Showing posts with label Motivasi Menulis. Show all posts
Showing posts with label Motivasi Menulis. Show all posts

Sunday, October 20, 2013

[Tips Nulis] Tips Meminimalisir “Moody”

Aida MA

Sekitar tahun 2008, pertama kali menulis saya sempat punya masalah dengan mood, sebulan kadang hanya menghasilkan dua cerpen dengan jumlah halaman hanya 5 halaman saja, itu pun sudah dengan susah payah, mencari ide dan mengatasi kebosanan yang sering datang daripada menghilang (heheh)
Belakangan saya mulai memperhatikan bagaimana penulis-penulis senior melewati proses menulis mereka dari moody menjadi habit. Malah akuan sebagian senior, menulis sudah seperti candu bagi mereka, ibarat kecanduan caffeine bisa bikin sakit kepala, maka menulis pun seakan memiliki ruang hampa jika tidak dilakukan setiap hari.

Wednesday, October 9, 2013

YEAY! Be a Writer Menjadi 1 dari 6 Komunitas Keren Terpilih Liputan 6.Com

Alhamdulillah, kabar baik di bulan Oktober ini. Komunitas Be a Writer menjadi satu dari enam komunitas keren pilihan www.liputan6.com. Ada 72 komunitas yang mengikuti audisi, jadi rasanya senang sekali karena komunitas yang anggotanya hanya 100 orang ini bisa terpilih.

Saturday, September 7, 2013

Amatir dan Pro

Pembicaraan seputar Personal Branding untuk penulis, belakangan seolah nggak pernah habis dibicarakan. Tak sedikit pula yang membagi2 tips untuk membentuk personal branding secara maksimal demi mendukung marketing dan (mungkin juga) popularitas.

Jurus Menaklukkan Penerbit


Banyak sekali penulis yang menanyai pada saya bagaimana bisa menembus penerbitan. Karena memang setiap penulis punya harapan besar karya-karyanya baik yang ditulis di blog maupun yang belum dipublish ingin segera menemukan jodohnya, jodoh dengan penerbit yang bersedia menerbitkan sehingga karya tersebut bisa dibaca banyak orang bahkan menginspirasi banyak orang.

Sunday, July 7, 2013

Mau Dapat Order Nulis dari Penerbit? Ini Tipsnya!

Oleh: Riawani Elyta

Sebelum saya memulai catatan ini, perlu saya sampaikan bahwa ini nggak bermaksud menunjukkan kalau saya sudah berada di posisi “permanen” sebagai penulis yang hanya menulis “by order”, karena dinamika dalam dunia literasi juga terus berubah. Saya juga nggak tahu apakah sekian bulan atau sekian tahun ke depan saya masih akan tetap menulis dengan sistem ini, jadi, mumpung masih berada dalam lingkar ini, rasanya nggak ada salahnya untuk mencoba berbagi pengalaman.

Friday, July 5, 2013

Rahasia Penulis Bisa Kaya dari Ali Muakhir

 Oleh: Naqiyyah Syam

Naqiyyah Syam
Mas Ali Muakhir atau biasa disebut Alee mempunyai jam menulis setiap hari pukul 00.00 WIB sampai subuh. Jika anak-anak bangun, maka menulis dihentikan. Ini demi menghargai anak dan tugas sebagai Ayah (aduuh yang ini aku masih kedodoran, suka ngetik kalo ngejar DL walau saat bersama  anak-anak).

Monday, April 29, 2013

[Diary Day] Apa Yang Terjadi dengan Tulisanmu Saat Engkau Mati?



Sumber [link]
HAAAAh Uje meninggal ? Innaillahi wa inna ilaihi rajiun...

Begitu reaksi saya saat melihat postingan teman di FB mengenai kabar bahwa Uje meninggal dunia tempo hari. Setelah membaca status tersebut,  tebak apa yang saya lakukan?

