Thursday, April 3, 2014

Bincang-bincang dengan Aida MA

      Di awal april ini, kakamin BaW punya sajian special untuk blog BaW. Kita berhasil bincang-bincang dengan penulis produktif yang satu ini : Mbak Aida MA. Yuk, simak bincang-bincang kita di bawah ini. 

     Halo, Mbak Aida, pertanyaan pertama dari BaW adalah kapan Mbak Aida mulai suka menulis dan kenapa menulis yang Mbak Aida sukai?
Jawab : 
Menulis itu sudah tertanam dan menjadi salah satu hal yang saya sukai saat saya masih kecil. Keluarga saya, khususnya ayah saya punya pustaka pribadi di rumah, dan saya selalu dibiarkan bermain di antara tumpukan buku-bukunya. Saya dibiarkan melihat tulisan yang sedang beliau tulis, ayah saya suka menulis buku-buku how to, kira-kira buku tentang tata cara manasik haji, kumpulan khutbah dan beberapa buku terjemahan dari bahasa Arab ke Indonesia yang kemudian dicetak oleh departemen Agama di daerah tempat kami tinggal.

Sebenarnya saya suka banyak hal, saya suka menyanyi, membaca puisi, berkebun dan bahkan saya suka menjadi penata rambut seseorang (heheheh). Namun memang dunia menulis yang lebih serius saya tekuni. Menulis, bagi saya bukan hanya sekedar suka-sukaan, namun ada ide dan gagasan saya yang bisa saya sampaikan kepada orang lain lewat sebuah tulisan, jika apa yang saya tulis baik, maka inshaa Allah akan memberi kontribusi kebaikan pula untuk orang lain.

Apakah Mbak Aida punya buku yang menginspirasi dan sering jadi panduan dalam menulis? Jika jawabannya ya, buku apa itu?
Jawab :
Saya agak kesulitan jika ditanya buku panduan dalam menulis. Jika buku yang menginspirasi banyak sekali. Dulu saat masih Aliyah, saya membaca buku-buku Sayyid Quthb, Dr.Yusuf Qardhawi.  Mulai kuliah, saya banyak hunting buku-buku Kahlil Qibran, dan buku-buku sastra lama yang generasinya jauh sekali dengan saya. Sekarang, bacaan saya bervariasi, saya memang penikmat buku-buku Nonfiksi, Psikologi, Motivasi popular. Sementara buku-buku fiksi-sastra ada beberapa yang saya baca seperti Haruki Murakami, Chetan Baghat, Remy Silado.


Buku apa yang paling menginspirasi bagi perkembangan teknik menulis Mbak Aida?
Jawab :
Sejujurnya, saya bukan orang yang banyak berkutat dengan teknis menulis. Saya punya enneagram Observer, saya banyak memperhatikan saja, mengapa buku ini best seller, atau mengapa buku ini disukai banyak orang. Lalu saya pelajari bagaimana si penulis menuangkan idenya. Saya belajar banyak hal dengan autotidak, cara saya belajar ya seperti itu, menjadi observer sejati. Termasuk jika saya ingin tampil membacakan puisi misalnya, saya akan bolak balik youtube melihat mimic seseorang, bagaimana intonasi ia saat berbicara, bagaimana gesture tubuhnya dan sebagainya.


 Apakah anak-anak Mbak Aida nantinya juga diarahkan menjadi penulis?
Jawab :
Anak saya sampai dengan saat ini banyak menunjukkan sisi kecerdasan olah tubuh, dia juga punya intelegensia superior, dia suka menari, bernyanyi dan melukis. Menulis mungkin akan diarahkan sebagai kemampuan yang harus ia miliki nanti, bukan sebagai profesinya. Karena menurut saya, apa pun profesi kita, dokter kah, motivator kah akan selalu ada nilai plus jika kita mampu berbagi ilmu tersebut lewat tulisan dan harapannya bisa dibaca banyak orang.

