Saturday, October 25, 2014

Kelas Penulisan Novel #4: Narasi dan Deskripsi oleh Prisca Primasari (Pemateri Undangan)

Prisca Primasari

Narasi dan Deskripsi
oleh : Prisca Primasari (pemateri undangan)

Narasi

Narasi di dalam fiksi merupakan salah satu cara untuk menyampaikan isi cerita kepada pembaca, selain dialog dan aksi. Lewat narasi, kita bisa mengetahui lebih banyak tentang tokoh-tokoh dalam cerita, kemana cerita itu akan mengarah, dan latar cerita tersebut berlangsung. Apa saja yang biasa disampaikan dalam narasi?


  1. 1.      Penggambaran tokoh

Mari kita lihat satu contoh dari novel The Gift karya Cecelia Ahern.

Lou Suffern always had two places to be at one time. When asleep, he dreamed. In between dreams, he ran through the events of that day while making plans for the next, so that when he was awakened by his alarms at six a. m. every morning, he found himself to be very poorly rested. When in the shower, he rehearsed presentations and, on occasion, with one hand outside the shower curtain he responded to emails on his Blackberry.

Dari sini, kita mengetahui bahwa Lou Suffern adalah pria yang sangat sibuk, sering melakukan dua hal pada waktu bersamaan. Bahkan ketika tidur pun dia masih memikirkan rencana-rencana pekerjaanuntuk keesokan harinya.

  1. 2.      Suasana dan latar tempat
Lorong menuju ke tempat pesta Nick siKepala-Nyaris-Putus juga sudahditerangi dengan deretan lilin, meskipun efeknya jauh dari cerah, karenalilinnya adalah lilin-lilin runcing hitam pekat, dengan nyala biru, menyiramkan cahaya suram kematian bahkan ke wajah-wajah mereka yang masih hidup. Semakin jauh mereka memasuki lorong, hawa semakindingin. Ketika Harry bergidik dan merapatkan jubahnya, didengarnyabunyi seperti seribu kuku menggaruk papan tulis besar.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa J.K. Rowling sangatlihai dalam menggambarkan suasana dan latar. Dari excerpt Harry Potter and the Chamber of Secrets di atas, kita bias merasakan betapa mencekamnya pesta Nick yang akan dikunjungi Harry dan teman-temannya. Bukan hanya dari deskripsi visual, melainkan juga deskripsi suara—bunyi seperti seribu kuku menggaruk papan tulis besar.

  1. 3.      Kontemplasi
Menjelang akhir cerita, inilah yang dipikirkan Samantha dalam The Undomestic Goddess karya Sophie Kinsela.

Mungkin aku baru saja membuat kesalahan terbesar dalam hidupku.Sementara duduk di kereta ke Gloucestershire, aku minum segelasanggur untuk mengendurkan saraf-sarafku yang tegang. Kata-kata Guy terngiang-ngiang di telingaku.
Dulu, berpikir seperti itu saja sudah membuatku panic danbelingsatan.Namun tidak lagi.Aku ingin tertawa. Guy sama sekali tidaktahu.
Dari semua yang telah terjadi padaku, aku belajar satu hal, bahwa yang disebut kesalahan terbesar dalam hidup itu tidak ada.Tidak ada istilahmenghancurkanhidupmu. Hidup ternyata begitu tahan banting, terlalutangguh untuk dihancurkan.

Kontemplasi semacam ini akan menggiring pembaca untuk merenung juga seperti tokoh di atas. Namun, penyampaiannya harus cermat, tidak subjektif, dan sebaiknya berasal dari diri karakter sendiri, bukan dari penulisnya, agar tidak terkesan menggurui. Kita lihat Sophie Kinsella begitu cerdik merangkai kata sehingga tidak membuat pembaca merasa dikuliahi.

  1. 4.      Flashback

Dengan menggunakan flashback, kita bias mengetahui lebih banyak tentang kejadian sebelum timeline cerita. Kita juga dapat mengetahui peran masing-masing tokoh di masa lalu. Saya banyak menggunakan narasi flashback ini di Priceless Moment.