[Diary Day] Beruntunglah

by: Oci YM


Ilustrasi by: Pipir Iyai
Seorang anak perempuan mendatangi ibunya. Ia bertanya tentang di mana Allah, saat satu persatu kebahagiaannya hilang. Mengapa Allah membiarkan hal tersebut terjadi padanya. Sambil tersenyum, ibunya berkata bahwa Allah ada bersamanya, di saat dia merasa satu persatu kebahagiaannya hilang. Lalu, ibu tersebut balik bertanya, apakah anak perempuannya tersebut menanyakan di mana Allah saat kebahagiaannya berlimpah. Anak perempuan tersebut terdiam, dan ia menggelengkan kepalanya.

[Diary Day] Optimis Memperpanjang Usia


Sahabat, apa yang kamu pikirkan tentang rasa optimis?

galaucerdas.com

Sebuah sikap yang melahirkan antusias bagi pelakunya untuk mencapai sesuatu. Asal kamu tahu ini adalah salah satu sikap yang dimiliki hampir semua orang sukses di dunia. Karena mustahilkan kan, kesuksesan itu bisa diraih oleh seseorang yang memiliki sikap pesimis? 

Elbert Hubbart menegaskan, “Nothing great has ever been accomplished without enthusiasm.”

Wednesday, April 10, 2013

Peran Penulis

by: Afifah Afra 
Tiga peran yang mesti kita mainkan biar kita bisa nulis dengan asyik:


Pertama, peran sebagai penulis
Saat kita tengah menjadi penulis, cueklah dengan siapapun, dengan kelebat pikiran seperti apapun. Pokoknya, apa yang sedang berkecamuk di otak, tuangkan! Jika perlu, pilih font berwarna putih, sehingga kita tak perlu tahu, tulisan apa yang sedang terpampang di monitor depan kita.

Kedua, peran sebagai editor
Ini terjadi saat semua isi kepala telah tertransfer di tulisan kita. Inilah saat kita berpikir, tulisan kita logis enggak, rancu enggak, bagus enggak dll. Inilah saat kita harus kejam, bengis, buas dan berani membuang hal-hal yang nggak penting.

When Can I See You Again?


Motivasi dari Owl (Link Gambar)
Pernahkah Anda menyaksikan pertengkaran otak kanan dan otak kiri? Pernahkah Anda mendengar bahwa orang berjenggot tidak seharusnya nonton kartun? Atau tahukah Anda bahwa Arul Chandrana sepupunya Owl City? Jika Anda ingin membuktikan ketidakbenaran semua isu tadi, baca sampai selesai tulisan ini.
***

Kapan kita bisa bermain lagi?
Kapan aku bisa menemuimu lagi?
Nyalakan langit dan bintang akan berkemilau untukmu
Pergilah keliling dunia karena semuanya begitu baru
jangan mata terpejam karena masa depanmu siap bersinar terang
hanya soal waktu saja sebelum nanti kita belajar terbang
selamat mengikuti irama malam
ada sesuatu di sana yang tak bisa kau acuhkan

Tuesday, January 29, 2013

Iri Positif

By Leyla Imtichanah 
Entah tulisan ini maksudnya untuk apa, cathar atau motivasi menulis? Apa pun, berhubung sedang ada kesempatan nulis, karena bayi sedang tidur dan kakaknya sedang diasuh ayahnya yang pulang lagi gak jadi ngantor gegara banjir, aku menyempatkan diri menuliskannya.
Setelah setahun lebih, kita berinteraksi di BaW telah banyak yang terjadi, positif maupun negatif. Positif, dengan adanya hubungan yang lebih erat di antara anggotanya, dari semula gak kenal jadi kenal, gak nulis jadi nulis, komentar serius jadi OOT, dan banyak lagi. Satu hal yang sangat nyata di BaW, Alhamdulillah dengan adanya aktivitas menulis yang rutin, baik dipanggil maupun tidak, beberapa anggota menunjukkan peningkatan dalam berkarya. Ada yang menang di lomba-lomba blog dan cerpen, ada yang semakin sering menerbitkan buku, dan lain-lain. Pencapaian itu sering kali dibagikan di grup, tentu saja tujuannya untuk berbagi semangat dalam berkompetisi.

