Friday, November 22, 2013

Author of The Month: Eni Martini


Oleh: Hairi Yanti


Eni Martini
Haloooo, tak terasa sudah satu bulan berlalu dan bagaimana perkembangan naskah kalian?
Ada yang lagi butuh inspirasi buat memotivasi diri untuk meneruskan naskah masing-masing? Yuk, baca hasil interview kita dengan Mbak Eni Martini yang terpilih menjadi Author of The Month BaW kali ini. Ada banyak tips dan pencerahan yang diberikan Mbak Eni. Yuk, kita simak ;)

Sejak kapan mulai menulis, Mbak? Apa motivasi menulis terbesar Mbak Eni? Adakah orang-orang yang paling berpengaruh dalam pembuatan tulisan, Mbak Eni? Jika Ya, siapa saja?


Jawab:
Sejak kelas 4 SD, pertama menulis puisi berjudul AYAH yang saya pentaskan di panggung sekolah acara perpisahan kakak kelas.

Motivasi dalam menulis... Ehmmm, dasarnya memang saya suka nulis dari kecil.
Orang paling berpengaruh dalam dunia kepenulisan pertama Ibu saya, yang banyak mengenalkan saya berbagai macam bacaan dan menjadi pendongeng menjelang tidur. Kedua sahabat saya Meliana Vedder, orang pertama yang memaksa saya untuk menerbitkan novel saya, ketiga suami yang selalu memberi kritik pedas dan masukan positif.

Adakah buku yang Mbak Eni baca dan mempengaruhi gaya menulis Mbak Eni sekarang? 

Jawab:
Sepertinya tidak ada yah, saya nulis, nulis aja. Tapi sebenarnya saya pengen gaya menulis para sesepuh seperti Umar Kayam, Ahmad Tohari mempengaruhi saya suatu saat. Walau untuk saat ini belum mampu untuk itu.

Apa Mbak Eni adalah penulis yang menulis bergantung dengan yang namanya mood? Banyak penulis yang bilang susah menjaga mood yang kadang naik turun saat menyelesaikan sebuah tulisan, bagaimana Mbak Eni mengatasi yang namanya mood itu?

Jawab:
Sebenarnya tidak juga tergantung mood, contoh kalau dapat naskah yang diminta penerbit pasti akan saya usahakan menggarapnya sesuai tegat waktunya. Supaya mood saya stabil biasanya saya menjaga hubungan dengan penerbit (saya senang diskusi dengan redaksi atau editor saya baik di bbm, telepon, atau inbox, mungkin saya tergolong penulis yang ramai kali yah hehehe), juga hubungan sesama penulis, membaca buku, selancar di dunia maya, diskusi dengan suami dan jalan-jalan bersama keluarga. Semua itu seperti infus energi yang besar buat saya.

Pernah terserang yang namanya writer’s block nggak mbak? Bagaimana cara mengatasi writer's block menurut Mbak Eni?

Jawab:
Writer’s Block atau bahasa kerennya buntu ide, krisis abjad untuk ditulis (bukan mood yah, kalau Writer’s Block menyerang walau mood menggebu..kita gamang apa yang mau ditulis) parahnya bisa membuat penyakit akut penulis hilang dari peradabannya... hahaha. Ini sering banget saya alami, apalagi kalau melihat hampir semua kasus di dunia sudah ditulis dengan keren dan jadi buku yang beredar dimana-mana. Walau sebenarnya APA PUN ITU YANG KITA TULIS, pasti akan terbaca berbeda karena setiap penulis PUNYA KARAKTER.
Bagaimana cara saya mengatasi Writer’s Block secara pribadi:
-          Menulis kisah perjalanan atau jurnal saya sendiri, kebetulan saya hobbi berat jalan-jalan
-          Menulis di blog apa saja yang ada di kepala, apa saja yang saya lihat dan alami
-          Menulis cerpen
-          Diskusi sama sahabat di dunia kepenulisan
-          Kembali lagi ke habitat baca buku

Jika dihadapkan pada dua pilihan, mana yg mbak Eni pilih: menjadi penulis idealis yg menjadi salah satu agen penyampai kebaikan, tp buku tidak terlalu laris, atau menjadi penulis yg semata menuruti selera pasar, dan buku jadi best seller?