Saat Hafsha lahir, Yanuar sedang berada di Stockholm.
Yanuar sama sekali tidak mengalami pedihnya menunggu di depan ruangbersalin, tidak mendengar suara kesakitan Esther, tidak pula sibukmengepak pakaian bayi ke dalam tas Zwitsal.
Wira-lah yang melakukannya.Ketika Hafsha lahir pun, yang kali pertamamenggendong Hafsha setelah Esther adalah Wira. Melalui telepon, pemuda itu memberitahu Yanuar segala hal tentang Hafsha, termasukkulit bayi itu yang sempat berwarna kekuningan.

Di sini, tersirat betapa jauhnya hubunganYanuar dengan keluarganya di masa lalu, sampai-sampai ketika anaknyalahir pun dia tidak hadir dan malah digantikan olehWira, adikYanuar.

Contoh-contoh di atas membuktikan betapa penting narasiuntuk perkembangan cerita. Namun, kitaharus pandai-pandai meracik ramuan narasi novel kita, agar tidak terkesan overload dan membuat pembaca lelah dengan rangkaian narasi yang tanpa ujung. Bagaimana caranya?

  1. 1.      Seimbangkan narasi, dialog, dan aksi
Terlalu banyak narasi akan menjadikan pace cerita sangat lambat. Terlalu banyak dialog akan membuat novel berkesan seperti naskah drama atau skenario. Terlalu banyak aksi membuat pembaca tidak bisa menarik napas saking seringnya berdebar-debar. Maka, penulisan narasi, dialog, dan aksi sebaiknya diramu dalam porsi yang pas.Saat kita merasa narasi terlalu panjang, potonglah bagian yang tidak perlu dan selipkan dialog. Saat kita merasa dialog terlalu panjang dan tidak memberikan kontribusi pada perkembangan cerita, hilangkan yang tidak penting dan fokuslah pada aksi.

  1. 2.      Kenali pembacamu

Siapakah target audience kita? Remaja? Dewasa? Penyuka kisah   roman? Penyuka kisah suspense? Mengetahui target pembaca bias membantu kita menentukan narasi seperti apa yang sebaiknya kita gunakan.
Pembaca remaja tidak terlalu menyukai narasi panjang.Kita lihat di serialHarry Potter, deskripsi dan narasinya tidaklah terlalu panjang, dan tidak terlalu banyak anak kalimat.Berbeda dengan novel dewasa J.K. Rowling yang berjudulThe Cuckoo’s Calling.

Penulis suspense pun dianjurkan memakai kalimat-kalimat singkat, tetapi mewakili suasana yang ada. Mari kita intip kutipan dari novel Die for Mekarya Karen Rose.

Hal pertama yang disadari Warren Keyes adalah bau. Bau ammonia, disinfektan, dan… bau lain. Bau apalagi? Buka matamu, Keyes. Iamendengar suaranya sendiri bergema di kepala dan berupaya membukamata. Berat.Kelopak matanya sangat berat, tapi ia berjuang agar keduanya tetap terbuka. Gelap.Tidak.Ada sedikit cahaya.Warren berkedip, lalu berkedip lagi lebih kuat sampai cahaya kabur itu tampakjelas.

Pembaca roman menyukai narasi yang mengeksplorasi perasaan karakter-karakternya.Pembaca kisah self-discovery tertarik pada bagaimana karakter-karakter dalam novel itu tumbuh, berjuang, dan pada akhirnya menerima jati diri mereka. Ini bias kita temukan di novel Sue Monk Kidd The Secret Life of Bees. Nah, siapakah target pembacamu?

Narasi dan Deskripsi
Narasi tidak pernah lepas dari deskripsi.Deskripsilah yang membuat cerita terasa ‘hidup’, penuh warna, dan membuat pembaca seolah mengalami sendiri ceritatersebut.Deskripsi yang baik adalah deskripsi yang melibatkan lima indra, yang biasa disebut sebagai imagery.
  1. Sight—penglihatan. Ini adalah deskripsi paling umum yang bisa kita temukan, menggambarkan elemen-elemen cerita dengan deskripsi visual. Contoh dari The Godfather karya Mario Puzo:

Genco Abbandando sudah lama berlomba dengan maut, dan sekarang, kalah, ia terbaring kelelahan di ranjang yang ditinggikan. Tubuhnyamenyusut hingga tidak lebih dartulang terbalut kulit, dan rambut yang dulunya hitam lebat kini tipis, kaku, dan buruk.