Thursday, January 24, 2013

Si Bodoh yang Mencabik Buku Pelajarannya


Kisah Motivasi: Si Bodoh yang Mencabik Buku Pelajarannya

by: Arul Chandrana
berhitung adalah berkesasar
berhitung adalah berkesasar
Aku akan menceritakan kisah ini padamu. Tidak untuk membuatmu menyukai tulisanku atau untuk membuatmu terkesan atau memujiku. Tidak. Bukan karena semua itu. Tapi karena kisah ini begitu mendesak untuk kututurkan. Begitu penting untuk diketahui banyak orang. Kuyakin kau nantinya akan sangat setuju denganku bahwa memang kisah ini tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk disampaikan. Diperdengarkan. Dibacakan. Dibuat agar semua orang mengerti dan menyadari ada sesuatu yang besar di luar diri mereka. Yang sebenarnya juga terdapat dalam diri mereka. Sesuatu itu menunggu untuk dilecut dan dibangkitkan. Aku memikirkan mengenai semua itu. Inilah ceritaku.

Saturday, January 12, 2013

TIPS NULIS : Nulis genre beda? Sah-sah aja, asal.....

Oleh: Riawani Elyta
Menarik, saat mencari-cari referensi untuk postingan ini, saya bertemu kalimat ini di www.sabda.org, bahwa bukan penulis yang memilih genrenya, tetapi genre itulah yang memilih penulisnya, karena pada hakikatnya ketika menulis sebuah karya, penulis hanya menulis apa yang ada dalam hatinya. Batasan sebuah genre diciptakan untuk memudahkan pembaca mengenal dan mengapresiasi beragam karya, tetapi batasan itu sendiri, juga tidak seharusnya menjadi belenggu bagi penulis untuk berkarya. Itu sebabnya, tak jarang, penulis juga kerap tergoda untuk mencoba menulis berbagai genre.
Hal ini nggak hanya menimpa penulis yang udah menerbitkan beberapa buku saja, bahkan seorang penulis dengan jam terbang masih minim pun tak luput dari rasa bosan, saat harus menulis pada genre yang itu-itu saja, tak peduli meski dari naskah yang ia tulis, belum semuanya layak diterbitkan.
 Lalu, apa boleh gonta-ganti genre? Hari ini nulis roman, bulan depan ganti fanfic, bulan depannya lagi nulis komedi misalnya? Atau untuk yang nulis non fiksi, hari ini nulis motivasi remaja, besoknya parenting, besoknya lagi tentang finance misalnya? Ya boleh-boleh aja, karena yang namanya kreativitas itu susah ditahan maunya :D

TAMPARLAH AKU KAU KUKEJAR LALU KUGILAS :) - Part 1

Oleh: Riawani Elyta
Ternyata, judul itu memang harus eye-catching ya? :)
Part 1 dari catatan ini, sebenarnya masih versi recycling dari catatan jadoel saya yang judulnya "Dipuji or Dikritik, Kamu Pilih Mana?" Bedanya, kalau yang jadoel itu saya menganalogikan dengan permainan jungkat-jungkit, maka untuk yang ini, saya mencoba menganalogikan dengan...food. Ya. Makanan. My favourite :)
Apa yang kita rasakan saat mengecap makanan yang manis? Permen, es krim, or coklat misalnya? Pasti yang timbul adalah rasa nyaman dan terhibur, sehingga terkadang, sebagian kita cenderung melarikan diri dari persoalan dengan memakan makanan yang manis. Tetapi pada umumnya rasa manis ini hanya bertahan sekejap. Begitu melewati pangkal lidah dan meluncur ke tenggorokan, rasa manis itu pun akan lenyap. Dan meski pun makanan manis memiliki nilai gizi, kalau berlebihan mengonsumsinya, bisa berpotensi jadi penyakit, ya diabetes, obesitas, dsb.