Jawab:
Waduh! Pertanyaan yang sulit nih, hahahaha. Baiklah, karena ini JIKA maka untuk saat ini saya memilih menjadi penulis idealis yang menyampaikan kebaikan meski ada beberapa resiko, seperti buku tidak terlalu laris.

Mbak Eni berani mencoba berbagai genre. Tujuannya apa? Mengejar pasar atau ingin menjajal kemampuan diri?

Jawab:
Cari duit, itu tujuan saya dulu pada beberapa buku dengan genre horor, komedi, teenlit sebab dulu 2007-2009 sekitar 3 tahun saya dikontrak penerbit untuk menulis buku yanng akan di pasarkan di seluruh cabang Indomart dan Alfamart.

Berapa lama riset yang dibutuhkan untuk satu novel? Adakah buku pendamping selama proses menulis tersebut?

Jawab:
Tergantung yah, seperti buku saya "Bersandarlah di Bahuku" itu kan mengambil backgound kehidupan priyayi Yogyakarta, membahas juga tentang batik. Kalau tidak salah riset saya sekitar 6 bulan, sebab membaca saja buat saya tidak cukup. Membaca saja seperti hanya mengandalkan imajinasi tidak hidup, harus ada seseorang yang tepat harus membantu saya dalam hal itu seperti salah satu family keraton Yogyakarta yang akhirnya menjadi pembimbing saya dalam novel Bersandarlah di Bahuku. Pembimbing disini mulai dari memberi info tentang kehidupan ningrat Yogya keturunan keraton, menerangkan istilah gelar dalam keluarga keraton Yogya, sampai menjadi pembaca pertama naskah softcopy saya.

Begitu pun dengan Rainbow dimana saya akhirnya mewawancarai seorang teman yang asli orang Batak hehehehe. Intinya beberapa novel atau buku saya yang memang butuh riset pasti saya berusaha maksimal meski pasti masih banyak kekurangan.

Untuk buku pendamping, sejauh ini belum ada karena kebanyakan riset dari dunia maya, sumber hidup (teman, kenalan atau narasumber lainnya), dan terjun langsung seperti dalam buku Soul Travel In Baduy.

Ada penulis yang bingung tentang mengembangkan konflik dalam sebuah cerita, minta tips dari Mbak Eni dong, bagaimana caranya mengembangkan konflik dalam sebuah cerita?

Jawab:
Hahaha, itu sebenarnya juga kasus yang sering saya alami dan membuat kruwel.
Tips saya secara pribadi;

-          Jangan menutup diri untuk menjadi pendengar yang baik, sebab cerita kisah seseorang itu adalah contoh real mengenai timbulnya konflik dan bisa jadi sampai pada ending.
-          Peka pada kehidupan kita sendiri, pasti kita pernah mengalami sebuah peristiwa dengan konflik dan penyelesaiannya, ini bisa kita rangkum untuk menjadi ide meski kisahnya tidak benar-benar seperti yang kita tulis.
-          Banyak membaca buku, setiap buku punya keunikan dalam mengembangkan konflik, dan ini lah puncak yang paling diperhatikan ‘editor’ ketika menerima naskah kita. Dengan banyak membaca otomatis kita akan semakin cerdas dalam pengembangan konflik yang akan kita tulis sehingga setiap konflik yang kita buat itu tidak terkesan ‘lebay’ atau mengada-ngada seperti di sinetron Indonesia kebanyakan.
-          Buat sinop lebih dahulu, itu penting banget dalam setiap calon-calon naskah yang akan saya tulis jadi buku. Di sinop ini saya membuat ringkasan konfliknya berdasarkan runutan cerita untuk kemudian dikembangkan ketika naskah benar-benar saya tulis untuk jadi buku

Bagaimana cara mba Eni menangkap ide-ide di sekitar menjadi bahan tulisan? Apa Mba Eni berminat menulis buku anak?