2. Sound—pendengaran. Deskripsi yang melibatkan bunyi dan suara. Karya-karya Edgar Allan Poe sering sekali menggunakan deskripsi semacam ini. Mari kita lihat puisinya yang berjudul The Bells.

Hear the sledges with the bells,
Silver bells!
What a world of merriment their melody foretells!
How they tinkle, tinkle, tinkle,
In the icy air of night!

3. Smell—penciuman. Deskripsi yang melibatkan aroma danbau. Aroma merupakan penggelitik indra yang paling kuat. Suasana dalam narasi bahkan terasa lebih hidup jika kita menambahkan detail tentang aroma. Contoh dari The Miraculous Journey of Edward Tulane karya Kate DiCamillo:

Rumah makannya bernama Neal’s.Kata itu ditulis dengan huruf-huruf dari neon merah besar yang berkedip-kedip.Di dalam, suasananya hangat, terang benderang, dan dipenuhi aroma ayam goreng, roti panggang, dan kopi.

4. Taste—pengecap. Seringkali, makanan enak tidak cukup hanya digambarkan dengan kata ‘enak’. Satu contoh lagi dari Priceless Moment:

Yanuar duduk di balik meja, termenung saat membuka tutup kotakmakan.Dia merobek roti tersebut, memakannya.Perpaduan selai-selai itumenghasilkan rasa beri yang manis-asam, cokelat yang sedikit pahit, dan rasa kacang.Lezat dan menyenangkan.

5. Touch—peraba. Deskripsi yang melibatkan sentuhan. Mari kita lihat kembali saat Harry membeli tongkat sihir pertamanya:

Harry mengambil tongkat itu.Mendadak, jari-jarinya terasa hangat.

Sekali lagi, deskripsi pun perlu diramu dalam porsi yang pas agar tidakoverload. Terlalu banyak deskripsi akan membuat pembaca lelah dan akan menenggelamkan aksi serta dialog. Sebaliknya, kalau terlalu sedikit, cerita akan terasa kering dan ‘tidak bernyawa’.
Sekian sharing dari saya, semoga bisa bermanfaat.Mohon maaf kalau tidak bisa menyampaikan terlalu banyak.
Selamat menulis! :)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Profil pemateri :
Prisca Primasari. Lahir di Surabaya, 22 Februari. Bangga karena mempunyai zodiak yang sama dengan Renoir dan Kurt Cobain. Tidak bisa melupakan Kramer vs Kramer dan Sleepless in Seattle. Pada waktu luang, senang mendengar Rachmaninoff, mengulang-ulang Edward Scissorhands dan Morning Glory, memelototi Saint Seiya dan Hotaru no Hikari, membaca Black Butler, window shopping, kemudian tidur.
Novel-novelnya yang sudah terbit, a.l : Eclair, Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa, Paris, Evergreen dan Priceless Moment.
Visit her at :
Twitter            :           @priscaprimasari
Facebook         :           Prisca Primasari
E-mail              :           autumn_printemps@yahoo.com
Blog                :           www.priscaprimasari.tumblr.com


DISKUSI: (DIjawab oleh Prisca Primasari)

1. Shabrina Ws Arul Chandrana Gestur, dan bagaimana membuat tokoh yang khas?
Supaya gestur bervariasi, pertama-tama kita harus memahami karakter masing-masing tokoh kita. Apakah karakter kita orang yang ceria? Melankolis? Dingin? Eksentrik? Gestur orang yang melankolis pasti berbeda dengan yang ceria. Kalau orangnya ceria, dia akan sering tersenyum, banyak bergerak, ekspresif. Kalau melankolis, dia seringnya mojok, tidak terlalu banyak mimik wajah, dan tampak sering melamun (seperti saya xD). Untuk memahami gestur, saya seringnya mengamati orang-orang di sekitar saya sendiri, atau mengamati tokoh-tokoh yang kuat di film-film atau manga. Kalau ingin belajar menulis tokoh eksentrik, saya akan mengamati Johnny Depp. Kalau ingin mengetahui gestur tokoh antagonis yang keren, saya akan mengamati Tom Hiddleston di Thor. 
Membuat biodata lengkap tokoh juga sangat membantu. Dan biodata ini bukan sekadar nama, alamat, dan ciri-ciri fisik saja. Biodata ini mencakup semua kepribadian tokoh tersebut, seperti kebiasaan buruknya, temperamennya, ketakutan terbesarnya, hal-hal kecil seperti dia suka datang terlambat ke kantor/sekolah atau tidak, bagaimana isi kamarnya, dia punya binatang peliharaan atau tidak, dsb. Lengkapnya bisa dilihat di sini:http://www.epiguide.com/ep101/writing/charchart.html


