Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Saturday, February 22, 2014

Kisah Inspirasi Pendidikan: Guru Bahasa Inggris Adu Jotos dengan Wali Murid


Arul Chandrana
Oleh: Arul Chandrana

PERSEMBAHAN
Kisah ini kupersembahkan bagi semua guru yang berdedikasi tinggi di tanah air. Baik mereka yang berwibawa maupun yang, ehm, kurang peduli dengan wibawa.

***

BERDIRI di tepi jalan utama penghubung tiga desa, bukan berarti sekolah kami menempati tempat strategis yang mampu mendatangkan banyak siswa. Yah, memang ada siswa yang datang, tapi tidak sendirian, melainkan bersama orang tuanya, dan mereka terus berjalan melewati sekolah menuju ladang aren di dekat hutan.

Saturday, November 9, 2013

[Cerpen] Octo, si Pangeran Gurita

Oleh: Marisa Agustina
Sedikit cerita di balik naskah ini, setelah saya cek kembali file saya ternyata naskah ini dibuat tanggal 17 Oktober 2012. Pernah saya ajukan ke Brina, namun belum jodoh. Kami malah membahasnya lalu saya sedikit melakukan revisi berdasarkan sarannya. Lalu Brina 'menantang', katanya kirim ke kompas saja. Dalam hati saya berkata, amboiii, dikau saja tak menerimanya apa jadinya kalo saya kirim ke kompas. Kompas? Ya ampun! Tapiii, setelah diskusi lagi, yaaa apa salahnyalah mencoba, toh kemungkinan terburuk juga paling ditolak, ya nggak? Maka, saya kirimlah naskah ini ke kompas. Saya cek di arsip email, tertanggal 24 Januari saya kirim ke sana. Lamaaaa sekali nggak pernah ada respon, sampai-sampai saya yakin kalau saya salah email. Mungkin naskah saya nyasar di bagian lain kompas, bukan bagian cernak, pokoknya pikiran semacam itulah.


Monday, November 4, 2013

[Cerpen] Kereta Ekonomi Pukul 06.30 Pagi


Kereta Ekonomi Pukul 06.30 Pagi
Oleh : Tuti Adhayati

            Matahari belum sepenuhnya membuka mata, terangnya baru berpendar dari kejauhan. Perlahan ia mengintip melalui celah-celah daun, melalui kisi-kisi jendela, menghangatkan besi pagar yang aku tutup dan seperti biasa menemaniku dengan setia bersama sinarnya yang mulai hangat.  Matahari itu menyinari siapa saja, besar, kecil, baik, buruk. Hidup, mati apapun yang berada dipermukaan.

[Cerpen] Romansa Cina Benteng


Romansa Cina Benteng
By : Yusi Yusuf

New York, awal  Januari 2007.
Dari jendela ruang dokter dilantai empat, aku menatap ke bukit taman timur. Dari balik bukit itu pasti akan terlihat kesibukan pinggiran kota New York di akhir musim dingin yang hangat ini karena tumah sakit kami berada lebih tinggi di pinggiran kota New York.

Wednesday, October 9, 2013

The Reunion of Wilderness

Cerpen, oleh: ARUL CHANDRANA

Setelah hampir tiga puluh tahun, baru sekarang aku melihat wajahnya lagi; pada sebuah poster di tiang listrik tepi jalan. Begitu aku melihat gambar tersebut, aku langsung mengenalinya. Ya, memang benar, itu dia. Aku sendiri heran bagaimana aku bisa secepat itu mengenalinya. Yang jelas, apa yang terjadi padaku hari itu memastikan bahwa memang ada beberapa wajah di dunia ini yang tak peduli berapa puluh tahun telah berlalu, berapa ribu peristiwa telah terjadi, berapa juta wajah telah ditemui, wajah-wajah tertentu itu tak akan pernah terlupakan. Selalu bisa dikenali. Wajah itu selalu berhasil menyatakan nama dan jati dirinya dengan jelas.

Friday, July 26, 2013

[Cerpen] Mawar-Mawar Adzkiya

Mawar-mawar Adzkiya
Afifah Afra

Wajah itu sumringah saat langkahku memasuki pintu pagar kebun mawarnya. Ya, kebun mawar. Jangan bayangkan sebagai hamparan lembah penuh kuntum-kuntum yang meliuk atraktif dengan julangan gunung Ungaran sebagai lattar alaminya. Jangan pula digambarkan sebagai padang yang menyirat tembang di siang lengang, dimana ratusan tangkai ikut bernyanyi bersama beban-beban yang disangga bangga, yakni kelopak-kelopak itu.