Jawab:
Dengan sedikit ceriwis dalam setiap perjalanan saya, dengan lebih mengamati dan peka dalam segala hal. Semua yang ada dalam kehidupan kita itu sebenarnya ide-ide yang menarik. Oya, dalam menulis naskah itu terutama novel kita butuh banyak tokoh dengan karakter beragam (banyak, mungkin juga terjadi pada saya, adanya kembar karakter dalam setiap novel kita tanpa disadari, sebab hampir semua orang punya tokoh idola dalam imajinasinya. Nah, ini sebenarnya amat mengganggu saya dalam membaca beberapa buku dari satu penulis, seolah-olah saya seperti membaca satu tokoh yang mengalami berbagai cerita), untuk meminimalkan hal itu, jangan lepaskan mata anda dari orang-orang di sekitar karena fisik dan karakter mereka bisa kita jadiakan acuan . Saya sendiri masih tahap belajar dalam hal ini J

Buku anak?
Ehmmm... Sebenarnya dari Lintang baby dongeng-dongeng penghantar tidurnya itu karya saya sendiri, hahaha ibu yang narsis. Saya mengetiknya, print, jilid di jasa fotocopy, kalau tidak salah ada sekitar 15 dongeng klasik yang beberapa sudah dibacakan dalam berbagai kegiatan dunia anak-anak, salah satunya dibacakan oleh Rumah Cahaya Depok.

Sampai hari ini sudah berapa banyak buku yang Mbak Eni tulis?

Jawab:
Serius bukan mengada-ada pada bagian pertanyaan ini membuat saya terdiam sejenak dan meminta bantuan suami saya buat menyebut beberapa judul buku saya. Bukan karena banyak, buku saya tidak terlalu banyak tapi isi kelapa saya yang kadang terlalu teledor menginputnya.

Bagaimana cara Mbak Eni mencarikan jodoh buat tulisan-tulisan Mbak Eni? Mencari penerbit maksudnya.

Jawab:
Awal nerbitin tahun 2003 ya dengan kerja keras menembus sesuatu yang saat itu masih asing sekali, tidak ada bantuan info seperti yang terjadi sekarang ini. Info penerbit yang butuh naskah atau pun para jajaran orang redaksi yang sekarang lebih terbuka dengan mudah di jumpai di dunia maya. Penerbit juga tidak semeruyak sekarang dengan membuka aneka lini.

Bener-bener lebih bekerja keras  lah dari sekarang, tapi kalau sekarang-sekarang ini biasanya saya diminta sama penerbit meski sejujurnya... saya jarang menuhi karena tidak sesuai dengan isi kepala, saya mulai membatasi genre yang saya tulis sekarang. atau sesekali saya ngajuin naskah seperti jalur penulis umumnya, masih mengalami penolakan juga. Tapi santai sajalah, karena selama perjalanan nulis ini tidak ada naskah yang saya menjombles, hanya soal waktu aja J

Ada beberapa novel mbak yang difilmkan? menurut Mbak Eni, apakah kekuatan dari tulisan Mbak Eni dan apa kelemahannya?

Jawab:
Satu, Toilet 105
Kekuatannya apa yah, kalau menurut saya sendiri belum ada tapi kalau dari pendapat pembaca dan redaksi katanya UNIK, entahlah.
Kelemahannya..Duh, EYD saya parah.

Novel yg difilmkan itu menurut mbk Eni krn faktor apa? Emang krn dilirik keunikan di dalam novel yang membuat pasar tertarik atau sekadar hoki atau ada faktor lain?

Jawab:
Karena novel itu bagus (walau filmnya jelek karena ada adegan yang ajaib-ajaib, dan jadi pelajaran buat saya kelak. Membaca ulang segala perjanjian agar naskah kita tidak diobok-obok terlalu jauh).
Kenapa Toilet 105 saya bilang bagus?

Ini adalah novel horor pertama yang terpaksa banget saya tulis karena permintaan penerbit, sebab saya penakut dan tidak suka nonton atau baca horor (kecuali misteri semacam sejarah yang mengandung unsur ghaib dsb, suka banget seperti: kisah peninggalan pedang Diponegoro misalnya. Meski ada ghaibnya suka).

Bayangkan menulis dengan rasa takut dan apa yang saya tulis ide dari sebuah kisah nyata yang saya adaptasi? Menurut pembaca, yang baca buku itu jadi takut ke kamar mandi.
Novel ini difilmkan bukan kita yang mengajukan, tapi pihak MP Plus yang mencari saya karena karena buku itu.

Berhubung kayaknya banyak banget genre yang dilahap mba eni, sebenernya mba eni paling ngerasa enjoy di genre yang mana? Trus buat next projek, adakah genre yg blm pernah ditulis dan ingin ditulis mba eni?

