Tuesday, October 15, 2013

[Review Day] Yang Tersimpan di Sudut Hati


Judul: Yang Tersimpan di Sudut Hati
Penulis: Ade Anita
Penerbit: Quanta, September 2013
Peresensi: Marisa Agustina

Membaca sebuah tulisan yang mana kita mengenal penulisnya itu kadang cukup menggelitik. Demikian pula dengan novel Yang Tersimpan Di Sudut Hati karya Ade Anita ini. Saya mengenal beliau sebagai salah satu seniordi grup BaW. Interaksi bersamanya melalui komentar-komentar di grup membuat saya (merasa) mengenali cara bertutur beliau dalam dunia nyata. Ditambah lagi saya pernah sekali menyaksikan beliau diwawancarai di televisi, sehingga memperkuat gambaran saya tentangnya. Akhirnya ketika saya membaca novelnya,saya serasa sedang berada di hadapannya, didongengi. Bukan sekadar cara bertuturnya yang khas, penuh dengan detil, namun seolah saya bisa mendengar suaranya mengalun menceritakan kisah dalam novelnya.

Berbicara soal detil yang kerap menjadi ciri khasnya ketikamengungkapkan sesuatu, saya cukup terpana ketika menemukan beberapa diantaranya dalam novel ini. Misalnya saja, ketika diceritakan ada salah satutokoh tengah memetik kangkung. Ia menuliskan bahwa memetik kangkung yang benaradalah dengan mengambil sebagian batangnya, bukan sekadar daunnya saja. Iniadalah demi efek renyah sayur kangkung nantinya.

Selain kedetilan, dalam novel ini saya juga menemukanbeberapa hal yang baru saya ketahui. Seperti misalnya, bahwa sehabis mimpiburuk baliklah bantal kepalamu. Juga tentang cara memetik buah durian yangbenar, sungguh pengetahuan yang baru.

Kisah novel YTSH ini adalah tentang keluarga seorang gadisPalembang bernama Solasfiana yang terusir dari kampungnya. Penyebabnya adalahkeluarga yang baru saja ditinggal mati oleh sang pemimpinnya ini dituduhmelakukan praktik ilmu hitam. Mereka dituduh mengirim santet kepada wargakampung. Terbukti dengan lontaran bola api yang sering terlihat dari arah rumahtempat mereka tinggal. Padahal keluarga ini statusnya bukan pemilik rumahtersebut. Mereka tinggal di sana karena rumah tersebut adalah rumah keluargasang suami.

Jujur saja, penggambaran penulis mengenai praktik santet,yang bagaimanapun masih saja dilakukan masyarakat, membuat saya cukup merindingmembacanya. Belum lagi ada dua peristiwa yang berujung dua tokohnya meninggal.Kedetilan penulis dalam deskripsi membuat kejadian tersebut terbayang-bayangdalam benak saya. Ngeri.

Berbicara soal kekurangan, sepertinya saya sulit menemukanapa kekurangan novel ini. Hanya di dua bagian saja yang membuat saya sedikitbertanya-tanya soal setting waktu dalam novel ini. Yang pertama adalah ketikaSolasfiana dan timnya memenangi kompetisi Cepat Tepat IPA, ada satu adegan dimana mereka berfoto dengan ponsel. Untuk waktu dan tempat kejadian yang diambil sebagai latar, mungkinkah hal itu? (Saya sempat menemukan dua penyebutan tahun,2004 dan 1990an) Kemudian ada sebuah ungkapan kegemasan sahabat Solasfianayaitu Sofi, tentang hubungan Fiana dengan seorang kawan sekelasnya, Sofyan.Dalam satu dialog, Sofi sempat berkata, "Ih lucuu, itu unyu banget."Nah, unyu itu kembali membuat saya bertanya kapan sebenarnya kisah ini terjadi?


Lantas bagaimana perjuangan Fiana dan keluarganya untukbertahan hidup ketika terusir dari kampung halamannya? Akankah mereka survive?Temukan jawabannya dalam novel apik yang sarat dengan unsur lokalitas bangsaini.

1 comment:

  1. ah, sekarang baw update yak.. kereeen (y)

    sepertinya menarik, apalagi bagian metik durennya. bukannya nunggu jatuh sendiri ya mbak?

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog BaW. Mohon kritik dan komentar yang membangun untuk setiap postingan ;)