Kira is the editor of the EpiGuide Web Entertainment Community and writer/producer of About Schuyler Falls; Toni is the writer/producer of The Legacy.
EPIGUIDE.COM

2. Khulatul Mubarokah Binti Chamami Bagaimana agar pikiran kita tetap bisa menjaga Show dan Tell seimbang?
Ketika menulis, sebaiknya kita malah tidak terlalu banyak berpikir tentang teknik, termasuk teknik show dan tell. Kata editor saya, ‘Menulislah seperti orang kesurupan.’  Jadi, selesaikan dulu tulisannya, tumpahkan saja semua hal yang menurut kita perlu dijabarkan. Usai menulis, endapkan kira-kira selama dua minggu, lalu baca lagi naskah dari awal sampai akhir. Biasanya ketika kita membaca ulang inilah, kita menyadari mana bagian yang terlalu banyak ‘show’nya dan mana yang terlalu banyak ‘tell’nya. Kalau kita merasa ‘show’nya terlalu banyak, bisa dipangkas sedikit dan diganti tell. Begitu juga sebaliknya.

3. Ivonie Zahra II Bagaimana merangkai kalimat terakhir narasi yang enak dibaca sebelum masuk ke dialog?
Setelah narasi panjang, sebaiknya masukkan aksi dulu, baru dialog. Contoh dari The Godfather lagi (FYI, The Godfather adalah salah satu novel yang sering sekali menyelipkan dialog di tengah-tengah narasi panjang):
Sonny mencoba memikirkan semuanya. Ia berusaha membayangkan bagaimana ayahnya akan bereaksi dalam keadaan seperti ini. Ia seketika tahu itu serangan dari Sollozo. Tetapi Sollozo tidak akan berani menyingkirkan pemimpin yang begitu tinggi peringkatnya seperti Don kalau tidak didukung orang berkuasa lain. Telepon berdering untuk keempat kalinya mengganggu pikiran [Sonny]. Suara di ujung sana sangat lunak, lemah lembut. “Santino Corleone?” suara itu bertanya.
“Yeah,” kata Sonny.
Formula di atas: Narasi (Sonny mencoba…………didukung orang berkuasa lain) + Aksi (telepon berdering/ Sonny mengangkat telepon) + Dialog (“Santino Corleone?”)
Tapi ini tidak mutlak. Banyak juga penulis yang langsung memasukkan dialog setelah narasi. Tipsnya hanya sering-sering membaca. Lama kelamaan pasti tidak akan terasa kaku lagi. 