Jawab:
Pertanyaan sulit yah (mikir dulu)... di genre roman domestik lumayan enjoy. Ada, genre yang nyastra dengan mengangkat cerita berlatar nusantara. Ini PR sulit dan jadi impian saya.

Saya tertarik dengan judul novel mbak eni yg berjudul sunyi. Tapi mengapa mbak eni memutuskan untuk menulis secara duet padahal secara kemampuan mbak eni mampu menulis secara solo? Dan ide cerita sunyi dari mana mbak eni dapatkan?

Jawab:
Bagian dari besanan hati dengan sesama teman penulis hehehe. Idenya melintas begitu saja saat itu.

Berapa lama proses penulisan novel Sunyi itu? Apa kendala paling berat, mengingat keduanya adalah penulis kawakan..? Apa suka dan dukanya menulis secara duet apakah sama bahagia dan puasnya dengan menulis secara solo?

Jawab:
Karena patner duet saya senior yang makanannya DL dan naskah heheheh, jadi mungkin karena beliau saya jadi terbawa arus kerjanya. Sebab berapa kali nyoba duet ada yang 5 lembar saja sebulan, kalau dengan Ifa Avianty ini totally nyaris dua bulan yah SUNYI kelar.

Karena kita berdua IRT tanpa ART dan bener-bener dalam arti mengurus segala hal domestik itu sendiri, jadi kendalanya seputar urusan itu saja, sebab saya berusaha konsist menggarap SUNYI tanpa tengok kanan-kiri dalam arti selingkuh untuk menggarap yang lain.

Suka dukanya... kesabaran untuk tidak egois dalam menguasai cerita, penerimaan segala hal pemikiran teman duet kita, rasa tempo seliro jika salah satu ada yang molor karena sikon masing-masing. Sukanya, semakin mengenal teman duet kita dan naskah cepat selesai tanpa harus terbebani 100%.

Penasaran sekali dengan duet penulis ini, jadi kapan Sunyi terbit?

Jawab :
Sunyi sudah terbit tanggal 15 November dan terdapat di semua toko buku. Kalau mau beli lewat online shop saya bisa ke Omah Buku: www.omahbukumurah.blogspot.com.

Sunyi bercerita tentang apa, Mbak?

Jawab :
Sunyi duet aksara saya dengan Teh Ifa Avianty bercerita tentang tiga wanita yang melewati takdirnya masing-masing, melewati dengan keinginan merubah pada takdir yang lebih baik: Melati yang memiliki pasangan hidup yang tertutup, Malaya perawan tua yang dipinang pria beristri dan Soraya wanita bersahaja yang memiliki rahim tandus

Apa sudut pandang spesial dari buku sunyi? Sehingga buku ini menjadi berbeda dengan buku lain?

Jawab:
Menurut saya tidak juga special yah, tidak tahu juga nanti pembaca yang menilai. Cuma cara saya dan Ifa Avianty menyajikan dengan mengambil satu sisi HATI WANITA jadi bisa jadi berbeda hehehehe

Kira-kira ada rencana menuliskan kisah nyata mbak dan keluarga menjadi sebuah buku fiksi (atau non fiksi ?), ya mirip-mirip buku inspiratif atau novel berbau autobiografi gitu.

Jawab:
Beberapa kali ada yang menawarkan dan menyarankan, tapi untuk saat ini TIDAK. Pertimbangannnya saat ini adalah:  kami tidak cukup untuk dijadikan acuan inspiratif, kedua saya tidak suka bagian dalam diri keluarga saya orang tahu hehehe. Setidaknya saya terbuka tapi tidak over lose.

Setelah novel Rainbow dan Sunyi, rencana ke depannya dalam dunia tulis menulis apa lagi, Mbak?

Jawab:
Ada beberapa duet bareng temen, tapi rencana buat novel solo saya berikutnya... Insaallah menulis novel seperti yang saya harapkan.    

Bagaimana cara bagi waktu mba eni antara kesibukan domestik rumah tangga, ngasuh anak, olshop sama nulis?