Wednesday, January 9, 2013

Tentang Setting

by: Riawani Elyta
 
Catatan di bawah ini, seperti biasanya hanyalah berdasarkan pengalaman yang saya rasakan saat membaca buku. Jadi, bagi yang membutuhkan tips yang lebih tepat dan akurat, saya sarankan, lebih baik mencarinya di buku-buku panduan menulis atau pun info link yang memang lebih pas untuk itu.

Tak jarang, saat membaca sebuah novel,
elemen-elemen pendukung yang semestinya bisa membuat performa novel tampil lebih baik justru berefek sebaliknya, salah satunya dalam hal setting, atau latar cerita. Baik itu terkait setting waktu, tempat mau pun situasi sosial-kultural. Ada beberapa hal yang membuat deskripsi setting justru terasa mengganggu proses membaca, antara lain, sbb :

Pentingnya Pengendapan Tulisan

by: Shabrina WS
 
Lagi-lagi saya merasa pengendapan tulisan itu sangaaaat penting. Pengendapan satu jam, seminggu, atau bahkan sebulan atau bahkan tahun, rasanya tidaklah sama. 

Tulisan sy seminggu lalu barusan saya baca lagi, omg! rasanya aneh. Ping saya baca lagi, 
rasanya pengen banget nambahin halaman. Lalu Pelari cilik yang saya tulis tahun 2008, oh! waktu baca lagi...masih jauuuuuh sempurna dari sebuah novel anak.

Ada kalimat yang rasanya kepanjangan dan banyak banget tellingnya (memberitahu pembaca) daripada showingnya (menunjukkan pada pembaca). Atau bahkan keduanya bertumpukan. Itu bikin gemeees. 

Berhenti Menulis

sumber (link)
by: Mardiyah Na
 
“Mimpimu itu setinggi rumput saja,” tulisnya pada inbox fb. 

Siapa dia?

Dia hanya satu dari sekian orang yang aku kenal di dunia maya tanpa pernah salin menatap. Namun demikian, tulisannya tentang alasanku menjadi penulis sugguh sangat menganggu. Menjadikan gumpalan amarah di hatiku bergejolak. Tahu apa dia tentang duni kata? Pikirku saat itu.

Tapi kalimat singkat dari kenalan fbku itu benar adanya. Buktinya sangat mudah aku merasa bosan akan sesuatu termasuk menulis. Perlahan-lahan rasa bosan mulai menjalari jari-jariku. Dulu, dengan alasan ‘kepuasan hati’ aku mulai menggoreskan pena.

Monday, January 7, 2013

CatHar #1 Menulislah :)


Menulis Buruk Lebih Baik daripada Tidak Menulis Sama Sekali!


Kalimat di atas diucapkan oleh AS Laksana. Mungkin sebagian dari Anda telah mengenalnya. Beliau termasuk ke dalam jajaran sastrawan Indonesia. Seorang penulis pasti pernah mengalami writers block, atau kemandegan menulis. Penyebabnya bermacam-macam. Akibatnya kita jadi tidak bisa menulis. Salah satu penyebab writers block adalah standar yang ingin dicapai. Saking kita ingin mendapatkan penghargaan dalam menulis, kita menetapkan standar tinggi untuk tulisan kita. Segala teori menulis dijadikan acuan. Bagi saya pribadi, standar yang ingin saya capai adalah menggunakan diksi-diksi yang “tinggi” dan dapat melukiskan setting novel di tempat-tempat tak terjangkau atau daerah-daerah yang belum pernah saya kunjungi. Itu membuat proses menulis menjadi lebih lambat, karena saya memang jarang bepergian ke tempat jauh,  bahkan tidak punya passport. Lho, kan ada google? Googling saja! Iya, memang bisa pakai google, tapi tetap saja sensasinya berbeda dibandingkan datang ke tempatnya langsung. Dan sudah tentu jadinya lebih lambat untuk menceritakannya.