Apakah keluarga mendukung kegiatan Mbak Aida dalam dunia menulis?
Jawab :
Ya, saya sangat butuh dukungan penuh dari keluarga. Mereka banyak saya kenalkan pada dunia menulis yang tidak semua orang bisa memahaminya. Terkadang seorang penulis ini mirip-mirip seorang peneliti, yang mengerjakan sesuatu dan dengan cara kerja yang tidak normal dengan orang lain. Makanya saya butuh menjelaskan posisi pekerjaan seorang penulis, sehingga saat mereka memberi dukungan penuh, dan dibarengi cinta di sana, maka akan banyak lagi karya-karya yang inshaa Allah bisa saya lahirkan.

Apa yang menjadi cita-cita masa kecil Mbak Aida? Apa ada hubungannya dengan dunia menulis?
Jawab :
Sama seperti anak-anak yang lainnya, cita-cita saya berubah-ubah sesuai perkembangan usia dan pemikiran. Saya pernah ingin jadi penghafal Quran karena kakak saya Hafidzah 30juz, saya juga punya cita-cita jadi dokter karena ibu dokter di dekat rumah saya baik sekali :D, meski cita-cita saya terus saja berubah-ubah, tapi kesenangan saya menyusun banyak prosa dari SD sampai saya kuliah terus berjalan. Ternyata terakhir, Allah mengarahkan jalan saya memang menjadi seorang penulis.

Kalau impian yang ingin Mbak Aida wujudkan sekarang apa?
Jawab : 
Saya ingin punya penerbitan sendiri, menerbitkan buku-buku yang bisa mendekatkan Buku itu sendiri dengan pembacanya sehingga semakin banyak yang senang baca dan cinta buku, dengan punya penerbitan sendiri saya juga ingin menambah jumlah buku-buku yang terbit di Indonesia, karena perbandingan buku-buku yang terbit di Indonesia dengan United Kingdom saja itu sangat jauh. Padahal jika dilihat jumlah penduduknya, UK hanya seperempatnya jumlah penduduk Indonesia, namun bisa menerbitkan buku lebih banyak dari Indonesia. Dan satu hal lagi saya juga ingin menjadi mitra yang baik untuk rekan-rekan penulis lainnya, karena pengalaman saya bekerja dengan beberapa penerbitan ada yang kurang menyenangkan dalam hal promo dan perhitungan royalti.

Mbak Aida bisa produktif banget bikin buku fiksi dan non fiksi secara berimbang, Apa Mbak Aida punya jadwal menulis secara khusus setiap hari?
Jawab :
Benar, saya punya jadwal sendiri yang sudah solid, dua jadwal menulis saya adalah pagi dan sore hari. Saya tidak menulis di waktu weekend dan saya tidak menulis di malam hari, saya sudah berhenti bergadang. Tapi kalau ada deadline Alhamdulillah saya bisa menulis kapan pun ada waktu, dan situasi yang berisik sekali pun.

Buku-buku solo Mbak Aida apa saja yang sudah diterbitkan?
Jawab : 
Buku Motivasi Ya Allah Beri Aku Kekuatan terbitan Quanta, Elexmedia, Novel Looking For Mr.Kim, Sunset in Weh Island dan The Mocha Eyes, yang semuanya diterbitkan oleh Bentang Pustaka.

Dalam waktu dekat ada buku apa lagi yang rencananya akan segera terbit?
Jawab :
Inshaa Allah yang segera terbit di April ini adalah buku motivasi remaja YA RABB, AKU GALAU. Diterbitkan oleh Erlangga, divisi islami. Buku ini menghadirkan psikologi remaja, parenting untuk orang tua bagaimana sebaiknya mendampingi remaja yang sedang mengalami perubahan hormone dan pemikiran. Inshaa Allah buku ini mencerahkan bukan hanya bagi remajanya, tapi juga bagi orang tua yang diharapkan bisa menjadi sahabat bagi anaknya sendiri.