Jawab:
Sebenarnya saya tidak punya management waktu seperti pekerja kantoran, sebagai IRT waktu saya tidak bisa dipastikan kapan sibuk banget atau kapan leyeh-leyeh. Pandai-pandai mengambali celah waktu. Misalkan: Anak saya yang sulung jam 6.15 WIB sudah sekolah lalu si kecil jam 9 pagi. Jeda disaat anak-anak di sekolah ini saya bisa buat masak, beberes, atau menyicil tulisan, online shop (karena online shop ini sebenarnya dihandle suami baik pengepakan paket, urusan dengan distributor sampai urusan ekpedisi, saya hanya bantu-bantu promo di akun saya saja). Atau malam saat anak-anak tidur, atau disaat anak-anak bersama ayahnya, tidak menutup juga saat kumpul bersama di ruang tamu saya sambi ngetik naskah atau online shop.

Terakhir, apa pesan Mbak Eni untuk para pembaca blog BaW?

Novel Sunyi
Eni Martini dan Ifa Avianty
Menulis saja apa yang mau kamu tulis, jangan pernah berpikir sisi terbaik. Tapi berpikir bagaimana kamu bisa menulis dengan baik.

Oke, terima kasih buat waktunya untuk interview kali ini, Mbak Eni. Juga terima kasih buat para pembaca blog BaW yang sudah membaca hasil interview ini. Nantikan interview berikutnya dengan para penulis lainnya ;)

Buat kamu yang mau ngedapetin novel SUNYI, secara GRATIS. Ayo ikut kuis ini:

  • Follow blog BAW
  • Follow Twitter @BawCommunity
  • Tweet kalimat ini: "Saya ingin novel #Sunyi dari @BawCommunity-Link Postingan ini.
  • Ditunggu sampai tanggal 7 Desember 2013
  • Satu pemenang yang beruntung akan dimention melalui twitter @BawCommunity.




37 comments:

  1. Hairi Yanti keren mengemas pertanyaan-pertanyaannya.
    Mbak Eni sukses always, ya!

    ReplyDelete
  2. yeaaaah... akhirnya keluar juga author of the month yang ditunggu2.
    makasih udah jawab pertanyaan2nya yaa mba eni. senang sekali karena penulis bisa berbagi tips en motivasi ke pembaca lewat momen ini...


    dengan seabrek kegiatan, mba eni masih bisa menyempatkan diri menulis. saya juga harusnya bisa nih. sukses terus yaa mba eni... ^^

    Salam,
    Zahwa az Zahra aka Ai XD
    @akuaisemangka

    ReplyDelete
  3. thread paling kutunggu :D
    apalagi ada kuis gratisannya :p
    bunda Eni saya ingin menjadi sepertimu <3

    udah ikutan kuisnya di twitter @NyiPeDe

    suka kalimat ini : Menulis saja apa yang mau kamu tulis, jangan pernah berpikir sisi terbaik. Tapi berpikir bagaimana kamu bisa menulis dengan baik.

    thanks for sharing bunda Eni, juga buat BAW, maju terus BAWERS

    ReplyDelete
  4. Ikutan kuisnya :)
    WOw, suka dengan cara Mba Eni membagi waktu. Dan emang selalu kagum dengn IRT yang juga seorang penulsis (yg masih calon IRT kayak saya malu ngga maju2 nulis buku)
    Keren pokoke, selamat dan semangat mba Eni.

    hampir lupa, ini akun twitterku: @NaNahlatulazhar

    ReplyDelete
  5. Done!
    Smoga makin Sukses mba Eni:)

    ReplyDelete
  6. @Nila: Aamiin, makasih (Mba Hairi emang keren, cocok jadi host nih ^_^)

    @Zahwa: gada yang ga bisa, yang ada mau bisa atau ga :D

    ReplyDelete
  7. @Nyi: sama-sama Nyi, sukses juga buat Nyi yah ^_^

    @Nahla: Sip, mari menulis dan jadi ibu-ibu hahahhaha

    ReplyDelete
  8. Aku mau belajar nulis hororrrrr...
    kerennnn

    ReplyDelete
  9. jadi penakut dulu hahahaha, dijamin rohnya dapet saat nulis

    ReplyDelete
  10. aku dah ikutan kuisnya.. moga si fortuna menjalankan tugasnya dgn baik untukku..:)
    pingiiin bangeet novel Sunyi.. secara dua2nya penulis favoritkuuu..