4. Fauziah Fachra Eni Martini Anne Adzkia Indriani Ika Candra Nda Syahdu: Supaya setting luar negeri bisa terasa alami.
Kalau yang sering saya lakukan perihal penulisan setting, 
Pertama, tentukan dulu settingnya. Misal: Paris. 
Yang kedua, cari tahu apa yang jarang diketahui orang tentang Paris. Menara Eiffel, seluruh dunia sudah tahu  Sungai Seine juga. Begitu pula Arch de Triomphe. 
Nah, padahal di Paris itu ada pemakaman Pere Lachaise, toko kue Beaumarchais Boulangerie, rumah Victor Hugo, Quartier Latin, dan puluhan tempat lain. Tempat-tempat itu belum banyak diketahui orang. Jadi, saya memutuskan memakai tempat-tempat tersebut sebagai setting di novel saya Paris: Aline. 
Ketiga, cari referensi tentang tempat-tempat itu dari Google, Pinterest, Instagram, buku-buku tentang Paris, mengunjungi perpustakaan, dan bertanya pada orang yang pernah ke sana (kalau ada).
Keempat, bagaimana supaya penggambaran tempatnya terasa alami? Amati foto-foto tempat itu (saya biasanya cari di Pinterest), lalu deskripsikan melalui sudut pandang karakternya. Semisal pemakaman Pere Lachaise. Saya mendeskripsikannya seperti ini:
“Sejujurnya, di tempat inilah aku benar-benar merasa takut. Bahkan, di Place de la Bastille kekhawatiranku tak sampai seperti ini. Suasananya sungguh gelap walaupun belum juga siang hari. Hujan rintik semakin menambah kesuramannya. Bahkan, Sena sama sekali tidak bersuara ketika memasuki gerbang utamanya, yang terletak di Boulevard de Menilmontant.
Pemakaman ini penuh bunga, pepohonan chestnut, patung, dan nisan-nisan yang sangat indah, sangat artistik, dengan detail rumit. Namun, secerah apa pun bunga-bunga yang memenuhinya, warna keseluruhannya hanya satu: abu-abu.”
Kita bisa juga menuliskan tambahan informasi tentang tempat itu, menggunakan data yang sudah kita dapatkan dari internet dsb tadi. Bukan dengan copy-paste, tentu saja, tapi dengan bahasa kita sendiri.
Alangkah baiknya kalau kita juga mencari tahu kebiasaan-kebiasaan penduduk tempat tersebut. Budaya di Jerman dan Prancis sangat berbeda, meskipun sama-sama Eropanya. Semisal, orang Jerman biasa menumbuk kentang sampai lembut dulu sebelum memakannya; tapi orang Prancis lebih suka kentangnya dipotong-potong daripada ditumbuk  Hal-hal kecil seperti itulah yang membuat deskripsi setting terasa lebih dalam.

5. Avizena Zen Rima Ria Lestari: Bagaimana membuat narasi yang tidak membosankan?
Supaya tidak membosankan, jabarkan hal-hal yang perlu saja, yang sekiranya bisa mendukung perkembangan cerita. 
Narasi panjang dan membosankan itu biasanya karena banyak pengulangan, dan terlalu banyak deskripsi yang tidak perlu, yang tidak ada kaitannya dengan jalannya plot atau perkembangan tokoh.

6.  Hairi Yanti Mbak Leyla Hana Fardelyn Hacky : Bagaimana cara membuat pembaca terharu; menjaga feel romance; membuat cerita romance yang mengharukan?
Kalau menurut saya, kita harus berempati dulu dengan tokohnya. Ketika menulis Priceless Moment, saya sering merenungkan, bagaimana perasaan pria berumur 34 tahun yang istrinya baru saja meninggal? Bagaimana keadaan hatinya ketika melihat anak-anaknya yang masih kecil? Setelah itu, deskripsikan dengan kalimat-kalimat atau adegan-adegan yang mewakili perasaan tersebut. Semisal, setelah istrinya tiada, Yanuar jadi sering sekali menerawang dan merasa kosong; bahkan tidak mau membuka lemari istrinya, karena membayangkan tumpukan baju istrinya saja sudah terasa menyakitkan. 
Untuk menuliskan romance yang mengena, lagi-lagi, kita harus memahami sifat tokoh-tokoh kita terlebih dahulu, lalu membangun chemistry di antara mereka. Hubungan antara pria depressive dengan wanita tough dan tegar (film Only Lovers Left Alive), akan sangat berbeda dengan hubungan antara pria yang cool dan wanita ceroboh (novel Undomestic Goddess-Sophie Kinsella).
Kata Khrisna Pabhicara, kalau kita menulis dengan hati, pasti akan sampai ke hati.  Kalau kita sendiri sudah berempati dengan tokoh, menuliskan perasaannya dengan kalimat-kalimat yang tepat, dan menulis dengan sepenuh hati, insya Allah pembaca pun akan ikut merasa trenyuh.