Di antara semua buku Mbak Aida, buku yang mana yang proses menulisnya paling cepat dan yang mana yang paling lama?
Jawab : 
Debut Novel saya yang pertama itu Looking for Mr.Kim saya selesaikan dalam waktu 2 minggu, benar-benar modal baca buku dan niat banget karena ingin sekali ikutan lomba novel remaja Bentang Pustaka waktu itu. Kalau yang paling lama mungkin buku Ya Allah Beri Aku Kekuatan. Sebenarnya bukan lama dalam penulisannya, karena itu kisah nyata, dan dicollecting dalam beberapa tahun, sejak tahun 2008 sd 2010. Baru kemudian saya tawarkan ke penerbit dan terbit di akhir 2012.

Di antara buku Mbak Aida yang sudah terbit, mana yang paling berkesan buat Mbak Aida?
Jawab :
Hampir semuanya punya kesan masing-masing. Kalau yang paling berkesan The Mocha Eyes, karena selama penulisan novel itu ada problem dengan laptop saya, berkejar-kejaran dengan deadline yang mepet itu kadang menyenangkan sekaligus menyesakkan (heheheh) satu hal lagi lewat The Mocha Eyes, saya jadi banyak diundang pembaca untuk bedah buku dan sharing kepenulisan, Alhamdulillah.

Darimana semua ide atau inspirasi itu datang mengingat dalam waktu yang tidak berjauhan buku fiksi dan non fiksinya terbit?
Jawab :
Kalau sudah ngomongin ide, saya pikir kita semua engga kekurangan ide untuk menulis. Sebagai penulis, ada baiknya sesekali menjadi seorang observer. Saya terbiasa bekerja di tengah-tengah keramaian, di Sevel misalnya, kedai kopi yang lainnya, kadang juga di foodcort di jam-jam makan siang. Kenapa? karena ide banyak bermunculan di sana. Saya menggunakan konsep 5P 1H untuk menangkap ide. Gunakan 5 panca inderamu untuk menangkap ide, dan hadirkan hati di sana agar mudah dieksekusi kemudian dalam sebuah tulisan.

Mbak Aida sangat produktif menulis, biasanya ketika ide cerita muncul langsung diolah atau diendapkan dulu?
Jawab :
Saya orang yang terbiasa membawa buku, notebook + pulpen kemana pun saya pergi. saya juga manusia gadget, karena saya menggunakan fasilitas note di smartphone saya, bagi yang udah pernah ketemu saya pasti tahu, saya selalu membawa ransel kemana pun saya pergi, dan ransel itu berisi laptop.  Biasanya begitu ada ide, saya terbiasa menuliskan garis besarnya saja, hanya garis besarnya saja dan ketika saya sudah menuliskannya di notebooks atau note di BB saya, berarti saya sudah melocking ide itu untuk dikembangkan di laptop, walau pun itu baru dikerjakan seminggu ke depan atau bulan depannya, yang penting garis besarnya sudah ketemu. Buat sebagian orang mungkin ini agak berat, namun buat saya ini bagian dari kebahagiaan saya.

Pernahkah Mbak Aida berada dalam situasi sudah menuliskan naskah sebuah buku berpuluh-puluh halaman tapi kemudian kebingungan untuk melanjutkannya? Jika pernah bagaimana Mbak Aida mengatasi situasi tersebut? Jika belum pernah, kalau ada penulis yang mengalami hal tersebut, apa saran Mbak Aida untuk penulis itu?
Jawab : 
Pernah.. saya pikir semua penulis pernah mengalami masa-masa seperti ini. Biasanya karena pikiran sedang crowded, slot pekerjaan nambah, termasuk bahan-bahan yang ditulis belum lengkap. Saya punya satu naskah yang sudah 2 tahun saya kerjakan. Ditulis, diendapin lagi, besok ditulis lagi diendapin lagi. Memang butuh waktu lama untuk menghasilkan karya yang sudah dipikirkan dengan baik-baik. Kalau stuck di jalan usahakan pikiran lebih rileks, saat pikiran rileks biasanya kita akan lebih tahu apa yang harus diisi dalam bab ini, apa yang harus ditambahin, dsb.