    ReplyDelete
  11. HAH, sungguhankah aku favoritmu....*rada bengong

    ReplyDelete
  12. keren banget mba Eny.... lihat itu.... naskahnya ngga pernah ada yang jomblo, alias selalu ketemu jdoh penerbitnya uhhh mupeng

    ReplyDelete
  13. siang aja bisa berjodoh dengan malam meski tidak pernah saling bertemu, Insallah akan selalu ada pasangan di dunia selama kita menyakini dan membuka pintu masuk dari segala penjuru :D

    ReplyDelete
  14. asiiik ada pertanyaan aku, tapi jawaban Mbk Eni dikit banget hehhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, memang begitu jawabannya mba Naqi, mau ditambahin dengan nyuplik lagu apa yaa..kira-kira yang cocok :D

      Delete
  15. Penasaran sama yang ini
    'tiga wanita yang melewati takdirnya masing-masing, melewati dengan keinginan merubah pada takdir yang lebih baik: Melati yang memiliki pasangan hidup yang tertutup, Malaya perawan tua yang dipinang pria beristri dan Soraya wanita bersahaja yang memiliki rahim tandus...'

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga nanti berjodoh dengan bukunya ^_^

      Delete
  16. wiiihh, penulis keren ini mah
    semoga bisa mengikuti jejaknya :)

    ReplyDelete
  17. selalu deh saya ini, kalau habis ngobrol atau cuma saling komen sama mba Eni suka dapet energi baruuu ... thanks mak admin dan author of the month :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, beneran deh ini malah bikin saya 'terpaku'...mampu memberi energi, terima kasih mba Tuti..kalimatmu juga memberiku energi untuk memberi yang baik dari aksara yang terangkum di jemari

      Delete
  18. ada semangat yang saya serap, menjadi ibu yang menulis. terima kasih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama...bahagia selalu setiap tahu bahwa saya bisa memberi semangat

      Delete
  19. mmmm. manggutmanggut abis baca. ternyata begitu ya. Mbak Eni Martini ini just one of us. hanya ibu2 biasa seperti kita, eh.. saya. Tapi dari semua kesederhanaan dalam memahami keinginan dan tujuan, beliau ini bisa melahirkan banyak karya keren. dan saya baru ngeh (kemana aja ya kemaren), kalo saya lumayan udah baca nenerapa tulisan Mbak Ifa Avianti. dan aku juga suka gayanya bertutur. jadii kalo dua orang ini gabung bikin novel, I think it's a must read book lah.. Saya nggak mau banyak komentar yg muji2 deh. Pasti sobat semua udah tau. Tapi setuju, wawancara ini seperti jadi trigger buat kita2. Mbak Eni, pengen banget punya novelnya nih
    Terakhir, saya bersyukur karena dikenalin sama komunitas ini oleh jeng Tuti Adhayati. Meski belum tentu bisa bikin novel sekeren temen2, minimal koleksi tulisan nambah lagi. Alhamdulillah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mba Riani ^_^
      lah, saya memang ibu-ibu biasa yang ga biasa adalah isi kepala saya yang ingin meraba semua alam heheheheh*ngaco ah

      Delete
  20. Duh, semoga nular semangat mbak Eni.
    Jadi, sebenarnya gak papa ya mbak kalau niatnya duit, hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.. YA JIKA ITU DEMI SESUATU YANG JUGA SEDANG KITA PERJUANGKAN, tapi jangan jika itu hanya sekedar untuk menyenangkan diri. kondisi saya tahun-tahun itu cukup parah sehingga aksara saya jadikan uang walau diluar isi kepala. Untuk saat ini Insaallah, karya saya hanya untuk mengisi jiwa saya...Insaallah, semoga tetap terjaga seperti ini

      Delete
  21. mak eni martini keren banget, membaca semua jawabannya juga mantap. Senang sekali semoga saya semakin semangat menulis.salam kenal mak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga alhamdulillah kalau tertular semangatnya ^_^

      Delete
  22. Mbak Eni hebat, bisa nulis macam2 genre. Dr yg konyol sampai yg romantis. Suka dg kesederhanaan dan kerendahan hati mb Eni..... thanks mb Hairi Yanti. Isi wawancaranya byk ilmunya

    ReplyDelete
  23. wah mba seorang penulis sukses yah???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, moga-moga kabul doanya agar saya jadi penulis sukses ^_^

      Delete
  24. waw. ngefans saya sama anda mbak... :)

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog BaW. Mohon kritik dan komentar yang membangun untuk setiap postingan ;)