalu, pukul 1 siang Be a Writer Indonesia, yang nantinya akan saya singkat dengan BAW saja, hadir di radio DFM Jakarta. Saya datang lebih dulu, pukul setengah 1 siang, menyusul mba Eni Martini dan terakhir Mubarok tiba lima menit sebelum jadwal on air.

Namanya sebuah komunitas dengan 100 lebih akun di dalamnya, tentu tidak semuanya bisa saling komunikasi dengan intens, termasuk Mubarok dengan saya atau dengan yang lainnya. Saya mungkin bisa lupa judul buku yang ditulis Mubarok, tapi Eni Martini lebih gawat lagi, salah menyebutkan nama Mubarok (xixixix) dengan nama Husein (Mungkin maksudnya Andri Husein?)

Kami bertiga sebenarnya hanya sebagai perwakilan saja dari BAW. Eni Martini mungkin yang jauh lebih faham bagaimana proses awal berdirinya BAW ini, sementara saya dan Mubarok banyak menempatkan diri sebagai anggota biasa dan pengamat saja di BAW.

Vicky Ismaya, penyiar radio DFM membuka obrolan siang itu tentang pertanyaan  sejarah berdirinya BAW Indonesia. Obrolan ini semakin seru saat kita membicarakan bagaimana aturan-aturan yang ada dalam komunitas BAW. Istilah-istilah seperti remove, reward dan punishment mulai muncul di sini.

BAW Indonesia mungkin memang komunitas penulis yang berbeda dengan komunitas penulis lainnya. Belum pernah ada komunitas online yang memiliki jadwal-jadwal tertentu setiap harinya, apalagi kemudian setiap minggu ada petugas yang harus melaksanakan tugas sebagai wujud keseriusan mereka dalam komunitas ini.

Bagaimana jika tidak mengerjakan tugas? Tanya Mas Vicky Ismaya lagi. selalu ada warning”Remove” atau bu KepSek, Leyla hana sering menyingkatnya dengan huruf “R” saja. Bukan sama sekali bertujuan untuk menakut-nakuti, namun ternyata warning dengan huruf “R” tersebut mampu membuat anggota yang bersekolah di BAW Indonesia belajar practice menulis setiap harinya, minimal setiap minggunya.

Saya pikir bu KepSek Leyla Hana memang punya visi ke depan dengan istilah “R”. Dalam ilmu kejiwaan pun demikian, bahwa seseorang biasanya akan bergerak saat ia ditekan atau dijanjikan sebuah reward. Dan inilah yang terjadi di BAW Indonesia, namanya komunitas menulis, maka tentu saja kegiatan utamanya adalah practice menulis, tidak malu menunjukkan hasil tulisannya, bahkan saat memenangkan sebuah tantangan, mentor-mentor di BAW rela memberikan reward, itu yang sudah saya dapatkan bersama sahabat duet saya Elita Duatnofa untuk duet buku KETIKA CINTA HARUS PERGI, mendapatkan reward dari mentor Riawani Elyta.

Selain membahas tentang istilah “R” Mubarok berkesempatan menceritakan bagaimana pertama kali ia mendapat tugas dan mem-posting tulisannya (resensi) di BAW Indonesia.

“Saya dibully…” kata Mubarok lalu disambut tawa kami semuanya. Mubarok mengistilahkan dirinya dengan “panci yang diisi sayuran, lauk dan segala macam, dan ini butuh kompor untuk mematangkannya.” BAW bisa jadi kompor untuk mematangkan itu semua. Begitulah BAW di mata anggotanya, ada proses pematangan ide, teknik dan gaya penulisan yang dibahas ketika setiap anggota mendapat tugas dan menyetor tugasnya di kelas.

Terbukti seriring berjalan satu demi satu anggota BAW Indonesia melahirkan karya mereka masing-masing, baik itu yang dipubllish di media massa, ataupun karya dalam bentuk buku nonfiksi dan novel. Di sini giliran Eni Martini yang menyebutkan beberapa contoh anggota BAW yang akhirnya menelurkan buku-buku mereka, Pujia Achmad, Binta Al Mamba, Rantau Anggun, Elita Duatnofa, dll….Ajaib… Tahun ini seperti sebuah pameran buku di BAW.

Ini yang selalu saya katakan dengan istilah longterm induction. Akan ada yang terinduksi saat kita berada dalam sebuah komunitas. Saat senior-senior produktif, maka anggota-anggota lain pun bersemangat menelurkan ide-ide mereka dalam bentuk buku atau tulisan di media massa.

Selama talkshow berlangsung ada beberapa orang pendengar yang menanyakan bagaimana bergabung dengan BAW Indonesia, atau apakah BAW Indonesia sudah memiliki books gallery khusus untuk buku-buku penulis di BAW Indonesia.

Eni Martini selaku bundamin @BAWCommunity mengajak pembaca untuk bergabung di twitter BAW Indonesia, sebagai tahap awal bergabung dengan BAW Indonesia, selanjutnya untuk belajar beberapa tips menulis bisa join di www.bawindonesia.blogspot.com sementara untuk masuk ke kelas belajar bersama mentor dan guru-guru lainnya di facebook. Harus menunggu kursi kosong dan persetujuan bu KepSek Leyla Hana.

Sementara untuk books gallery buku-buku anggota BAW, saya pikir ini bisa dipikirkan bersama nantinya, sangat bagus jika BAW punya sebuah gallery buku minimal online @GallerybukuBAW, bisa mengarahkan pembaca bagaimana mendapatkan buku-buku dari penulis BAW, sekaligus sebagai ajang promo buku-buku anggota BAW.

Akhir dari obrolan ini adalah sapaan untuk teman-teman BAW di seluruh nusantara dan sebagian ada di luar negeri. Karena berjumlah 100 orang lebih, kami bertiga sedikit lupa untuk menyebutkan nama-nama teman BAW semuanya. Mohon untuk bagian ini dimaafkan ya (heheh).

Hanya satu pertanyaan yang mungkin kita bertiga tidak bisa menjawabnya, mengapa nama komunitas ini diberi nama Be a Writer Indonesia? Saya yakin ini ide orisinal dan harapan-harapan besar dari bu KepSek untuk anggotanya agar kelak menjadi penulis-penulis besar di Indonesia. Amin…

*****
Jakarta, 7 Desember 2013
Pukul 7.13 WIB
Aida, MA

3 comments:

Terima kasih telah berkunjung ke blog BaW. Mohon kritik dan komentar yang membangun untuk setiap postingan ;)