Kalau mengeksekusi ide ke dalam tulisan apa perlu suasana khusus semisal harus dalam suasana sepi atau bisa di mana saja?
jawab :  
Di awal-awal memutuskan menulis, saya memang banyak mengambil waktu dan tempat yang orang jarang terbangun. Biasanya malam hari. Semakin kemari saya semakin  menikmati menulis di mana pun. Malah sebagian besar memang di keramaian, bukan di sudut kamar lagi J.

Biasanya menulis di mana, Mbak Aida? Apa harus di laptop atau bisa menggunakan fasilitas tablet atau ponsel?
Jawab : 
Saya eksekusi ide hampir selalu di laptop. Tapi untuk menangkap ide biasanya menggunakan notebooks dan pulpen lalu bisa di note BB. Fasilitas tablet sangat jarang saya gunakan untuk menulis, kebanyakan untuk riset, browsing dan baca berita saja.

Waktu yang tepat untuk menulis biasanya jam berapa dan berapa lama dalam 24 jam sehari semalam? Soalnya pernah baca salah satu status di fb Mbak Aida yang bisa menyelesaikan tulisan 56 halaman hanya dalam 1 malam aja.
Jawab : 
56halaman/hari itu rekor yang sudah lama berlalu. Saya juga ingin mengulang rekor itu lagi, tapi sepertinya batasan kemampuan saya untuk saat ini memang 56halaman/hari ketika dipepet deadline. Normalnya saya menulis 10 halaman dalam kondisi weekday, karena weekend saya tidak menulis. Habit menulis yang saya bentuk dua tahun terakhir ini adalah pagi hari sesudah mengantar anak saya ke sekolah, dan sore hari sesudahshalat ashar. Jadi, buat teman-teman yang sering kadang nulis kadang enggak saran saya buat habit menulismu masing-masing, kenapa kata sesudah  saya ketik italic, karena itu penanda waktu untuk membuat habit. Mengapa harus menyusun habit menulis? karena begitu ada kendala dalam beberapa hal yang engga memungkinkan untuk menulis, biasanya saat memulai lagi, bisa diawali lagi dengan mudah, karena habitnya sudah terbentuk.

 Bagaimana cara membagi waktu antara menulis dan keluarga?
jawab : 
Saya hanya menulis weekday, sementara weekend adalah waktu untuk keluarga. Kalau saya sedang ada deadline, saya akan meminta ijin dulu ke keluarga. Ya intinya ada pengertian saat pilihan ini kita pilih. Bukan hanya pilihan saya sebagai istri sekaligus berprofesi sebagai penulis, tapi juga pilihan anak dan suami saya yang memiliki istri seorang penulis. Semuanya dikomunikasikan.

Apa trik mbak Aida sehingga selalu bisa mencari sudut pandang lain dari suatu tema yg sudah banyak dituliskan oleh penulis lain, terutama dalam penggarapan buku-buku nonfiksi?
Jawab : 
Saya orang yang senang jalan-jalan, dan Allah menjodohkan saya dengan laki-laki yang lebih gila jalan-jalan, dan anak kami pun ikut-ikutan suka jalan J. Sebelum menulis sebuah buku, saya terbiasa jalan-jalan bukan hanya jalan-jalan di toko buku, tapi juga jalan-jalan di web penerbit-penerbit. Kalau saya lagi jalan-jalan mencari ide dengan tema yang sama dengan yang ada di pasaran, biasanya saya nongkrong toko buku sekitar sejam-an, saya juga suka diskusi dengan editor-editor di penerbitan. Saya suka kenalan dengan orang-orang yang berhubungan dengan apa yang sedang saya garap. Biasanya itu akan menghasilkan karya yang berbeda dengan eksekusi yang berbeda pula.