7. Hairi Yanti Terima kasih lagi, Hairi, sudah membaca Evergreen dan Priceless Moment . Untuk membuat kalimat pertama yang menghentak, tulislah sesuatu yang dapat menggelitik rasa penasaran pembaca. Berikut contoh kalimat pembuka kesukaan saya:
Aku pulang. (Titik Nol – Agustinus Wibowo)
Beberapa arsitek menamainya Romantic Home. (Memori – Windry Ramadhina)
Nah, selesai. (Bangkok - Moemoe Rizal).

8. Rifka Fatmawati Bagaimana mengasah indra agar peka? 
Caranya adalah dengan memahami dan menghayati variasi aroma, bunyi, dan rasa, kapan pun dan di mana pun kita bisa. Semisal, kita ingin menulis tentang minuman cokelat. Alangkah baiknya kita riset ke banyak kafe, mencoba menu minuman cokelat di masing-masing kafe itu, dan merasai perbedaannya. Meskipun namanya sama-sama ‘hot chocolate’, percayalah, rasanya tidak ada yang sama.  Ada yang kebanyakan gula, ada yang terlalu pahit, ada yang jelas-jelas dari sachet dan bukan racikan sendiri. Memahami hal kecil seperti ini akan mengasah indra kita. Ke depannya, intuisi kita pun akan semakin tajam, dan kita bahkan akan mampu menuliskan sesuatu yang belum pernah kita rasakan.

9.  Nda Syahdu Bagian narasi manakah yang perlu dimaksimalkan penulisannya?
Menurut saya semua penting; narasi/deskripsi tokoh, plot, dan setting sebaiknya diramu dengan seimbang. Hanya saja, seperti yang sudah dijelaskan di atas, tuliskan hal-hal yang perlu saja, yang sekiranya dapat mendukung perkembangan plot dan karakter.

10. Nurul Saja Bagaimana caranya menciptakan tokoh yang tidak biasa, tapi semua jalan hidupnya menjadi masuk akal menurut pembacanya?
Supaya tokoh kita terasa alami, perlakukanlah tokoh tersebut layaknya manusia biasa, bukan sekadar tokoh rekaan. Meskipun dia punya keunikan, dia tetaplah manusia yang harus mempertanggungjawabkan pilihan-pilihan hidupnya. Sebagai contoh, semua karakter di Harry Potter itu unik. Mereka penyihir, masing-masing punya keahlian istimewa. Tapi mereka manusiawi. Harry itu “Sang Terpilih”, tapi dia tetap punya rasa takut, rasa tidak percaya diri, pernah membuat kesalahan. 
Lalu Voldemort. Dia sangat kejam, tapi kekejamannya pun manusiawi. Dia anak yang dilahirkan bukan dengan cinta, melainkan produk guna-guna. Ayahnya meninggalkan ibunya saat sang ibu masih hamil. Voldemort tidak paham apa itu cinta, karena dia sendiri tidak pernah dicintai. Yang dia pahami hanyalah kekejaman—karena sejak di kandungan pun dia sudah diajarkan untuk menjadi kejam. Jadilah ketika dewasa dia membunuh, membuat Horcrux, dan sebagainya.
Lagi-lagi, kita harus mengenal betul tokoh kita. Membuatnya unik is okay—bahkan dianjurkan, agar tokoh kita berbeda dengan tokoh-tokoh di novel lainnya. Namun, jangan lupakan bahwa mereka tetaplah manusia biasa. 