Thursday, July 25, 2013

[Cerpen] Mencari Kartini


Penulis: Lia Herliana

Siang itu, langit mendung pekat. Gerimis, segera berubah menjadi hujan. Ririn  berlari ke teras depan sebuah toko, untuk berteduh. Brrr! Ririn merapat ke tembok, agar tak terpercik air hujan. Didekapnya ranselnya di dada.
Huuf! Tadi pagi, ia berangkat terburu-buru, sampai lupa membawa payung. Dan sekarang, ia terjebak hujan di sini. Padahal, ada tugas Bahasa Indonesia yang belum dikerjakannya. Besok harus dikumpulkan.

Monday, July 22, 2013

Cerpen: Kolak Istimewa


Penulis: Lia Herliana            

Ramadan hari ketiga. Hani masih libur. Sore itu, ia mulai merasakan lemas karena haus dan lapar. Rasanya, jadi malas bergerak. Setelah shlalat Ashar, Hani tidur-tiduran di sofa.
            Ibu menghampiri dan menepuk pundak Hani. “Biar semangat, kita bikin kolak istimewa, yuk!” ajak Ibu sambil tersenyum.
            “Kolak istimewa? Kolak apa, Bu? Apa istimewanya?” cecar Hani penasaran.

Sunday, July 21, 2013

[Cerpen] Katak dalam Tempurung

Katak Dalam Tempurung

Shabrina Ws


 “Aku akan membungkus matahari!” Teriak Katak suatu hari.


Lalu kabar tentang Katak yang ingin membungkus matahari pun segera tersebar ke seluruh hutan Talakona.

Saturday, July 13, 2013

[Cerpen] Memaafkan

 Oleh: Irhayati Harun
(Pernah dimuat di Majalah Alia)

Kata kata yang menghancurkan, meninggalkan bekas luka dihati. Memaafkan orang yang telah menggoreskan luka memang tak mudah. Butuh kesabaran dan keikhlasan hati dalam memberi maaf. Dihari kemenangan ini, mampukah ia melakukannya? Mengingatluka dihatinya cukup dalam pada mantan suaminya.

Gema takbir dan tahmid berkumandang.menyerukan kebesaran dan keagungan Tuhan subhanahu wata’ala. Rasa syukur dan haru membaur menjadi satu. Syukur,karena telah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan dengan baik, meski tak penuh karena adanya tamu bulanan. Haru,karena sebentar lagi akan berpisah dengan bulan suci yang penuh rachmat. Semoga Ramadhan kali ini, bukanlah menjadi Ramadhan yang terakhir baginya. Begitu pula harapan umat muslimdi seluruh penjuru dunia.

Tuesday, July 9, 2013

[Cerpen] Rekening

Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Annida. Yuuk.. bacaa... ^_^

 REKENING
Oleh: Novia Erwida

Berbaris lagi. Pasti hari ini Maya baru membayar rekening telepon. Aku yang barusan datang, langsung bergabung di barisan terakhir, karena aku si bontot.
            “Dengar…” kakak pertamaku itu angkat bicara.
            “Bulan lalu,,,” ia membuka lipatan rekening dan mulai membaca dengan suara lantang.
            “Empat ratus tiga puluh tiga ribu sembilan ratus lima belas rupiah.” Matanya melotot, menatap kami satu persatu. Aku dan keempat saudaraku tertunduk.
            “Aku nggak pernah, Ya..” aku membela diri. Tidak ada tradisi panggilan kakak di keluarga ini. Namun semua tidak mengurangi rasa hormatku padanya.

[Cerpen] Pik-Can si Kepik Pesolek

Ide fabel ini muncul ketika penulis sering merasa miris menyaksikan banjir yang sepertinya selalu menjadi masalah ketika musim hujan tiba. Meski problema tersebut melibatkan banyak faktor, namun persoalan lingkungan sudah pasti turut andil di dalamnya. Olehnya itu penulis ingin menyisipkan pesan mengenai hal tersebut melalui fabel kepada anak-anak....

Pik-Can si Kepik Pesolek
Oleh : Niki Rissa
(dimuat di Fajar Minggu, 4 November 2012)

Monday, July 8, 2013

[Cerpen] Janji Kang Juri

Oleh: Shabrina WS.

Aku ingin  ikut kerja yu Mur, Kang.”
“Tidak!!!”
“Tidak?” Aku menatapnya tak mengerti. Belum pernah dia membentakku seperti itu.
“Lebih baik aku kelaparan, dari pada hidup harus menadahkan tangan di jalanan!”
 “Kau bisa saja mengatakan seperti itu, Kang? Tapi aku butuh makan? Anakmu juga butuh makan. Kita telah menjadi kere sejak menjejakkan kaki di kota ini. Apa itu belum cukup membuka matamu terbuka? Hah?!”
“Tini?!”