Bagaimana cara Mbak Aida menghadapi kritik-kritik terhadap karya Mbak Aida?
Jawab :
Saya termasuk orang yang sering membaca komen-komen pembaca saya baik di goodreads dll. Sebagian ada yang suka, sebagian lagi jika dibaca ya kurang menyenangkan. Kembali lagi, saya ini tipe observer, sanguine, dan tidak begitu reaktif ketika ada saran yang bersifat kontsruktif atau pun destruktif sekali pun ditujukan pada karya-karya saya. Saya terbiasa menyimpan kedua hal tersebut, misal kelebihan saya dalam mendesign setting, tapi saya buruk dalam hal plot misalnya, saya akan menyimpan dua hal ini untuk didiskusikan dengan penulis-penulis lain, atau saya akan melatih lagi kemampuan saya dalam hal yang dianggap masih kurang baik bahkan buruk. Bisa jadi, hari ini tulisan saya masih dianggap buruk, namun ke depan bisa menjadi lebih baik, ketika saya menerima kelebihan dan kekurangan saya dalam berkarya secara berimbang.

Bagaimana menurut Mbak Aida, jika ada seorang penulis yang menolak memberi "ilmu" kepenulisannya dengan alasan jika penulis pemula mau menulis nggak perlu banyak nanya yang penting semangat  menulis, baca karya yang menginspirasi (penulis idolanya) dan bisa otodidak saja?
Jawab :
Saya bisa dikatakan masuk dalam dunia penulisan masih seumur jagung, namun keinginan saya untuk berbagi itu lumayan besar. Memang ada penulis yang lebih suka ilmunya untuk dirinya sendiri, bukan karena pelit menurut saya, tapi memang tidak semua penulis bisa menyampaikan bagaimana cara dia belajar, lalu menemukan teknis-teknis menulis yang mudah dan hal ini terkadang sulit diserap oleh penulis pemula. Namun ada juga penulis yang berpendapat, bahwa semakin banyak yang kuberikan maka akan semakin banyak yang kumiliki. Intinya tiap kita unik, saya tidak mau men-judge penulis yang enggan berbagi ilmu itu dengan pelit, karena dia pasti punya alasan tersendiri untuk itu.

Apa perlunya seorang penulis punya komunitas di bidang menulis?
Jawab : 
Sangat perlu. Saya baru memahami ini saat sering bergabung dalam komunitas penulis. Mengapa harus bergabung dalam komunitas penulis? karena setidaknya kita akan selalu punya semangat menulis karena punya tujuan yang sama dengan teman-teman di satu komunitas, dalam jangka waktu yang panjang biasanya akan terjadi long term induction ketika kita berada dalam sebuah komunitas dengan minat yang sama. Terinduksi secara bawah sadar itu sangat baik, daripada ditekan dalam posisi yang sadar. Makanya kemudian jangan heran ketika sebuah komunitas membernya bisa menerbitkan buku dalam jarak waktu yang berdekatan, itu semua karena longterm induction.

Sebelum di komunitas BAW, apa Mbak Aida pernah aktif di group kepenulisan lain? Mana yang paling betah? Dan mengapa?
Jawab :
Ada beberapa komunitas penulisan lainnya. Sama dengan di BAW saya banyak memosisikan diri sebagai pengamat, belajar banyak hal baru memberikan kontribusi yang kira-kira bisa bermanfaat dalam komunitas. Mengapa di BAW saya bertahan lama dan betah, mungkin karena komunitas ini akrab satu sama lainnya, selalu menyapa satu sama lainnya dan saling mendukung satu sama lainnya. Intinya sesuatu yang dibangun dengan kasih sayang, kata-kata pujian, dan saran yang membangun biasanya akan tumbuh dengan baik dibanding dengan komunikasi yang minim, banyak cercaan dan komplaine, lama kelamaan akan hancur secara pelan-pelan.

Sekarang BaW akan menjadi grup yang terbuka, sebagai Sekjen dari Grup BaW apa yang membedakan BaW dengan komunitas menulis yang lain?
Jawab : 
BAW kumpulan penulis-penulis humble dan mau belajar banyak hal, bukan hanya dalam lingkungan BAW sendiri namun juga di luar dari BAW, dan uniknya apa yang diperoleh di luar kemudian dibagi di dalam grup sehingga menghadirkan ilmu yang baru dan suasana yang akrab.  Dan itu sulit ditemukan di luar sana.