11. Shirei Shou: Salam kenal juga  
Kalau yang biasa saya lakukan, saya akan mendahulukan tema dulu. Tepatnya, saya mendahulukan apa yang saya sukai dulu  Setelah itu, barulah kita pikirkan lebih jauh: kita ingin novel ini dibaca oleh siapakah? Remaja, dewasa muda, atau dewasa? Kalau kita ingin novel ini dibaca remaja, sebaiknya kita memakai tokoh-tokoh remaja, dengan gaya bahasa yang juga dekat dengan remaja. Sama halnya dengan kalau kita ingin novel kita dibaca orang dewasa—biasanya persiapannya akan lebih banyak, karena pola pikir pembaca dewasa lebih rumit dan berlapis daripada pola pikir pembaca remaja. Tokoh, narasi, gaya bahasa yang digunakan… semuanya harus sesuai dengan selera pembaca dewasa.
Bagaimana kalau temanya berat? Tema berat pun eksekusinya bisa bermacam-macam. The Fault in Our Stars temanya sangat berat: tentang dua insan yang mengidap kanker. Tapi John Green dengan lihai membuat tema itu terasa pas untuk dibaca remaja. Sang Penebus dari Wally Lamb tema besarnya adalah penyakit skizofrenia, sama beratnya. Tapi buku ini lebih pas untuk pembaca dewasa, karena narasi-narasinya sangat panjang, tokoh-tokohnya berumur 30 tahun ke atas, dan detail kedokterannya bertebaran di mana-mana.
12. Wawat Smart Penyebab narasi yang berulang-ulang:
1. Penulis tidak terlalu mengenal tokoh-tokohnya, tidak terlalu memahami setting tempat, dan tidak terlalu paham ceritanya akan dibawa ke mana.
2. Penulis sedang jenuh.
3. Penulis sendiri kurang suka membaca, sehingga referensi kosa katanya pun kurang, dan jadi senang mengulang-ulang informasi.

13. Swastikha Maulidya Mulyana Sari Widiarti: Apakah narasi perlu panjang? Bagaimana supaya narasi bisa efektif?
Tidak perlu panjang. Kalau kita perhatikan, serial Harry Potter itu deskripsinya tidak terlalu panjang, tapi padat dan representatif. Itulah salah satu yang membuat Harry Potter page turner dan bisa dinikmati semua orang. Contoh lain dari Harry Potter and the Sorcerer’s Stone:
“Mulut Harry ternganga. Piring-piring di depannya sekarang penuh berisi makanan. Belum pernah dia melihat begitu banyak makanan yang ingin dimakannya terhidang di satu meja. Daging sapi panggang, ayam, kambing, sosis, daging asap, steak, kentang goreng, kentang rebus, puding, kacang, wortel, kaldu, saus tomat, bahkan permen pedas.”
Contoh di atas singkat, jelas, padat. Tujuannya adalah mendeskripsikan betapa banyak dan lezat makanan di Hogwarts. Supaya representatif dan efektif, J.K. Rowling pun memasukkan jenis-jenis makanan yang disukai sebagian besar orang—daging sapi panggang dan sebagainya itu.

14. Santi Artanti Terima kasih banyak sudah membaca Kastil Es 

Bagaimana cara membangun chemistry?
Buat dua karakter itu merasa nyaman satu sama lain. Bisa dengan menciptakan dialog-dialog yang ‘nyambung’ di antara keduanya, dan menyelipkan gestur-gestur serta ekspresi yang menunjukkan mereka saling tertarik.


15. Indah Sari Abidin ‘Aksi’ berarti semua hal yang sedang dikerjakan tokoh di masa kini. Contoh paling mendasar: Aku menulis. Sembari menulis, sesekali aku meminum teh dan makan cemilan. Tiba-tiba, seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku berdiri, berjalan ke pintu, lalu membukanya. Ternyata teman satu kosku, Elly. Dia mengajakku pergi ke Oost Café. Kuiyakan ajakannya. Aku pun kembali ke kamar dan bersiap-siap.
Dan seterusnya. 

16. Linda Satibi: Terima kasih sudah membaca Evergreen, Mbak  Pengalaman sebagai editor sedikit banyak memang berpengaruh, karena wawasan dan ilmu menjadi semakin luas.
‘Tell’, berarti mendeskripsikan sesuatu secara sangat garis besar, tanpa detail-detail yang menguatkan.
Contoh ‘tell’: Lou Suffern is busy. 
Contoh ‘show’: Lou Suffern always had two places to be at one time. When asleep, he dreamed. In between dreams, he ran through the events of that day while making plans for the next, so that when he was awakened by his alarms at six a. m. every morning, he found himself to be very poorly rested. When in the shower, he rehearsed presentations and, on occasion, with one hand outside the shower curtain he responded to emails on his Blackberry.




2 comments:

  1. Kekuatan Narasi yah, keren banget sumpah pembahasannya

    ReplyDelete
  2. Mbak, boleh minta info sumbernya dari mana ga? :)))

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog BaW. Mohon kritik dan komentar yang membangun untuk setiap postingan ;)