[Cerpen] DENING

[CERPEN BAHASA JAWA) PIWULANG SAKA RAHMI
pernah dimuat di Jayabaya beberapa bulan silam (lupa tepatnya) silakan dibaca

Dening : Afin Yulia

Aku tas mari bae tuku krupuk urang ana pasar Genteng Wetan nalika ana sms mlebu ing ponselku. Age-age dak bukak lan kuciwa nalika Mas Jai ngabarake yen ora sida njemput aku karo bocah-bocah ing Banyuwangi. Isih sibuk motret, jarene. Kanthi praupan pegel aku nglebokake ponsel ing tas cilikku. Ora mung sepisan Mas Jai mblenjani janji kaya ngene. Asring aku nelangsa, kok tansaya urip kepenak aku dadi jarang ketemu karo dheweke. Gak jarang aku iri karo ibu-ibu liyane, sing menyang ngendi-ngendi karo garwane. Lha aku? Luwih sering dhewekan karo anak-anakku sawentara Mas Jai sibuk karo proyek-proyeke. Duh, rasane timbang kaya ngene iki penak pisahan bae! Gunemku ing njero ati. 

Sunday, July 7, 2013

[Cerpen] Balada Pengemis

Balada Pengemis*)
Oleh: Irhayati Harun

    Dia masih berkutat di dapur sebagai tukang masak disebuah restoran padang yang cukup besar di salah satu sudut kota Jakarta. Hawa panas yang keluar mengitari setiap sudut dapur tanpa ampun. Keringat bercucuran disekujur tubuhnya. Sungguh! Hawa panas yang dirasakannya ini tak seberapa dengan rasa panas yang menjalar didalam tubuhnya, hingga membuat hatinya menggelegak bila mengingat kelakuan saudara saudaranya yang begitu rendah dimatanya.

Friday, July 5, 2013

[Cerpen] Persahabatan Pingo dan Woli

Dimuat di Lampost, boleh di publish di blog ;)

Persahabatan Pingo dan Woli
Oleh : Izzah Annisa*)


Di sebuah hamparan es di kutub selatan, hiduplah seekor pinguin bernama Pingo. Pingo tinggal bergerombol bersama pinguin lainnya. Pingo hidup bahagia. Hari-harinya ia habiskan dengan berenang, mencari ikan, berjemur, atau meluncur bersama teman-temannya di atas es.

Saturday, June 29, 2013

[CERPEN] MBAH DAR


Oleh : Mell Shaliha

        
Mell Shaliha
  Terik sudah sempurna menggosongkan semua bagian tubuhnya yang sudah ringkih. Kecuali bagian yang tertutup kemeja coklat kumal dan celana hitam yang sudah sobek di bagian pantatnya. Mbah Dar, begitu ia sering menyebut dirinya sendiri di hadapan orang yang kadang mau mendengarkan cerita pahitnya. Usianya sudah mencapai delapan puluh tujuh tahun, lebih lama dari umur kemerdekaan negara ini.

Friday, June 28, 2013

DIA YANG KEMBALI TERSENYUM: Cerpen Pemenang Lomba ROHTO

Riawani Elyta, anggota BAW juga pernah memenangkan lomba ROHTO lho. Baca yuk cerpennya yang keren ini, siapa tahu besok kamu mau ikutan lombanya juga :-)


Oleh : Riawani Elyta


Wajah dibalik cermin itu kembali datang mengusik. Menyeringai lebar namun tak seperti serigala. Merintih pelan namun sama sekali tak mirip anak kucing yang mencari puting susu induknya. Melainkan lebih mirip anjing letih. Lidahnya menjulur, nafasnya terengah. Dan kedua bola matanya sayu saat memandangku.
Tenanglah, penderitaanmu tak akan lama lagi. Bisikku, seraya mengelusnya. Elusan yang terhalang oleh lima milimeter kaca cermin. Bibir yang semula menyeringai itu kini mengerucut, panjang ke depan, seperti menanggung segunung kesal yang terkunci rapat di ujung bibir. 

Thursday, June 27, 2013

ATTAR: Cerpen Pemenang Lomba ROHTO-2011

Yeni Mulati a.ka. Afifah Afra pernah menjuarai lomba cerpen ROHTO, lho... Yang mau ikutan lombanya juga, belajar dari cerpen ini dulu yuks... 

{Cerpen] Tanduk Rusa

Oleh: Shabrina WS

Aku ini tidak suka tertawa. Tapi hari ini aku terpingkal-pingkal. Perutku sampai sakit dan beberapa makanan terjatuh dari mulutku. Apakah dunia ini sudah sedemikian tua sehingga banyak  yang pikun penghuninya?