Mbak Aida MA dengan salah satu karya beliau

 Seberapa penting belajar menulis di group BAW menurut Mbak Aida?
Jawab :
Namanya belajar sesuatu menurut saya selalu penting. Bukan hanya belajar tentang materi teknis menulis yang bisa ditemukan di BAW, namun belajar maju bersama dan bangkit bersama itu pelajaran yang sangat luar biasa. Belajar menghargai orang lain, pendapat yang lain sehingga menjadi kompilasi warna yang unik di BAW, juga menjadi pelajaran yang penting buat saya.

 Apa harapan Mbak Aida untuk komunitas BaW ke depannya?
Jawab :
Harapan saya hanya satu, BAW akan selalu maju bersama, bermanfaat bersama dan membawa nama BAW ini bersama-sama sebagai salah satu komunitas inspiratif di Indonesia. Ini bukan jaman maju sendirian, namun majulah bersama-sama, agar semakin banyak manfaat yang mampu kita tebarkan bersama-sama saat kita bangkit, maju dan saling support bersama-sama.

Sebagai seorang penulis, terkadang kita harus siap ketika berbicara tentang buku kita di depan orang banyak. Bagaimana cara Mbak Aida supaya tampil percaya diri di depan orang banyak dan bisa menguasai pembicaraan? Bagaimana caranya menghilangkan situasi grogi dan canggung di depan umum?
Jawab : 
Sama halnya dengan menulis, berbicara di depan umum juga bagian dari proses belajar. Biasakan diri mengikuti banyak seminar-seminar dan pelatihan-pelatihan offline, beri penilaian terhadap pematerinya, bagian yang kurang dari si pemateri dan kelebihannya. Saya sendiri banyak belajar untuk mampu berbicara di depan umum, dari kegiatan workshop-workshop offline, saya tidak pernah ikut pelatihan public speaking, semuanya saya pelajari secara otodidak, bagaimana caranya? saya rajin menonton video Steve Jobs saat presentasi atau bagaimana Zag Ziglar memaparkan kalimat per kalimat, intonasi kata yang ia gunakan. Satu hal yang paling penting, kuasai audiens bukan memasang blocking, dekati audiens dengan demikian kita mampu menguasai mereka, sehingga apa yang kita sampaikan mampu diterima dengan baik.

 Terakhir, apa pesan Mbak Aida untuk semua pembaca blog BaW?
Jawab :

Untuk semua pembaca blog Be a Writer Indonesia. Kita setuju bahwa hidup ini bagian dari proses belajar. Bisa belajar dari pengalaman orang lain bisa juga belajar dari pengalaman sendiri. Jika ingin belajar dari pengalaman sahabat-sahabat di Be a Writer Indonesia, silahkan bergabung di sini, temukan sahabat-sahabat yang punya minat yang sama di sini, belajar dan maju bersama-sama, Inshaa Allah tidak ada yang sia-sia dalam proses belajar ini, namun menebarkan banyak manfaat untuk dibagi dengan yang lain lagi.

Bincang-bincang dengan Mbak Aida ini terasa sekali semangatnya yang menggebu-gebu. Terima kasih untuk waktunya, Mbak Aida :-)

3 comments:

  1. Makasih tips habit nulisnya mba. Saya masih semaunya aja..atau sesempatnya aja. Smoga impianya untuk penerbitan sendiri terkabul...:)

    ReplyDelete
  2. banyak ya tips tips berguna yang tersebar dari semua kalimatnya Aida ini. Suka deh. Menginspirasi

    ReplyDelete
  3. apa pun profesi kita, dokter kah, motivator kah akan selalu ada nilai plus jika kita mampu berbagi ilmu tersebut lewat tulisan dan harapannya bisa dibaca banyak orang.

    penuh dengan motivasi, ya, Kak Aida ... :-)

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog BaW. Mohon kritik dan komentar yang membangun untuk setiap postingan ;)